Tampilkan postingan dengan label Kliping. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kliping. Tampilkan semua postingan

SMA 3 Sragen


Tiga tahun telah berlalu, kita lalui bersama di SMA 3 Sragen dengan berjuta kenangan yang masih terus membekas. Hanya obrolan masa itu yang menjadi topic pembicaraan ketika kita bertemu. Sebagai pelepas rindu akan ingatan teredahulu. Sekarang kita telah berpisah dengan tekad masing-masing. Mencari jati diri dan menggapai impian.

SMA 3 Sragen, sebuah SMA di kota kecil bernama Sragen. Telah menjadi pilihan kita untuk menuntut ilmu dan berbagi kasih bersama-sama selama 3 tahun. Entah itu pilihan kedua atau ketiga kita bersekolah di sana, tetapi yang lebih penting adalah kita telah melaluinya dan melukis kenangan bersama-sama. Tak akan pernah terlupa selama-lamanya.

SMA 3 Sragen atau yang lebih sering disingkat dengan Smanga, belokasi di Jl. Dr. Soetomo no. 3, depan techno park sragen, besebelahan dengan Dinas Pendidikan Kabupaten di sisi kirinya dan SMK 2 Sragen di sebelah kanannya. Lokasi Smanga merupakan lokasi yang strategis karena akses menuju ke sana sangat mudah. Kita dapat naik bis atau angkot yang melewati jalan Raya Soekowati dan berhenti di Halte Beloran, atau cukup bilang turun di Taman Batas Kota, memang di sana terdapat taman kota yang asri dan hijau. Dilanjutkan dengan jalan kaki ke utara yang tidak begitu jauh.

SMA 3 Sragen merupakan kawasan dengan area yang luas. Dan merupakan sekolah dengan bangunan paling luas di antara sekolah-sekolah lain di kabupaten Sragen. Oleh karena itu, Smanga sering digunakan untuk pertemuan-pertemuan antar sekolah dan juga pertemuan formal lainnya. SMA 3 juga dipakai untuk Universitas Terbuka (UT) di sore hari ketika jam sekolah telah usai.

Sarana pendukung

Sarana-sarana yang mendukung pembelajaran siswa-siswi dan juga para Guru dan Karyawan sudah cukup memadai. Di antaranya terdapat :

Gb. ruang kepala sekolah

Ruang Kepala Sekolah yang terletak di bagian paling depan gedung SMA 3 dan letaknya yang di tengah-tengah memudahkan kita untuk mencari informasi yang berkaitan dengan kepala sekolah serta memudahkan pula bagi orangtua wali atau masyarakat umum yang ingin mencari Bapak Kepala Sekolah kita yang tercinta.

Gb. Ruang kelas

Posisi ruang kelas yang telah diatur sedemikian rupa menjadikan proses pembelajaran anak didik semakin efisien. Jarak yang dibuat antar pintu kelas yang satu dengan yang lain membuat KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) tidak terlalu terganggu oleh kebisingan-kebisingan kelas tetangga jika sedang ada jam kosong.

Gb. Lapangan upacara
Lapangan upacara yang luas dan tertata serta terwat dengan baik membuat para siswa nyaman ketika melaksanakan upacara bendera setiap hari senin.

Gb. Lapangan Basket+Tennis
Adanya lapangan basket serta lapangan tenis cukup mendukung kegiatan olahraga para murid dan guru. Tidak hanya lapangan basket dan tenis saja yang ada di Smanga, tetapi di sisi sebelah timur masih ada lapangan Volley dan Sebelah selatannya juga terdapat lapangan sepak bola.

Gb. Masjid Al-kautsar SMA 3
Guna memenuhi kewajiban kaum muslim keluarga Smanga terdapat pula Masjid yang lumayan besar. Di sebelah dalam masjid juga terdapat 2 kamar yang boleh digunakan oleh siswa yang tidak kos. 

Gb. Aula
Ruang aula Sma 3 sragen merupakan ruangan yang paling besar di antara bangunan yang lain. Ruangan ini adalah ruang serba guna, biasanya untuk pertemuan-pertemuan dan untuk ekskul latihan Drama. Juga bisa digunakan untuk bermain badminton di dalamnya.


Gb. Kantin
ini tempat bolos dan tempat nongkrong

Gb. Kamar Mandi

Mungkin gambar-gambar di atas sudah cukup mewakili gambaran bangunan yang ada di SMA 3 di samping sarana yang lain seperti sepeda motor siswa, parkir guru, laboratorium komputer, lab. Kimia, Fisika dan Biologi. Ada juga koperasi siswa, ruang OSIS dan UKS.

Kejadian-kejadian

SMA 3 Angker??

Sebagian besar bangunan-bangunan di SMA 3 adalah bangunan tua,. Dahulu SMA 3 merupakan SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Karena sekarang kebijakan pemerintah telah berubah yang mengharuskan seorang guru harus minimal lulusan S1, maka SPG Sragen sekarang bermetamorfose menjadi SMA Negeri 3 Sragen. Menjadikan SMA 3 sebagai salah satu SMA Negeri Kota.

Bangunan-bangunan itu sebagian ada yang dianggap anker seperti toilet yang berada di barat koperasi. Toilet terdapat sumur yang sudah tidak digunakan lagi, yang konon sumur tersebut dulu pernah kejadian ada siswi yang gantung diri. Entah apa sebabnya. Dan sekarang jika ada kegiatan malam di sekolah, misalnya Persami. Maka kamar mandi itu selalu ditutup agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Ada cerita juga dari guruku bahwa dahulu ada lukisan penari bali yang katanya sekarang di simpan di gudang pojok selatan sekolah ini. Konon penari dalam lukisan itu bisa menggerakkan matanya.

Hal yang nyata aku lihat selama aku sekolah di SMA 3 adalah sering terjadi kesurupan pada siswi-siswi. Ada seorang siswi yang mungkin menjadi langganan di SMA ini. Tidak begitu tahu kenapa bisa terjadi demikian.

Tingkah polah Kita??

Selalu ada saja tingkah polah anak SMA. Begitu juga dengan anak-anak SMA 3. Kita tentu masih ingat dengan suatu kelas yang kepergok main judi (maen Remi) pada saat jam kelas mereka kosong, sedangkan kelas sebelah nya sedang ada gurunya. Karena kebisingan kelas tersebut guru dari kelas sebelah merasa teganggu. Kemudian beliau keluar dan bermaksud untuk mengingatkan kelas yang terdengar rebut itu. namun apa yang dia lihat ternyata di belakang kelas ada sekelompok siswa sedang asyik-asyiknya bermain kartu. Kejadian ini tentu masih teringat dengan baik. Bahkan bagi anak-anak itu karena mereka langsung di bawa ke Ruang BP.

Mungkin itu salah satu kejadian yang terus teringat dibenak kita. Tapi banyak rahasia umum tentang pelanggaran-pelanggaran seperti itu yang tidak diketahui oleh guru-guru kita. Ada yang merokok, berjudi, membawa HP, dan bahkan mabuk-mabukan. Ada-ada juga tempat yang mereka gunakan sehingga tidak ketahuan.
SMA 3 tidak Aman??

Banyak peraturan-peraturan baru ketika kita dulu masih sekolah di sana. Peraturan tidak boleh membawa HP ke sekolah mungkin menjadi peraturan yang sangat mengesalkan. Asal mula kenapa siswa-siswi tidak boleh membawa HP ke sekolah adalah menganggu saat sedang KBM ( Kegiatan Belajar Mengajar). Ada murid yang tidak focus dengan pelajaran yang sedang berlangsung karena sedang sibuk dengan Handphone-nya. Entah sedang SMS-an, Chatinga-an, main Game, dengerin MP3, atau yang lain.

Kebijakan kepala Sekolah ini tidak menyurutkan para siswa untuk berhenti membawa HP ke sekolah. Malahan hal ini membuat sikap para murid semakin kreatif. Pada hari senin misalnya, siswa-siswi sering menitipkan HP milik mereka ke kantin, ada juga yang menyembunyikannya di tempat yang tidak terduga. Karena hari senin saat upacara bendera sering dilakukan razia di kelas-kelas oleh para guru untuk mengetahui siapa saja yang membawa HP.

Ada juga murid yang takut membawa HP ke kelas. Mereka meletakkannya ke Jok sepeda motor yang mereka rasa aman. Namun tak pernah disangka mungkin ada siswa yang nakal mencoba untuk mencuri HP yang diletakkan di Jok motor anak-anak. Sudah banyak anak yang kehilangan tetapi pelakunya belum juga diketahui. Sekolah juga tidak bisa membantu karena ini merupakan tanggung jawab siswa sendiri.
Aku sendiri merasa kecewa dengan sekolah karena apa pun alasannya itu merupakan bentuk tindakan criminal. Dan pelakunya mungkin adalah anak-anak didik dari sekolah kita ini. seharusnya sekolah malu ada siswa-siswinya yang menjadi seorang criminal. bukan berarti sekolah melepas tanggung jawab begitu saja. Dengan alasan sekolah sudah melarang membawa HP ke sekolah.

Prestasi

SMA 3 terkenal dengan prestasinya dalam hal Olahraga. Banyak kejuaraan-kejuaraan yang diraih oleh teman-teman kita sehingga menambah harum nama SMA 3 kita ini. seperti sepak bola, volley, basket, senam, lari, dll.

Dalam hal lain dibidang akademisnya, tingkat prestasi Smanga masih jauh ketimbang SMA-SMA kota lainnya. Hal ini seharusnya juga menjadi perhatian bagi sekolah. Dengan meningkatnya prestasi akademis akan membuat sekolah kita akan semakin berkompeten.

Smanga sudah menjadi pilihan kita. Tidak ada penyesalan kita bersekolah di sana. Kini kita hanya bisa mengingatnya dengan kenangan-kenangan yang masih terus tertanam dalam benak kita. Dan pada akhirnya semoga tulisan saya ini cukup mewakili penggambaran dari SMA 3. Serta sudah memuaskan diri saya pribadi dan teman-teman semua. thanks


to be continue . . .

diposting di catatan facebook 22 Januari 2010

Hikmah Sakit

ilustrasi: googling
Jumat. 23 November 2012. Pukul 3 pm WIB. Saya sudah sampai di rumah. Saat perjalanan baru sampai Jaten. Dan lagi-lagi di Jaten. Ketika saya pulang hujan turun. Saya memakai mantel. Sedikit basah di kaki dan tangan. Ketika memasuki wilayah Sragen hujan mulai reda. Mantel masih saya pakai sampai rumah. Untuk mengurangi terpaan angin. Dan dingin.

Jumat malam. Belum genap pukul 8 pm WIB. Mata mulai mengantuk. Saya putuskan untuk istirahat sebentar di kamar. Sambil membaca slide periklanan. Bahan ujian susulan psikologi periklanan. Baru tiga slide. Tapi tubuh tak mampu menahan. Saya tertidur.

Tengah malam. Saya terbangun. Badan semua pegal. Tanda-tanda saya sakit. Lama. Saya membuka mata. Saya menuju ke kamar mandi. Kemudian kembali ke kamar. Entah apa yang saya rasakan ini. Saya sakit? Kenapa sakit? Apa ketika tadi kehujanan saya tadi kedinginan. Lalu masuk angin? Apa kehujanan selama satu minggu. Kemudian dikumulatif. Dijumlahkan. Akhirnya jadi sakit? Apa karena kemarin. Hari kamis saya makan bakso dan sorenya maag saya kumat? Tapi apa hubungannya dengan sakit saya sekarang? Malam itu maag saya langsung sembuh. Saya bingung. Tak merasa melakukan kesalahan yang menyebabkan saya sakit.

Saya terus menelusur apa saja yang telah saya lakukan. Saya tidak menemukan apa yang mungkin menyebabkan saya sakit. Oke. Saya menenangkan diri. Terimakasih ya Allah. Saya terima. Kemudian ber-istighfar sebanyak-banyaknya. “Maafkan Tuhan entah apa salah hamba. Perkataan hamba yang sering menyakitkan. Usil saya yang berlebihan. Suka ngutang. Pelit. Suka ngomongin orang dan bla bla bla...”. Saya terus ber-istighfar sampai tidak sadar sudah tidur lagi.

“Ini demam. Masuk angin.”saya pikir. Sebelumnya saya tidak menyangka maag. Karena hari itu saya tidak telat makan. Saya makan. Bahkan sampai di rumah saya langsung makan. Sebelum tidur pun, perut saya baik-baik saja.

Benar ini adalah demam. Saya hafal dengan sakitnya. Rasa sakit saya berbeda dari kebanyakan orang. Saya sulit menjelaskannya. Entah. Saya juga tidak tahu namanya. Setiap saya demam. Badan saya semua menjadi pegal. Setiap sudut tubuh dan lekuk badan. Sakit. Ngiluuu. 

Rasanya enak sekali membayangkan dipijit bagian-bagian tubuh saya yang pegal. Tapi pegal saya ini berbeda. Setiap dipijat rasanya berkurang tetapi ketika pijatan dihentikan rasa sakit itu kembali lagi. Saya menyerah setiap sakit saya ini datang. Tidak kuat. Tidak tahan.

Masalah sakit saya tidak pernah main-main. Saya tidak mau pergi ke dokter yang asal-asalan. Bukan karena sombong. Bukan juga kebyakan uang. Tetapi prinsip saya. Saya tidak tahan dengan pegal. Saya harus segera sembuh. Tidak ada waktu berspekulasi dengan dokter. Yang pasti-pasti saja. Saya suka langsung ke rumah sakit. Memang biaya sedikit lebih mahal. Tapi saya langsung merasakan efeknya. Kurang dari dua jam. Saya jamin. Hahaha

Sebaliknya saya suka main-main soal minum obat. Tidak ada namanya disiplinnya sama sekali. Saya tidak pernah menghabiskan obat dari dokter. Paling lama sehari semalam itu sudah rekor pribadi. “Apa enaknya obat? Kalau tujuannya sembuh sudah tercapai kenapa diminum terus? Itu kan racun!”, bela saya.

Masih satu pertanyaan saya yang belum terjawab. Kenapa saya sakit? Apakah Tuhan sedang sayang? Mungkinkah Tuhan sedang melindungi saya dari bencana lain? Apakah dosa saya sedang dikurangi? Saking banyaknya dosa. Saya harus dihadiahi rasa sakit biar berkurang. Keep Husnudzon !!!. Tuhan sayang sama saya.

Tensi saya 100/70. Masih rendah seperti biasa ketika saya periksa ke dokter. Saya maag, mual, badan dan kepala tidak enak. Lidah saya kotor. Penjelasan dokter mencerahkan. Saya maag, masuk angin dan demam. Terakhir. “Jangan makan pedas, asam dan bakso dulu!” kecam dokter Wisnu.

Saya berharap cepat pulih. Hari senin. 26 November 2012. Kepala saya masih pusing. Migran sebelah kanan. Lidah saya masih pahit. Perut saya masih kembung. Masih enggan makan enak. Yang tidak enak apalagi. Tapi itu semua bukan halangan. Saya memutuskan stop minum obat. Walaupun kemarin dokter memberi wejangan untuk menghabiskan obatnya.

Saya frustasi. Sakit kok tidak sembuh-sembuh. Sudah minum obat. Lama. Banyak. Nggak enak. HuhuhuSaya mengotak-atik pikiran. Sakit ini hanya persepsi. Saya paksa untuk buka coreldraw. Saya bikin desain. Saya mulai menulis catatan ini. Mungkin hasilnya tidak bagus. Tapi cukup menyembuhkan. Dan obat paling ajaib. Sedekah. Saya harus bersedekah. Besok. Insha Allah

Setelah saya pulih nanti. Saya berjanji (red:Insha Allah) akan Keep Fighting lagi. Mengejar nikmat waktu yang tertunda. Dengan nikmat sakit yang diberikan. Keep Husnudzon! Saya ralat. Mengejar nikmat sakit yang dianugerahkan. Menunggu nikmat sehat. Saya istirahat dulu. Pikiran dan badan. Alhamdulillah.

Bahkan saya akan lebih melimitkan waktu. Itu passion saya sekarang. Merambah hobi baru. Menulis, berenang dan belajar bahasa asing (red: bahasa inggris). Juga marketing. Doakan.Aamiin-kan sekalian. Aamiin

diposting di catatan facebook 26 November 2012

INOVASI: ALAT PENGERING PADI TENAGA SURYA


Pertanian di Indonesia perlu dimodernkan. Mayoritas penduduk di bawah angka kemiskinan ada pada petani. Perlu adanya upaya agar petani dapat memproduksi hasil pertaniaanya dengan lebih efektif. Mulai dari pembibitan, proses penanaman, proses panen, sampai pasca panen. Nantinya hasil pertanian semakin bagus, sehingga tinggi pula nilai jualnya. Nantinya juga masa panen semakin cepat, sehingga besar pula laba hasil pertaniannya. Untuk itu perlu dilakukan 'perkawinan' antara teknologi dan pertanian. Dan inilah salah satu usaha itu, alat pengering tenaga surya.

***
Dahlan Iskan: Ada Teknologi, Petani Bisa Hemat

Uji Alat Pengering Padi di Arosbaya

BANGKALAN " Pagi sekitar pukul 09.30 Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan tiba di Desa Plakaran, Kecamatan Arosbaya. Tujuannya menguji temuan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang dibiayainya sendiri.

Temuan mahasiswa UB itu adalah alat pengering padi tenaga surya. Alat tersebut bisa membantu petani mengeringkan hasil panennya. Dengan alat itu, petani bisa lebih banyak menghemat biaya produksinya dan mempercepat proses pengeringan padi agar bisa segera dijual.

Seperti biasa, kedatangan Dahlan Iskan tak banyak diketahui orang. Di sawah yang didatanginya hanya ada warga, petani, dan tokoh masyarakat. Petani yang mengetahui Dahlan datang langsung berebut menyalaminya. Tanpa ragu, Dahlan langsung melepaskan sweater-nya, menyalami para petani dan sejenak berbincang dengan mereka.

Tak lama Dahlan langsung menanyakan alat pengering padi yang dibuat Sidik Dermawan, Sandi Pradita, Riyan Fajar, dan Ilham Kamil itu. Keempatnya merupakan mahasiswa Jurusan Teknik Mesin UB semester enam.

Kepada Sidik Darmawan, Menteri BUMN menanyakan cara kerja alat temuannya tersebut. Dahlan memastikan alat itu tak sulit dioperasikan dan bisa dipakai petani. Dia lalu memperhatikan dari atas ke bawah alat itu sambil bertanya detil manfaat alat itu.

Setelah memperhatikan alat itu, Dahlan mengatakan sangat mendukung dan mengapresiasi karya mahasiwa itu. Dahlan berharap mahasiswa terus menyempurnakan temuannya. Dia bernjanji akan membantu 100 persen uji coba dan penyempurnaan alat tersebut.

"Saya pribadi siap membiayai uji coba dan karya mahasiswa ini. Kita lihat hari ini, hasilnya seperti apa setelah uji coba" Tadi saya diskusi dengan Dirut PT Pertani dan Dirut Perum Bulog (Badan Usaha Logistik). Keduanya meminta ada beberapa penyempurnaan," ujarnya. Misalnya, sambung Dahlan, kaca yang dipakai untuk alat itu harus kaca yang bisa menyerap panas lebih tinggi. Supaya kemampuan menyerap panas lebih baik.

"Dengan teknologi ini petani akan lebih hemat. Sekarang kan uang pengeringan dengan bahan bakar minyak atau solar mahal sekali harganya. Jangan-jangan nanti lebih mahal biaya bahan bakarnya daripada padinya," ungkapnya.

Usai menguji alat buatan mahasiswa itu, pihaknya berjanji akan memperbanyak alat itu setelah proses penyempurnaan. Dia menegaskan, pertanian harus mendapatkan sentuhan teknologi agar biaya produksi bisa lebih hemat. Penghematan biaya produksi secara langsung akan membuat petani lebih sejahtera.

Terkait temuan mahasiswa itu, Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso berharap, mahasiswa terus memperbaiki dan menyempurnakannya. Sehingga, alat itu benar-binar bisa dipakai petani untuk meningkatkan produktivitasnya dengan cara yang hemat. Sebab, selama ini petani memang banyak mengeluh tentang proses pengeringan padi yang membutuhkan waktu lama.

"Ini kan suatu inovasi. Tentunya inovasi ini harus dikaji ulang untuk menghasilkan yang terbaik. Persoalan petani saat ini adalah turunnya kualitas padi. Penyebabnya proses pengeringan tidak cepat," paparnya.

Di lokasi yang sama, Dirut PT Pertani Ilham Setia Budi mengatakan, akan mengajak mahasiswa yang membuat alat pengering itu ke perusahaannya. Dia ingin keempat mahasiswa itu bisa menggabungkan inovasinya dengan metode pertanian di PT Pertani.

"Bagus, inovasi anak muda dibutuhkan petani. Namun temuan tersebut masih membutuhkan penyempurnaan. Nanti kami akan undang ke kantor untuk kerja sama dan untuk memperbaiki teknologi alat pengeringan padi," paparnya.

Melihat inovasi mahasiswa tersebut, Yudani, 43, warga Desa Plakaran mengaku senang. Dia menyatakan langsung paham cara pakai alat itu. Dia berharap Menteri BUMN bisa segera memperbanyak alat itu dan diberikan pada petani di Madura. "Saya lihat cara pakainya mudah sekali. Hampir sama dengan memasukkan kue ke oven," ungkapnya.

Atas temuan itu, salah satu mahasiswa pembuatnya Sidik Darmawan menjelaskan, alat itu bisa mengeringkan padi dalam waktu sekitar satu hari setengah saja. Padahal, biasanya petani membutuhkan waktu hingga tujuh hari untuk mengeringkan padi itu dengan cara menjemurnya di bawah matahari.

Sidik menjelaskan, alat tersebut berbentuk balok persegi panjang, dengan ukuran pajang 30 sentimeter (cm), lebar 30 cm, dan tinggi mencapai 1 meter. Alat tersebut hampir semuanya terdiri dari kaca yang dilengkapi seng penangkap panas dan sebagian dari kawat dan kayu.

"Dengan ukuran alat itu, padi yang bisa dikeringkan bisa 1 kuintal. Ini masih percobaan. Saat ini, kami masih fokus pada penyempurnaan. Kami siap membuat alat seperti ini dengan ukuran yang lebih besar jika ada," terangnya. Alat yang diuji cobakan kemarin menghabiskan biaya pembuatan Rp 3 juta.

(c4/mad)

Nahdlatul Ulama dan Sejarah Kebangsaan (Film Dokumenter).






Film Dokumenter “Nahdlatul Ulama dan Sejarah Kebangsaan”, produksi Yayasan Ircos Jakarta & Yayasan 135. Film ini memadukan rekaman-rekaman visual sejarah otentik dengan narasi apik dari beberapa narasumber:
1. KH. A. Musthofa Bisri.
2. Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, MA.
3. KH. Muchit Muzadi.
4. Yenni Wahid, MA.
5. KH. Hasyim Muzadi.
6. Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, MH, MU.
7. Ir. KH. Salahuddin Wahid.
8. Dr. Andree Feillard.
Sangat patut dan penting untuk ditonton sebagai bahan pembelajaran warga Negara Indonesia, khususnya warga Nahdliyyin dan pesantren.

Silakan di-share!!!

Dahlan Iskan, Das Des.. Set Set Wuet!




Iklan tokoh simpel, lucu, dan kreatif. Sayangnya hanya singkat. Iklan berikutnya semoga lebih variatif juga tambah kreatif. Kerja, Kerja, Kerja! Demi Indonesia. Des des des...Set set wet!

SENYUM TULUS MARKETING PARA DIRUT

Manufacturing Hope 104

“Senyum saya sudah betul, Pak?” tanya seorang direktur utama BUMN kepada saya melalui SMS. Dirut tersebut prestasinya luar biasa hebat. Tapi, senyumnya juga luar biasa pelit.

Setiap kali bertemu sang Dirut saya memang terus mempersoalkan wajahnya yang selalu tegang. Dan kaku. Dan cemberut.

“Anda itu Dirut yang hebat,” kata saya. “Kalau bisa sering tersenyum, Anda akan lebih hebat,” tambah saya.

Beberapa minggu kemudian, ketika sang Dirut belum juga bisa tersenyum, saya berikan pengertian mengapa harus tersenyum. “Anda itu harus menjadi seorang marketer. Bahkan, harus menjadi marketer terbaik di BUMN Anda. Bagaimana seorang marketer wajahnya terlihat tegang terus?” kata saya.

Saya tidak dalam posisi memarahi dia. Saya menempatkan diri bukan sebagai menteri. Saya ajak dia bicara lebih seperti kakak kepada adik. Sebelum bicara itu pun saya lebih dulu bertanya kepada dia: bolehkah saya bicara mengenai hal yang sangat pribadi? Dia bilang: boleh.

Jadilah saya bicarakan hal wajah dan senyum itu kepadanya. Sayang sekali, seorang CEO yang kerja dan prestasinya luar biasa, tapi lebih banyak kelihatan cemberut. Tekanan pekerjaan yang berat dan menumpuk mungkin membuatnya tegang.

Pun waktu yang dia habiskan di lapangan memang panjang. Siang menemukan persoalan, malam menemukan kerumitan. Orang luar selalu menekannya, orang dalam menjengkelkannya.

Mungkin juga bukan karena semua itu. Mungkin juga karena latar belakang pekerjaan lamanya di dunia keuangan. Itu membuatnya “selalu bersikap keuangan”. Banyak kata, orang yang hidup lama di “sikap keuangan” sulit berubah menjadi “bersikap marketing”. Entahlah.

Tapi , saya percaya orang bisa berubah. Yang jelas, seorang CEO akan tidak sempurna ke-CEO-annya kalau tidak bisa tersenyum, tidak bisa mengajar, mendidik, dan tidak bisa jadi orang marketing.

Maka, sang Dirut berjanji untuk berubah. Menyempurnakan prestasinya dengan meramahkan wajahnya.

Suatu saat saya kaget. Dia mengirim BBM kepada saya. Disertai foto wajah yang lagi tersenyum. “Senyum saya yang seperti ini sudah tepat, Pak?” tanyanya.

“Belum!” jawab saya. “Kurang tulus,” tambah saya.
“Wah, sulit ya?” tanyanya lagi.
“Tidak!” jawab saya. “Coba terus!”
“Sudah 70 persen! Bagus! Anda maju sekali!” jawab saya. Saya kagum akan kesungguhannya tersenyum.

Minggu berikutnya dia kirim foto lagi yang juga tersenyum. “Sudah bagus, Pak?” tanyanya.

Minggu-minggu berikutnya dia terus mengirimkan foto wajahnya yang lagi tersenyum. 75 persen. 80 persen. 90 persen. Akhirnya 100 persen! Senyum terakhirnya, enam bulan setelah usaha yang keras, sangat sempurna, natural, dan tulus.

Senyum itu lantas saya pilih untuk cover buku yang diterbitkan untuk ulang tahun perusahaannya. Buku yang sangat bagus mengenai prestasinya yang hebat dalam mentransformasikan BUMN yang dia pimpin. Buku itu kini sudah tiga kali cetak ulang dan jadi best seller. Tentu senyum tulusnya di cover ikut memberi andil.

Itulah buku yang bercerita: bagaimana sang Dirut mampu melakukan transformasi perusahaan yang luar biasa hebatnya. Bahkan, lebih hebat daripada yang dilakukan menteri BUMN.

“Pasien” saya yang seperti itu tidak hanya satu. Tidak dua. Tidak tiga. Banyak! Satu per satu saya ajak bicara. Bukan hanya perusahaannya yang harus bertransformasi, tapi juga penampilan pribadi Dirutnya. Saya gembira mereka yang prestasinya hebat-hebat itu juga berani menyempurnakan dirinya.

Saya juga berterima kasih kepada owner MarkPlus, Pak Hermawan Kartajaya, yang ikut mengubah BUMN-BUMN kita. Terutama dari sisi marketing. BUMN Marketeers Club yang rutin bertemu dari satu BUMN ke BUMN lain, mendapat sambutan antusias dari teman-teman direksi BUMN. Begitu juga BUMN Marketing Award yang juga digagas Pak Hermawan.

Saya sempat menghadiri beberapa pertemuan forum marketing itu. Termasuk untuk menyosialisasikan keinginan saya bahwa seorang CEO/Dirut di BUMN harus juga menjadi orang terbaik untuk urusan marketing di BUMN masing-masing.

Saya juga bangga bahwa setiap kali MarkPlus menyelenggarakan acara tahunan yang amat bergengsi, Marketeer of the Year, para CEO BUMN tampil di jajaran pemenang. Mengalahkan sektor swasta. Bahkan, hampir selalu terpilih menjadi yang terbaik, menjadi Marketeer of The Year. Seperti yang diraih Emirsyah Satar, CEO Garuda; Sofyan Basyir, CEO BRI, dan saya sendiri waktu menjabat CEO PLN.

Tentu bukan hanya senyum yang harus bertransformasi. Cara para CEO berpidato pun harus berubah. Harus menjauhkan kebiasaan lama berpidato dengan membaca teks yang formal, kaku, dan hierarkis.

Untuk urusan ini saya juga melihat kemajuan yang sangat besar. Saya mencatat beberapa CEO sudah mampu tampil dengan pidato yang memikat. Bahkan, beberapa di antaranya sudah seperti CEO multinational corporation.

Pidato Dirut Bank Mandiri, Dirut Telkom, Dirut BRI, Dirut BNI, Dirut RNI, dan Dirut Pelindo I Medan sudah sangat cair, dan “lebih marketing”. Sudah berubah total dan dengan penuh percaya diri bisa mengemukakan kiprah dan masa depan perusahaan dengan gamblang.

Tentu saya tidak akan melarang pidato pakai teks. Dalam beberapa kesempatan malah seharusnya pakai teks. Tapi, saya belum puas dengan penampilan beberapa CEO yang ketika di podium masih seperti kurang menguasai persoalan. Saya akan sabar mengikuti perubahan-perubahan itu.

Mengapa saya merasa perlu untuk menekankan semua itu? Sebab, CEO di samping seorang marketer nomor satu di perusahaannya, dia juga manajer personalia terbaik di korporasinya. Kalau seorang CEO tidak terlatih dalam mengemukakan ide, hope, dan programnya, dia tidak akan bisa meyakinkan anak buahnya.

Siapakah sang CEO yang selalu kirim foto wajahnya yang sudah tersenyum itu? Dialah Dirut PT KAI, Ignasius Jonan. (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

sumber: dahlanis.net

Di dunia ini ternyata ada empat hal yang tidak bisa diduga: lahir, kawin, meninggal, dan … Gus Dur!


kickdahlan.wordpress.com

Oleh : Dahlan Iskan

“Kok sampeyan yang tersinggung. Mestinya kan taman kanak-kanaknya!,”

Guyonan itu, rupanya, tidak berlebihan. Meski sudah banyak yang meramalkan bahwa penampilan Gus Dur di depan DPR Kamis lalu bakal ramai, toh tidak ada yang menyangka bahwa sampai seramai itu. Kalau bukan kiai, mana berani menjadikan pidato Ketua DPR Akbar Tandjung sebagai sasaran humor? Akbar sejak dulu memang selalu memulai pidato dengan memanjatkan syukur. Maka, Gus Dur pun melucu, yang membuat semua anggota DPR tertawa: syukur memang perlu dipanjatkan karena Syukur tidak bisa memanjat

Begitu menariknya, karuan saja pidato presiden kini banyak ditunggu penonton televisi. Padahal, dulu-dulu kalau presiden pidato di TV banyak yang mematikan TV-nya. Begitu tidak menariknya pidato presiden di masa Orde Baru sampai-sampai pernah para anggota DPRD diwajibkan mendengarkannya. Itu pun harus diawasi agar mereka sungguh-sungguh seperti mendengarkan. Untuk itu, perlu diadakan sidang pleno DPRD dengan acara khusus nonton televisi.

***

Mungkin Gus Dur tidak menyangka bahwa suatu saat dirinya jadi presiden. Maka, di masa lalu banyak sekali presiden di dunia ini yang jadi sasaran humornya. Misalnya saat tampil bersama humorolog Jaya Suprana di TPI tahun lalu. Gus Dur menceritakan, Hosni Mubarak, presiden Mesir, sangat marah karena seorang rakyatnya membuat 39 humor yang menyakitkan hati Mubarak.

“Saya ini presiden, saya bisa hukum kamu, apakah kamu tidak takut?” bentak Mubarak. Apa jawab si pembuat humor? “Mohon ampun paduka. Humor ke-40 itu bukan kami yang membuat!”

Saat itu Gus Dur juga menghumorkan Pak Harto yang sangat ditakuti, tapi sebenarnya juga dibenci rakyat banyak. Suatu kali Pak Harto terhanyut di sungai dan hampir meninggal. Seorang petani menolongnya dengan ikhlas. Si petani tidak tahu siapa sebenarnya yang dia tolong itu. “Saya ini presiden. Presiden Soeharto. Kamu telah menyelamatkan saya. Imbalan apa yang kamu minta?” kata Soeharto. “Pak, saya hanya minta satu,” jawab si petani. “Jangan beri tahu siapa pun bahwa saya yang menolong Bapak.” Presiden Habibie yang doyan bicara itu juga dijadikan sasaran humor Gus Dur. Suatu saat Gus Dur yang terkenal gampang tertidur (tapi selalu bisa mengikuti apa yang dibicarakan orang selama dia tidur) menghadap Habibie. Sang presiden bicara ke sana kemari tidak henti-hentinya. Apa komentar Gus Dur? “Saya sih cuek saja. Biar dia bicara terus. Toh saya tidur,” katanya.

***
Sikap cuek memang ciri khas Gus Dur. Namun bukan berarti mengabaikan. Dia memang ngotot tetap keliling negara-negara ASEAN meski banyak tokoh memintanya pulang (karena Aceh gawat). Bahkan, dia juga tetap ke AS dan Jepang. Dan, sebentar lagi ke negara-negara Timur Tengah.

Apakah Gus Dur cuek sungguhan? Saya kira tidak. Gus Dur tentu tahu bahwa salah satu syarat berdirinya sebuah negara adalah adanya pengakuan negara lain. Sepanjang tidak ada negara lain yang mengakui, maka berdirinya sebuah negara dianggap tidak sah. Nah, Gus Dur bisa sekalian keliling ke negara-negara itu untuk merayu mereka agar jangan memberikan pengakuan dulu kepada Aceh atau bagian mana pun dari Indonesia. Kalau seluruh negara ASEAN tidak memberikan pengakuan, kalau AS dan Jepang tidak memberikan pengakuan, kalau negara-negara Timteng bersikap sama dan demikian juga negara-negara lain, maka kemerdekaan Aceh belum akan terjadi. Ini berarti Gus Dur masih punya waktu untuk negosiasi dengan Aceh. Selama kurun waktu yang pendek itu, Gus Dur bisa menuntaskan seluruh persoalan yang selama ini menyebabkan rakyat Aceh marah. Ini berbeda dengan soal Timtim yang memang tidak diakui dunia internasional sebagai bagian Indonesia.

***

Gus Dur memang kelihatan cuek, namun sebenarnya serius. Gus Dur juga kelihatan sering mbanyol, namun juga serius. Sikap cuek itu bukan saja tertuju kepada orang lain, tetapi juga kepada dirinya sendiri.

Suatu saat saya menjenguk Gus Dur yang diopname karena stroke di RSCM Jakarta. Saat itu saya memang presiden direktur PT Nusumma dan Gus Dur presiden komisarisnya. Saya lihat Gus Dur berbaring miring karena memang belum boleh duduk. Setelah menyalaminya, saya mengucapkan permintaan maaf karena baru hari itu bisa menjenguk. “Saya sakit gigi berat, Gus,” ujar saya.

Tanpa saya duga, Gus Dur ternyata men-cuekin keadaan kesehatannya. Dia langsung memberi saya teka-teki yang ternyata humor segar. “Sampeyan tahu nggak, apa yang menyebabkan sakit gigi?” tanyanya. “Tidak, Gus,” jawab saya.

“Penyebab sakit gigi itu sama dengan penyebab orang hamil dan sama juga dengan penyebab mengapa rumput sempat tumbuh tinggi,” katanya. Saya masih melongo. Gus Dur menjawab sendiri teka-tekinya. “Yaitu sama-sama terlambat dicabut,” ujarnya. Saya langsung tertawa.

Di saat yang lain pesawat yang akan ditumpangi Gus Dur ke Semarang batal berangkat. Padahal, dia sudah lama menunggu. Gus Dur biasa sekali antre tiket sendiri. Meski ada hambatan pada penglihatan, Gus Dur sudah sangat hafal liku-liku bandara. Saking seringnya bepergian.
Saat itu di Jateng lagi getol-getolnya kuningisasi. Apa saja, mulai bangunan sampai pohon-pohon, dicat kuning atas instruksi Gubernur Jateng Suwardi. Maksudnya agar rakyat semakin mencintai Golkar. Maka, ketika para penumpang lain marah-marah, Gus Dur cuek saja.

“Sampeyan tahu nggak mengapa pesawat ini batal berangkat ke Semarang?” tanyanya. Lalu, dia menjawab sendiri pertanyaannya: “Pilotnya takut, kalau-kalau begitu pesawatnya mendarat langsung dicat kuning,” katanya.
Humor ini kemudian menjadi sangat populer.

***
Begitulah. Hampir tidak pernah pertemuan saya dengan Gus Dur tanpa diselipi humor. Sasaran humornya bisa dirinya sendiri, bisa NU yang dia pimpin, bisa juga para kiai sendiri.

Pernah Gus Dur punya humor begini: seorang kiai datang mengeluh kepadanya karena satu di antara empat anaknya masuk Kristen. Sang kiai mengeluh, kurang berbuat apa sampai terjadi demikian. Padahal, dia tidak kurang-kurangnya berdoa kepada Tuhan agar tidak ada anaknya yang masuk Kristen. “Sampeyan jangan mengeluh kepada Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, saya saja punya anak satu-satunya masuk Kristen!”

***

Kita memang sedang melihat sosok presiden yang amat berbeda. Ketika dia salah ucap di depan DPR dengan mengatakan “tentang pembubaran DPR … eh, Deppen dan Depsos…” dengan entengnya Gus Dur menertawakan dirinya sendiri sebagai penutup kesalahan ucap itu. “Yah, beginilah kalau presidennya batuk dan Wapresnya flu!”

Sama juga ketika dia tampil di forum internasional di Bali. Dengan entengnya, Gus Dur mengejek dirinya sendiri dengan bahasa Inggris yang sangat baik bagaimana sebuah negara yang presidennya buta dan Wapresnya bisu.

***

Dari semua tokoh yang berkomentar terhadap laku Gus Dur seperti itu, adik kandungnyalah yang bisa memberikan gambaran tepat. “Gus Dur itu seperti sopir yang kalau belok tidak memberi richting dan kalau ngerem selalu mendadak,” ujar Salahuddin Wahid, sang adik.

Tapi, bisakah Gus Dur mengerem Aceh? Gus Dur tentu sudah mendengar Aceh itu ibarat kelapa. Seperti yang disampaikan seorang tokoh Aceh di TV. Rakyat adalah airnya, ulama adalah dagingnya, mahasiswa adalah batoknya, dan GAM adalah sabutnya.

Tokoh tersebut berpendapat ulamalah yang harus dijaga. Sebagai ulama, tentu Gus Dur lebih tahu bagaimana caranya. Gus Dur punya humor bagaimana harus merangkul ulama. Suatu saat rombongan ulama naik bus. Ada seorang ulama yang membuka jendela sehingga tangan si ulama keluar dari bus. Ini tentu bahaya dan melanggar peraturan “dilarang mengeluarkan anggota badan”. “Jangan sekali-kali menegurnya dengan alasan membahayakan tangan si ulama,” ujar Gus Dur. Lalu bagaimana? “Bilang saja begini: Mohon tangan Bapak jangan keluar dari jendela karena tiang-tiang listriknya nanti bisa bengkok!”.

***

Lalu, bagaimana sebaiknya sikap DPR setelah dijadikan sasaran humor Gus Dur sebagai taman kanak-kanak itu? Sebaiknya dicuekin saja. Kalau DPR ribut terus bisa-bisa Gus Dur malah dapat bahan humor baru. Misalnya dengan mengatakan bahwa DPR ternyata malah seperti play group! Bahkan, tidak mustahil kalau Gus Dur justru berkata begini: Kok sampeyan yang tersinggung. Mestinya kan taman kanak-kanaknya!

Malam ke-29 di 400 Meter Ketinggian

Manifacturing Hope 89
dahlaniskan.net

Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Dari lantai atas hotel Fairmont Mekah ini saya bisa menatap Ka’bah yang agung di tengah-tengah pusaran manusia yang lagi tawaf di Masjidil Haram. Di lantai inilah saya siap-siap shalat tarawih malam itu, malam ke-29 bulan puasa. Di lantai ini pulalah saya diagendakan bertemu pemilik kerajaan bisnis Saudi Binladin Group, Syekh Bakr bin Ladin.
Inilah lantai di mana Syekh Bakr tinggal. Salah satu ruangannya dijadikan tempat shalat. Yakni ruang yang persis menghadap Masjidil Haram. Dari kaca ruang ini, lautan manusia di bawah sana terlihat menyemut. Masjid yang terang lampunya bak siang itu, dengan menara-menara yang gemerlap bercahaya. Manusia di dalamnya terlihat tidak henti-hentinya memutari Ka’bah.
Dari sini pula terlihat bangunan baru yang arsitekturnya mirip Masjidil Haram.  Inilah bangunan tambahan yang besarnya melebihi Masjidil Haram itu sendiri. Bangunan ini hampir jadi. Letaknya persis di sebelahnya dalam posisi menonjol karena bertumpu di bukit yang lebih tinggi. Lokasi ini dulunya dikenal sebagai Hotel Mekah dan sekitarnya. Bulan puasa tahun depan bangunan ini jadi 100 persen.
Dari arah atas ini pula terlihat seperempat bagian Masjidil Haram yang dibongkar dan kini sedang dibangun lagi. Di bagian inilah BUMN PT Waskita Karya (Persero) Tbk ikut berperan. Proyek ini didapat Waskita dari kontraktor utama Binladin. Tiap tahun ditargetkan seperempat pembongkaran dilakukan untuk dibangun kembali. Dengan demikian seluruh Masjidil Haram selesai direnovasi tahun 2018. Berarti, selama itu pula Waskita akan terus bekerja di sana. Insya-Allah.
Dari kamar khusus Syekh Bakr itu semua aktivitas di Masjidil Haram dan sekitarnya terlihat sempurna.
Saya, Dirut Waskita Karya M Choliq, dan manajer Waskita di Arab Saudi, sudah siap di kamar itu menjelang adzan Isya. Ditemani beberapa staf inti Binladin Group. Termasuk adik kandung Syekh Bakr yang juga direktur keuangan grup itu.
“Syekh masih di sana, tapi segera tiba,” ujar salah satu staf inti Binladin Group. Berkata begitu ia sambil menunjuk bangunan tinggi di sebelah Masjidil Haram, arah kanan depan Fairmont Hotel. Itulah bangunan di mana Raja Arab Saudi dan keluarganya tinggal untuk beribadah selama 10 hari terakhir bulan puasa.
Syekh Bakr bin Ladin masih di gedung kerajaan itu. Kami pun shalat tarawih mengikuti imam Masjidil Haram. Sound system di kamar itu memang tersambung sound system masjid. Adzan dan suara imam juga tersambung ke seluruh kamar hotel sehingga banyak penghuni hotel yang shalat lima waktu di kamar masing-masing dengan imam dari Masjidil Haram.
Usai shalat tarawih, yang ditunggu pun tiba. Syekh Bakr ternyata cukup santai, tanpa tutup kepala dan bicaranya ceplas-ceplos seperti umumnya pengusaha. Di situlah kami membicarakan proyek-proyek Waskita dan masa depannya. Termasuk keinginan Syekh Bakr untuk terus menambah orang agar Waskita bisa ikut mempercepat penyelesaian proyek.
“Di sini selalu diinginkan serba cepat. Proyek lima tahun kalau bisa selesai dalam dua tahun,” kata Syekh Bakr.
Ternyata Syekh Bakr juga sudah tahu maksud kedatangan saya. “Waskita akan kami ikutkan di proyek perluasan Masjid Nabawi di Madinah,” tegasnya. “Kalau perlu tidak hanya proyeknya. Juga sampai pemeliharaannya,” tambahnya. “Pokoknya peranan Waskita harus kita tingkatkan terus,” katanya lagi. Kali ini sambil menatap wajah-wajah staf intinya.
Entah apa yang baru dia bicarakan di gedung kerajaan di sana, yang jelas malam itu Syekh Bakr menyambut baik semua rencana kami. Termasuk mengundangnya untuk berinvestasi di Indonesia. “Kami akan serius masuk Indonesia,” katanya.
Yang juga terlihat spontan adalah kata-kata terakhirnya kepada para stafnya: tiap tahun beliau ini harus jadi tamu kita di sini, dan malam ini antarkan beliau ke atas!
Saya tidak menyangka mendapat kesempatan naik ke ketinggian 400 meter di puncak bangunan itu. Yakni ke ruangan yang terletak di balik “Jam Mekah” warna hijau yang terlihat dari seluruh penjuru kota, bahkan terlihat dari Mina dan Muzdalifah itu. Inilah jam terbesar yang diletakkan di ketinggian tertinggi di dunia. Kalau Big Band London yang terkenal itu tingginya hanya enam meter, Jam Mekah ini 43 meter!
Tulisan “Allah” (dalam huruf Arab) yang ada di dekat jam itu terbesar dan tertinggi di dunia. Panjang huruf alifnya saja 23 meter.
Ruangan di balik jam itu ternyata dijadikan diorama untuk menunjukkan keagungan jagad raya. Foto tiga dimensi matahari, lengkap dengan inti matahari, ada di situ. Demikian juga foto tata surya, jagad raya dan planet-planetnya. Termasuk pergerakan putaran bumi dan planet-planet lainnya. Ayat-ayat Al Quran yang terkait dengan alam raya di-display di sana-sini. Di ruang ini kita sungguh mengagumi erciptanya alam raya. Dan lebih-lebih mengagumi penciptanya.
Jam itu benar-benar raksasa. Empat buah jumlahnya untuk empat penjuru angin. Beratnya 23 ton!
Warna dasar jam itu hijau. Warna itu dibentuk oleh lampu-lampu LED dengan background material warna  putih. Untuk menghijaukan warna empat buah jam itu diperlukan dua juta lampu LED.
Jarum jamnya dibuat warna putih yang juga terbentuk oleh lampu LED bercahaya putih, dengan dasar material  hitam.
Pilihan warna dasar hijau dan jarum warna putih ini berdasar hasil riset yang mendalam. “Warna hijau dan putih adalah warna yang bisa terlihat dari jarak paling jauh. Sejauh apa pun, Anda masih bisa melihat jam ini dengan jelas. Kalau warna lain tidak akan sejelas hijau dan putih,” ujar seorang Jerman, muslim, arsitek gedung sekaligus pendesain jam ini. Saya beruntung bahwa dia diminta mendampingi saya untuk menjelaskan semua itu.
Keperluan listrik untuk jam ini saja, ampun-ampun, 2 MW! Maklum mesin jam itu (bisa kami lihat dari arah belakang jam) seperti gigi-gigi mesin pabrik gula!
Di ketinggian 400 meter itu (sekitar empat kali tinggi Monas) juga tersedia balkon. Kita bisa ke luar gedung untuk melihat Ka’bah dari atas. Juga untuk melihat seluruh kota Mekah. Allahu Akbar!
Tidak hanya Fairmont yang ada di gedung ini. Juga beberapa hotel lainnya. Superblok ini (disebut Clock Tower) memang sangat besar. Lantai bawahnya dibuat mal yang di waktu shalat diubah jadi tempat shalat berjamaah. Lantai mal ini memang connect dengan halaman Masjidil Haram. Beberapa lantai bagian depan superblok ini juga untuk masjid yang makmum ke imam Masjidil Haram.
Di salah satu ruang di Clock Tower ini pula saya menerima Presiden Islamic Development Bank (IDB), Dr Ahmed Muhammed Ali sehari sebelumnya. Terutama karena IDB memiliki fasilitas kredit ekspor. Fasilitas inilah yang harus dimanfaatkan oleh PT Dirgantara Indonesia (Persero) untuk menjual pesawat ke negara-negara anggota IDB. Saya minta manajemen PT DI serius menindaklanjutinya.
Bahkan kalau perlu BUMN lain tidak usah memanfaatkan kredit IDB. Seluruh dana IDB untuk Indonesia yang sebesar Rp 30 triliun bisa dialokasikan sepenuhnya untuk  penjualan pesawat PT DI. Sedangkan untuk dermaga pelabuhan Belawan Medan, misalnya, Pelindo I sebenarnya mampu membiayainya sendiri. Bahkan bisa lebih cepat terwujud.
Kalau BUMN lain meminjam dana itu, BUMN itu yang harus mengembalikannya. Tapi kalau PT DI yang dapat fasilitas itu, negara pembeli pesawat yang harus melunasinya. Dr Ahmed terlihat antusias untuk bisa membiayai ekspor pesawat PT DI. “Saya pernah berkunjung ke PT DI di Bandung. Saya sangat terkesan,” katanya. “Waktu itu saya diundang Dr Habibie,” tambahnya.
Indonesia adalah anggota penting IDB. Juga salah satu pendirinya. Di ulang tahun IDB ke-40 tahun depan, ada baiknya ditandai dengan terealisasinya kredit ekspor untuk PT DI itu.

Dari The Tarix Jabrix ke Proses Stem Cell

Manufacturing Hope 92
www.tabloidbintang.com

Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Sutradara muda yang sukses dengan film trilogi The Tarix Jabrix , Iqbal Rais (29 tahun), sudah lebih setahun ini terbaring di rumah sakit. Iqbal menderita kanker leukemia yang sulit disembuhkan.
Semula dia hanya merasa lemas dan sering pusing. Lalu pergi ke dokter di Jakarta. Iqbal dicurigai terkena anemia akut. Dia pun dimasukkan ke rumah sakit. Berbagai obat pun sudah dia minum. Tapi tak kunjung sembuh.
Ketika ayahnya hendak check up ke Malaysia, Iqbal ditawari ikut serta. Sekalian diperiksa di sana. Hasilnya: Iqbal dinyatakan terkena kanker darah. Dan setelah pemeriksaan lebih detil, kankernya sudah menyebar ke sumsum.
Tentu Iqbal tidak ikut pulang ayahnya. Dia meneruskan berobat di sana: dikemo. Ditemani istrinya yang amat tabah. Tapi hampir setahun di sana, tidak ada kemajuan. Rambutnya sudah gundul. Akhirnya balik ke Jakarta. Hidupnya on off antara rumah sakit dan rumah sakit. Juga tidak ada kemajuan. Dia pun mendapat info untuk berobat alternatif di Bali. Dia jalani. Juga tidak memperoleh kemajuan. Agar dekat dengan keluarga akhirnya dia berobat di Surabaya.
Saya terus memonitor keadaannya. Dia memang selalu mengontak saya setelah membaca buku saya Ganti Hati. Ke mana pun pindah berobat dia selalu memberitahu saya. Sebenarnya saya ingin segera mengusulkan cara baru, tapi saya tunggu dulu hasil usaha-usaha yang biasa itu.
Namun karena tidak juga berhasil akhirnya saya beranikan mengusulkan cara baru itu. Tapi bersediakah dia mencoba hal yang masih baru? Akankah dia tahan menderita terus di tempat tidur di rumah sakit? Tidakkah dia berpikir usaha biasa-biasa saja hanya akan terus menjadi beban? Beban untuk dirinya, istrinya, anak tunggalnya yang baru empat tahun, dan beban untuk seluruh keluarganya?
Apalagi, bukankah pengobatan kanker yang mahal itu harus dijalaninya dalam waktu yang panjang?
Mendengar usul saya itu Iqbal semula agak bimbang. Dia bingung dengan rencana pengobatan baru itu. Iqbal belum banyak mendengarnya: transplan stem cell!
Saya terus memberinya pengertian. Juga mengenalkannya dengan tim stem cell Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya dan tim stem cellRSUD dr Sutomo Surabaya. Di Unair ada lab stem cell dan bank jaringan. Ada Dr Ferdiansyah, dr, SpOT yang menjadi ketua regenerative medicinesebagai tim inti penggerak roda kegiatan stem cell.
Dibantu oleh Dr Heri Suroto, dr, SpOT, Dr Joni Wahyuhadi,dr, SpBS, Dr Ugrasena, dr, SpA, Dr Hendy H, dr, SpOG, Dr Dwikora, dr, SpOT. Total ada 50 profesor, doktor, dan dokter yang menekuni penelitian stem cell ini. Ketuanya: Prof Dr Fedik Abdul Rantam.
Saya mengenal baik para guru besar dan doktor di tim stem cell itu. Bukan saja karena saya orang Surabaya. Saya memang minta BUMN PT Kimia Farma untuk bekerjasama dengan Unair. Kerjasama seperti itu juga saya minta dilakukan dengan UI, Unpad, dan UGM.
Awalnya saya mengundang mereka ke Jakarta. Ternyata yang hadir lengkap.Full team. Delegasi itu dipimpin langsung Rektor Unair Prof Dr Fasich, Apt. Tim besar ini membeberkan semua temuan yang dihasilkan para peneliti Unair yang bisa diwujudkan secara nyata.
Salah satunya stem cell itu. Tim ini sudah melakukan stem cell kepada sekitar 40 orang dengan berbagai kasus penyakit. Ada yang karena patah tulang akibat kecelakaan, ada yang karena kelainan tulang sejak lahir, ada yang kelainan sampai jalannya membongkok, ada yang karena leukemia, diabetes, stroke, dan kanker pankreas.
Iqbal saya tawari stem cell di Unair itu. Dia pun diskusi dengan tim. Iqbal akhirnya menerima. Pertimbangannya: toh berbagai cara sudah dilakukan dan belum berhasil. Hebatnya, Iqbal juga ingin mengabdikan dirinya untuk kemajuan ilmu pengetahuan.
Minggu lalu proses awal sudah dilakukan. Penelitian atas gen dan cellnya sudah selesai. Tim Unair sedang mencari cara agar Iqbal sedapat mungkin tidak menggunakan cell-nya sendiri. Kecuali terpaksa. Biasanya cell keluarga dekatnya cocok.Tapi cell adik dan kakaknya ternyata tidak cocok.
“Padahal kalau cocok 70 persen saja sudah cukup,” kata Dr Purwati, sekretaris tim stem cell Unair. Dr Purwati, arek Jombang yang alumni Unair itu mengambil gelar doktor di bidang ini. Juga di Unair. Desertasinya mengenai stem cell untuk pengobatan HIV.
Dalam hal Iqbal, kalau pemeriksaan atas cell orangtuanya nanti juga tidak membuahkan hasil, masih akan dicarikan dari bank cell di luar negeri. Kalau pun tidak bisa baru akan diambilkan dari cell Iqbal sendiri.
Intinya, menurut Purwati, sejumlah cell imum Iqbal akan diambil. Lalu dikembangkan di laboratorium selama antara 12 sampai 14 hari. Setelah itucell imum yang sudah dikembangkan tersebut ditransplankan ke dalam darah Iqbal. Untuk itu proses kemonya diteruskan dulu untuk mematikan kankernya. Lalu cell imum yang ditransplankan bekerja.
Saya bangga dengan Iqbal yang siap menjalani semua itu. Ini memang ilmu baru tapi Iqbal bersedia menjalaninya. Saya akan minta kepada Dr Purwati untuk mempertemukan Iqbal dengan pasien-pasien yang sudah berhasil dengan stem cell tersebut. Untuk membesarkan hatinya.

Kerjasama Unair dengan BUMN sendiri tidak terbatas pada stem cell. Juga pada pengembangan pil KB untuk pria. Penelitinya adalah Prof Dr Bambang Prayogo. Ahli lulusan Unair ini menemukan pil KB untuk pria setelah dia bertugas lama di Papua.
Waktu itu Prof Bambang mengamati adat yang unik di Papupa. Pria yang belum bisa menikah karena belum mampu membayar mahar berupa puluhan babi tetap bisa melakukan hubungan badan dengan kekasihnya asal tidak sampai hamil. Untuk itu pria Papua memakan daun tertentu sebagai pil KB untuk pria.
Tanaman itulah yang terus diteliti oleh Prof Bambang. Hasilnya nyata. Maka saya pun minta Kimia Farma menyiapkan produksinya.
Belakangan banyak orang kaya kita melakukan stem cell ke Eropa, Jepang, Korea, dan Tiongkok. UI dan Unair sudah mampu melakukannya! Unair lagi mengarah ke stem cell untuk liver. Agar liver yang sudah serosis pun bisa diatasi! (*)

Bakso Khilafatullah



Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya. Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobaknya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

"Selalu begitu, Pak?", aku bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

"Maksud Bapak?" ia ganti bertanya.

"Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?"

MENGADAPTASI KEBIASAAN SUKSES BANGSA JEPANG


Masyarakat Jepang identik dengan kerja keras, kesuksesan, dan mobilitas tinggi. Alangkah lebih baik bila kita bisa mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan orang Jepang berikut ini.

1. Kerja keras

Sesusah-susahnya hidup, orang rajin tidak akan pernah kelaparan. Jepang adalah contoh bangsa yang rajin.

PERBEDAAN , SIKAP KITA DAN KENISBIAN




Catatan Dahlan Iskan yang Kembali Berlebaran di Makkah 2011
Oleh Dahlan Iskan

INILAH tempat yang orangnya tidak saling menyalahkan. Inilah tempat yang orangnya tidak mempersoalkan Anda penganut Islam aliran yang mana. Inilah tempat yang di pintu masuknya tidak ada yang bertanya NU-kah Anda atau Muhammadiyah, Wahabikah Anda atau Ahmadiyah, Ahlussunnahkah Anda atau Syi’ah, Hisbuttahrirkah Anda atau Ikhwanulmuslimin, Jamaah Tablighkah Anda atau Islam Jamaah.

Inilah tempat yang pintunya hampir 100 buah, melebihi jumlah aliran yang ada. Inilah tempat yang halamannya seluas dada umatnya. Inilah rumah Tuhan untuk orang Islam yang mana saja dari mana saja.

Ada yang sembahyang dengan celana digulung sampai mata kaki tanpa mencela mereka yang celananya dibiarkan panjang sampai menyentuh lantai. Ada yang pakai jubah serba tertutup tanpa menghiraukan yang hanya pakai kaus lengan pendek. Ada yang sembahyang dengan pakai sarung tanpa mencela yang pakai kaus sepak bola Barcelona dengan nama Messinya atau kaus Arsenal dengan nama Fabregasnya.

Inilah masjid yang orangnya sembahyang dengan bermacam-macam gerakan tanpa ada yang merasa salah atau disalahkan. Ada yang ketika takbiratul ikram mengangkat tangan sampai menyentuh telinganya tanpa menghiraukan jamaah di sebelahnya yang tidak melakukan gerakan tangan apa-apa. Ada yang tangannya konsisten bersedekap di dada tanpa mempersoalkan orang yang tangannya begitu sering masuk ke saku jubahnya seperti mencari-cari benda yang hilang. Ada yang sambil sembahyang matanya terpejam tanpa menegur sebelahnya yang sibuk mematikan handphone-nya yang tiba-tiba berdering.

Inilah tempat yang jamaahnya tidak mempersoalkan mengapa ada yang dapat tempat sembahyang di dekat Ka'bah dan ada yang hanya dapat tempat di pinggir jalan atau di tangga atau bahkan harus sembahyang di atas pagar yang lebarnya hanya setapak. Inilah tempat yang orangnya hanya konsentrasi memikirkan bagaimana agar dirinya sendiri bisa diterima menghadap Tuhannya tanpa peduli apakah Tuhan juga menerima penghadapan yang lain.

Inilah tempat yang semua orangnya ingin mendapat tempat yang terdekat dengan Tuhan tanpa perlu melarang atau menyingkirkan atau membunuh orang lain yang juga menginginkan posisi yang terdekat dengan Tuhan. Inilah tempat sembahyang muslim yang bersujud di aspal sama nikmatnya dengan bersujud di permadani tebal.

Inilah tempat yang orangnya tidak mempermasalahkan apakah tempat sembahyang bagi wanita harus disembunyikan di balik dinding atau di balik tabir. Ada yang sembahyang berkelompok sesama wanita dengan pembatas kain rendah tanpa menyalahkan wanita yang sembahyangnya tercampur dengan pria. Ada tempat sembahyang khusus laki-laki tanpa menganggap tidak sah beberapa laki-laki yang sembahyang di tengah-tengah jamaah wanita, bahkan dengan posisi berdempetan dengan wanita di sebelahnya itu.

Inilah tempat yang membuat saya termenung lama mengapa jutaan manusia yang datang ke tempat ini tidak mempersoalkan aliran orang lain sebagaimana kalau mereka berada di tempat asal mereka. Mungkinkah karena begitu egoisnya mereka yang datang? Mungkinkah begitu individualistik nya mereka yang ke tanah haram? Mungkinkah muncul kesadaran bahwa pada akhirnya Tuhanlah yang memutuskan siapa yang berhak dekat dengan-Nya dari mana pun alirannya?

Inilah tempat yang membuat saya tertegun sejenak: mungkinkah karena di sini tidak ada yang merasa dominan sebagai mayoritas? Mungkinkah perasaan kehilangan dominasi mayoritas itu yang menyebabkan segala yang minoritas harus disingkirkan? Mungkinkah karena di sini tidak ada yang merasa menjadi tuan rumah sehingga semua orang adalah tamu?

Inilah tempat yang membuat saya berpikir: begitu indahnya kah keberagaman yang seimbang itu?

Inilah tempat yang membuat saya ingat begitu kerasnya persaingan dunia usaha: mungkinkah kedamaian di tempat ini karena masing-masing aliran tidak sedang me-marketing-kan aliran masing-masing? Mungkinkah marketing aliran itu yang membuat terjadinya perebutan pasar sehingga yang minoritas merasa harus meningkatkan market share-nya dan sang market leader mati-matian melawan setiap penggerogotan pasarnya?

Wallahualam. Tuhan bukan pasar dan tidak akan memedulikan posisi pasar.

Sebagai orang yang sejak kecil berada di lingkungan ahlussunah dan dilatih praktik ibadah ahlussunnah dengan gerakan sembahyang yang begitu tertib (sampai posisi jempol kaki saat duduk takhiyat akhir pun dibetulkan dengan keras) di tempat ini ternyata saya juga bukan lagi mayoritas.

Inilah tempat yang membuat saya paham bahwa mayoritas atau minoritas itu ternyata nisbi. Sepenuhnya bergantung pada tempat dan waktu. (c2/lk)

24 PEDOMAN MENGHANGATKAN HUBUNGAN PASUTRI:


  1. Jangan sampai rutinitas pekerjaan membuat pasangan melupakan pentingnya meluangkan waktu bermesraan. Berkumpul itu penting. Buat jadwal harian, dan mingguan yang harus disepakati. Disiplin menjalankannya. Gunakan kesempatan itu untuk bercanda dan bercengkerama sehingga emosi positif masuk dalam memori setiap anggota keluarga.
  2. Berikan reward. Berupa pujian atau hadiah atau bentuk apresiasi lainnya kepada pasangan dalam menjalankan kewajiban. Beri pujian kepada suami atas jirih payahnya dalam bekerja untuk keluarga. Beri pujian kepada istri atas pengelolaan rumah tangga yang baik, mengurus dan membimbing anak. Beri acungan jempol, katakan masakan istri enak, beri kecupan hangat, peluk pasangan, atau katakan i love u. Itu sudah membuat pasangan merasa melayang tersayang-sayang.
  3. Jadi pendengar yang baik. Antusiaslah ketika pasangan sedang bercerita. Entah itu penting atau tidak. Apa efeknya? Pasangan akan saling terbuka, permasalahan dapat teratasi sedini mungkin.
  4. Berusahalah untuk membuat pasangan bahagia. Tujuan menikah adalah untuk menunjukkan betapa besar anda mencintai pasangan, bukan untuk melihat dan membuat pasangan sedih.
  5. Ungkapkan rasa sayang anda dengan berbagai cara sesuai dengan karakter dan kesukaan pasangan. Kata mesra melalui sms disiang bolong, saat istirahat di kantor dapat membuat hati pasangan anda berbunga-bunga, dan tentu semangat menjalani pekerjaan untuk menafkahi pasangan.
  6. Berikanlah selalu hanya yang terbaik kepada pasangan. Berdandanlah di rumah, berpenampilan baik sangat dianjurkan. Hindari diri anda dari baju kumal, kaos oblong lawas, badan bau karena belum mandi dll. Jauhilah hal-hal seperti ini, maka kehidupan ranjang anda akan memukau.
  7. Berhentilah melihat dan mengagumi rumput di pekarangan orang lain. Rumput di pekarangan rumah kita tidak akan kalah hijau dan mempesona jika anda dan pasangan senantiasa menyirami dengan penuh kasih sayang dan merawatnya dengan kelembutan cinta.
  8. Penuhi keinginan pasangan dengan keiklasan. Jangan kotori segala pengorbanan anda dengan niat agar pasangan juga mau berkorban untuk anda.
  9. Berhenti berkeluh kesah dan menyesali keadaan adalah langkah yang harus anda lakukan saat ini juga. Jangan sampai menjadi karakter anda yang sangat sulit dihilangkan. Sabda nabi, lihatlah orang yang berada di bawahmu, jangan melihat keadaan orang yang ada dia atasmu.
  10. Jadikan pasangan sebagai bintang dalam setiap keberhasilan yang dicapai. Berhentilah pujian pada diri sendiri, gantilah dengan mengapresiasi pasangan.
  11. Jadikan pasangan sebagai tokoh utama dalam setiap perbincangan anda dengan pasangan. Hal ini menujukkan betapa anda sangat perhatian kepada pasangan.
  12. Buanglah jauh-jauh istilah ‘keluarga istri’ atau ‘keluarga suami’.
  13. Memahami bahwa pasangan anda mempunyai tugas yang sulit. Suami dalam perkerjaannya dan istri dalam mengelola rumah tangga.
  14. Berhati-hatilah dalam bersikap menyalahkan pasangan ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
  15. Jangan terlalu posesif kepada pasangan. Sifat posesif menyebabkan cemburu berlebihan.
  16. Perhatikan baik-baik. Berpikirlah dahulu sebelum berbicara. Sehingga anda tidak perlu menyesali atas perkataan yang membuat situasi tidak nyaman setelah anda berbicara.
  17. Redam amarah dengan berwudlu. Perbanyak istighfar dan mengingat Allah.
  18. Beri kesempatan pasangan mengutarakan komentarnya. Anda akan mengetahui permasalahan secara detail.
  19. Jangan membesar-besarkan masalah.
  20. Berempatilah. Tinggalkan sikap egois. Ketika istri sedang PMS, pahami dia. Atau anda yang mengalami PMS, jangan libatkan suami untuk ikut merasakan keadaan yang sedang anda alami. Jangan pula jadikan masa PMS sebagai pembenaran terhadap sikap anda yang tidak dapat dimengerti.
  21. Berkomunikasilah dengan pasangan sesuai dengan memahami karakter dia. Pasangan anda lebih lama hidup dengan budaya dan lingkungan sebelum anda menjadi pasangan suami istri.
  22. Jangan mengultimatum pasangan agar berbuat sesuai dengan apa yang anda kehendaki.
  23. Biasakan memberikan teladan bukan perintah. Berikan contoh langsung.
  24. Hindari sikap defensif atau membela diri. Menerima kesalahan dengan lapang dada akan menjadikan hati lebih tenang, membuat ruang gerak tidak kaku, dan perasaan lebih nyaman.
Disadur dari buku “Dialog Keluarga menuju Surga”
Up