Nikmat Iri


Iri Positif

Apa jenis iri anda? Apakah anda iri terhadap materi dan kebendaan orang lain? Atau anda iri terhadap prestasi dan kebaikan oranglain?

Saya adalah manusia biasa. Dan itu sudah niscaya. Fitrah-nya dari sana. Sebagai manusia biasa saya juga pernah merasa iri. Saya tidak luput dari iri pada teman yang punya barang-barang terbaru, terbaik, atau mahal. Tidak mau dibilang munafik. Itulah kenyataannya.

Saat ini ternyata berbeda. Saya sedang memasuki masa coba-coba. Saya dapat berubah-ubah. Saya mencari setelan yang pas sebagai jati diri. Terkadang belajar menjadi galak. Terkadang saya lembut. Di lain waktu saya sangat berani. Di waktu yang lain saya sangat sabar. Saya sadari keadaan ini. Saya merencanakannya. Inilah proses saya menuju dewasa. Dewasa yang hakiki. Kalau ada???

Masalah iri. Saya pun meneladani teori yang baik untuk saya praktikan.

Saya berusaha membentuk passion. Yang berbeda dengan orang kebanyakan. Sering saya dengar, “Mereka yang popular adalah mereka yang tampil berbeda”.

Ketika teman-teman saya membeli sepatu merk luar negeri. Mahal. Original maupun KW. Saya pusing browsing mencari sepatu merk asli Indonesia.

Sebenarnya banyak pengrajin sepatu di Indonesia. Tetapi sayangnya mereka membuat sepatu kemudian ditempeli merk luar negeri. Sebagai mahasiswa, saya sering tergiur. Sepatu murah. Merk terkenal.

Beruntung. iman saya cukup kuat. Saya gigih mencari sepatu merk dalam negeri. Negeri sendiri. Negeri Indonesia. Merk dagang sendiri. Bikinan orang Indonesia. Saya ingin menghargai usahanya. Saya akan membeli produknya. Pasti!

Satu hal yang saya baru sadar. Ketika teman-teman saya berlomba-lomba memiliki handphone pintar. Saya lupa. Seharusnya saya iri. Saya masih punya satu hape. Tidak bisa internet. Tidak bisa BBM, WhatsApp apalagi sosmed. Tapi jangan salah hape saya tahan banting dan tahan lamaaaaa...

Nikmatnya, saya tidak perlu ribut mencari charger saat hape lowbat di tengah hari. Saya tidak perlu membeli powerbank untuk bisa mencharge saat sedang bepergian. Saya lebih irit karena tidak perlu beli pulsa sosmed, pulsa full service, pulsa ini pulsa itu. Saya hanya perlu satu pulsa. Pulsa regular. Saya muda dan nggak suka ribet. Hahaha.

Setelah banyak melakukan experiment. Dari teori ke praktik. Subjek saya sendiri. Johan Hariyanto. Kini saya bisa merasakan jenis iri yang berbeda. Saya iri melihat teman kos. Sebut saja namanya python<Bukan nama sebenarnya>. Dia rajin bersih-bersih kamarnya. Rajin sekali. Sangat rajin. Clean clean clean and cleaaaar.

Saya meneladaninya. Walaupun tetap masih kalah. Tapi saya berproses agar bisa rajin bersih-bersih. Saya tekunkan. Saya disiplinkan. Dan bisa dilihat hasilnya di kamar kos saya. Boleh dikritik. Boleh dinilai. Boleh dihujat juga. Pokoknya ikhlassss

Saya juga sering iri pada teman yang suka dan mampu memberi banyak <sedekah><infak>. Iri sekali. Dari teori yang saya dapat. Sedekah itu mengkayakan. Membahagiakan. Menyehatkan. Saya iri kalau nanti saya lebih miskin gara-gara sedekah saya lebih sedikit. Saya sering sakit gara-gara infak nya sedikit. Sering emosi gara-gara jarang tersenyum. Tentu yang memberi semua itu Tuhan. Tuhan memberi nikmat sehat, nikmat cukup dan nikmat senikmat nikmatnya kepada orang-orang yang suka memberi. Saya tegaskan bukan sedekahnya. Tapi TUHAN.

Bukan apa-apa. Saya malu saja. Saat baru sedikit bisa memberi. Tapi pamernya luar biasa. Walaupun dalam hati saya berharap teman-teman juga iri bisa memberi. “Johan aja bisa, kenapa saya tidak?!”, kata hati yang ingin saya dengar dari teman-teman.

Keep Fighting !!! Learn. Action. And Share

By : @johanhariyanto
Up