TIDAK INGIN FRUSTASI KARENA "BELEK"

SUDAH hampir satu minggu, yang awalnya, mataku hanya terasa mengganjal, kemudian menjadi memerah. Sampai catatan ini aku tulis, mata ku masih mbrebes mili, sedikit bengkak dibagian kelopak mata bagian bawah. Kalo melihat di kaca, terlihat sipit sebelah. Mirip boy band korea walau hanya bagian mata. Sebelah pula. Malah, Dosen pembimbingku mengira aku ini habis jotosan. Walah

Setelah ibuku sembuh lalu Bapak yang mengalami mata belekan. Jadi kini sekeluarga tidak hanya aku saja yang belekan. Hampir sekeluarga, karena adik bungsuku yang masih usia 4 tahun juga ikut ketularan. Hanya adik perempuanku saja yang tidak. Karena dia sekarang kuliah dan kos di jogja.

Sebenarnya mata belekan yang aku alami sama sekali tidak mengganggu aktivitasku. Aku pun tidak malu keluar rumah dengan mata merah. Hanya saja, virus mata belekan sangat mudah menular. Karenanya aku mengurangi kegiatan di luar rumah. Begitu pun hobi futsal yang sangat aku suka harus aku korbankan.

Tapi aku tidak menyesali. Justru banyak hikmah yang aku dapatkan. Tuhan memang benar-benar sedang baik kepadaku. Air mata yang mbrebes membuatku  merenung, ternyata aku senang sekali senda gurau. Sering juga berlebihan. Aku sering ngoceh tidak jelas dan sia-sia.  Aku banyak melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat. Aku keseringan memanjakan diri.

Tuhan kali ini benar-benar ingib mengingatkanku. Aku diminta Nya untuk berhenti sejenak. Aku diminta untuk melihat dan mengingat Nya. Bukan dengan mata ku yang sedang belekan ini. Tapi ke-maha cerdas-an Nya lah dipilih mataku sebagai simbol agar aku melihat Nya dengan qalbu.

Hati ku diajak Nya agar diisi dengan kembali mengingat Nya.
Hatiku diajak agar aku kembali peka dengan keadaan dan kemanusiaan.
Up