BISING kupingku setiap hari mendengar suara klakson kendaraan di jalanan. Di setiap kemacetan. Di setiap bangjo perempatan. Di palang kereta api. Di saat Bis SK mau menyalip sepeda motor kecil seperti kepunyaanku.
Indahnya sopan santun di jalanan. Jika tak lagi terdengar suara klakson yang secara tak sengaja bersautan itu. Jika sesama kendaraan roda empat tak saling menyalip. Jika sepeda motor tidak nyelip-nyelip di jalur cepat pindah ke jalur lambat.
Kesal batinku sebagai anak muda yang mahasiswa perguruan tinggi negeri ternama di Solo ini. Sebagai orang berpendidikan tentu aku tahu mana yang benar dan salah. Mana yang baik mana yang buruk dilakukan. Bagaimana mengelola emosi dan nafsu dengan baiknya. Tahu kapan harus marah dan kapan harus sopan.
Rasa kesalku semakin menjadi-jadi sekarang. Melihat orang-orang bodoh di negeri ini. Sudah tahu lampu merah itu berhenti, masih ada saja orang bodoh yang nekat menerobosnya. Apalagi kandang polisi yang kecil itu yang letaknya dekat tiang lampu merah itu hanya tinggal topinya saja. Tentu orang sudah hafal dengan trik konyol bapak polisi itu. Satu orang menerobos. Satu dua tiga kendaraan ikut-ikutan. Untung aku bukan orang bodoh. Aku komitmen tinggi, aku tetap berhenti sampai lampu beranjak berganti menjadi hijau.
Pernah aku ingin marah sekali. Sepertinya darahku sudah mendidih di ubun-ubun. Ingin sekali mengejar orang-orang bodoh itu dan mencaci makinya. Tapi aku sadar. Aku ini orang berpendidikan. Mudah bagiku untuk meredam amarah hanya karena masalah sepele seperti itu. Toh, aku ini mahasiswa yang setiap harinya duduk kuliah di kursi empuk harga ratusan ribu, yang tak khawatir sumuk karena dinginnya AC ruangan yang selalu disetel suhu paling rendah itu. Jangan pernah sekalipun membandingkan aku dengan polisi lalu lintas yang tukang tilang itu! Pastilah jiwaku lebih adem.
Memang sih tidak semua mahasiswa berpendidikan. Orang harus bisa membedakan mana yang ‘mahasiswa’ dan mana yang ‘mahasiswa berpendidikan’. Mahasiswa itu sukanya ribet. Manja. Cukup bersyukur saja apa susahnya. Lebih dari setengah gajinya orang tua untuk sangu anaknya yang mahasiswa. Bahkan ada yang sampai utang sana utang sini. Beruntung yang orang tuanya PNS, bisa menggadaikan SK ke-PNS-annya untuk mudah mendapatkan utangan. Di Kos, anaknya jauh dari kesan anak perantauan yang jauh-jauh untuk belajar menuntut ilmu. Benar sih kuliah, tapi ngemallnya, nongkrongnya, bioskopnya, kulinernya, internetnya, pulsa hapenya, futsalnya, bilyarnya, minum-minumnya, rokoknya, ngejamnya, pacarannya, dan bahkan tidurnya saja sama kuliah lamaan tidurnya. Wong terkadang, di kampus saat kuliah itu juga bagian dari tempat tidurnya.
Masak iya, mahasiswa berpendidikan sampai marah-marah tidak jelas penuh-penuhin lini masa segala. Hanya gara-gara listrik tiba-tiba mati. Mahasiswa tidak tahu diri itu namanya. Emang sih, bayar. Tapi apa tahu gimana kerjanya PLN. Apa tahu kenapa listriknya padam. Untungkan negara sudah mau memasangkan listrik. Apa tidak pernah membayangkan jaman mahasiswa ‘tempo doeloe’ yang belum ada listrik itu. Apa mereka mengeluh? Mahasiswa sekarang? Beuh, tahunya marah saja!
Sebenarnya mahasiswa tidak sepenuhnya salah. Tapi aku tak cukup nyali mau ngomongin orang tuanya. Aku ini orang jawa, tidak etis kalau membicarakan kejelekan orang yang lebih tua.
Ah kita ini hobinya mengeluh saja. Sukanya menyalahkan saja. Basah kehujanan saja kita cari-cari kesalahan orang lain. Sampai ketemu. Pokoknya salah orang lain. Kepala ini disibukkan untuk bagaimana cara mencari kesalahan orang lain atas kesialan yang kita alami. Padahal kesalahan itu sedikit. Mungkin sepele. Atau kecil. Pokoknya belum lega saja kalau yang salah belum orang lain. Padahal cukup menertawakannya saja. Yang tawa itu sebenarnya adalah cara bersyukurnya kita. Yang kesalahan itu bukanlah kesalahan yang salah. Yang tak perlu marah. Yang tak perlu malu. Yang tak perlu bela mati-matian sampai pitam dinaikkan tinggi-tinggi! Yang padahal cukup tertawa dan biasa saja. Apa susahnya.
Kalau bisa membiasakan untuk biasa apa pun saja. Wong sudah terjadi itu kan namanya takdir. Apa sekarang sudah berani menyalahkan takdir? Bersikap biasa saja pasti hidup lebih bahagia. Kalau mahasiswa psikologi seperti ku istilahnya psychological well being. Pengganti kata bahagia dan sejahtera psikologis.
Duh, duh. Indonesia Indonesia...kapan majunya. Untuk apa juga maju. Begini pun sebenarnya baik-baik saja. Tidak ada yang mempermasalahkan. Kalau sedikit-sedikit orang teriak, biarin aja. Memang bisanya cuma teriak.
Sudah tengah malam, banyak sekali unek-unekku ini. Sudah capek banget rasanya, tapi belum setengahnya aku rampung menuliskannya. Masih banyak terbayang-bayang seperti: anggota DPR yang tidur, yang mbokep, yang malah berantem sendiri saat sidang; orang tua yang suka memarahi anaknya, mengkomandoi anaknya, membuat malu anaknya di depan umum, memanjakan anaknya, mengajari anak curang; terbayang juga bagaimana orang yang sok beragama yang merasa paling benar sendiri yang perilakunya tidak berbudi pekerti orang beragama; jaringan yang hobi koar-koar ngajakin golput, caleg dan parpol yang sok kaya bagi-bagi amplop padahal uang utangan; ada pejabat yang uangnya kalau mau dihitung saja sampai malas tapi serakahnya minta ampun, masih doyan korupsi; Tetangga yang sampai perang dingin gara-gara berbeda partai; sampai ada pejabat yang bikin peraturan tentang bonceng ngangkang pun diurusin, Ada satu lagi pejabat yang iming-iming hadiah mobil bagi jamaah paling rutin sholat berjamaah di masjid. Dan masih buanyaaaak lagi yang lainnya. Sayangnya, kepalaku ini sudah mulai pusing. Semua disekelilingku rasanya berputar. Sepertinya vertigoku kumat.
Pelan-pelan aku membuka mata. Kucari-cari hape ku yang ternyata tertindih di bawah tubuhku sendiri. Aku lihat jamnya. Astaghfirullah, sudah pukul 9 pagi. Sepertinya aku semalam ketiduran. Atau mungkin pingsan. Dan tersadar, aku ini lupa tidak shubuhan. Buru-buru aku berlari ke kamar mandi. Di depan cermin kamar mandi aku bersyukur, aku masih orang Indonesia.
