SAKING DEMOKRATISNYA


Jaman sekarang mendidik anak kecil bisa dibilang susah-susah gampang. Anak tidak bisa lagi dipaksa untuk menuruti perintah orang tua. Berbeda dengan 20 tahun lalu di mana orang tua tidak segan menghukum anak jika tidak mau menurut.

Pola asuh yang cenderung otoriter mulai ditinggalkan. Berganti menjadi pola asuh demokratis yang terbukti efektif mendukung perkembangan anak.

Nah, di keluarga ku pun begitu. Waktu aku masih kecil orang tua memberi hukuman jika aku berbuat salah. Hukumannya pun bermacam-macam. Kadang hanya dijewer, kadang dicubit, kadang jika nakalnya keterlaluan sampai diseblak pakai daun kelapa.

Kini cara mengasuh orang tua ku pun berubah. Adikku yang usianya akan menginjak 5 tahun itu diasuh dengan pola asuh yang demokratis. Misalnya saat jam sarapan, orang tua pada umumnya memerintah "Dek, ayo sarapan!" Atau saat waktunya mandi "Dek, ndang mandi sudah siang keburu telat sekolah!". Berbeda dengan kebanyakan. Kalimat perintah seperti itu tidak akan terdengar di keluarga ku. Bapak atau Ibu terbiasanya berkata "Dek, makan atau nggak?" Atau "Dek, mandi atau nggak?". Bahkan untuk urusan sekolah pun juga "Dek, sekolah nggak?"

Ajakan dengan bertanya dan bukan perintah seperti itu sebenarnya baik. Anak menjadi terbiasa melakukan suatu perbuatan karena kesadarannya sendiri, bukan karena paksaan. Sehingga peran orang tua hanya menjadi pengingat saja. Tetapi konsekuensinya orang tua harus dituntut sabar. Menunggu mood anak agar mau dengan kesadaran sendiri tidak lah gampang. Orang tua harus kreatif dalam menyiasati pertanyaan yang sebenarnya ajakan itu. Karena anak pintar sekali membuat alasan sehingga yang harusnya anak sudah siap berangkat ke sekolah menjadi tertunda karena anak masih malas untuk mandi.

Paling parah orang tua yang tidak pandai menyiasati kemauan anak, bisa jadi anak tidak hanya tertunda makannya atau tertunda berangkat sekolahnya. Bisa jadi anak tidak mau sekolah!

Kejadian seperti ini pernah terjadi pada adik ku yang masih playgroup itu. Adik ku benar-benar tidak mau sekolah. Tidak hanya satu dua hari. Atau satu dua minggu. Kalau tidak salah waktu itu sampai dua bulan.

Guru-guru playgroup adik ku sering menanyakan lewat sms kenapa adik tidak pernah ke sekolah. Beberapa kali juga guru-guru itu datang ke rumah. Membawa oleh-oleh dan satu anak dari guru itu yang juga teman adik. Tapi adik tetap tidak mau sekolah.

Orang tua pun mendatangi sekolah. Mendiskusikan dengan guru di sana yang kebetulan juga lulusan psikologi. Orang tua mendapat nasehat agar tidak segan sesekali memarahi anak.

Beberapa kali juga Bapak mengajak adik lewat sekolah berharap adik pengen sekolah lagi. Tapi sepertinya adik cuek, keukeuh tidak mau lagi sekolah.

Sampai akhirnya orang tua berpikiran untuk mengajukan permohonan pengunduran diri adik. Orang tua mengajak adik ke sekolah. Walaupun awalnya tidak mau ikut karena takut disuruh sekolah akhirnya menurut juga. Saat ke sekolah itu bertepatan dengan waktu istirahat. Adik bertemu dengan teman yang dia kenal, tidak menunggu waktu lama, mereka langsung akrab bermain bersama.

Sebelum Bapak akan masuk menemui guru, bapak bertanya sekali lagi kepada adik "Dik, besok sekolah po piye?" Spontan adik menjawab "Iyaaaaa!" Senyum menyungging di bibir Bapak dan Ibu saat itu. Akhirnya rencana mengundurkan diri batal. Ganti dengan rencana besok mengantarkan adik sekolah lagi.

Inilah sedikit cerita tentang bagaimana konsekuensi pola asuh demokratis jika diterapkan. Rencana kegiatan terkadang tertunda sejenak. Terkadang saking demokratisnya rencana itu menjadi mandeg. Mungkin penerapan pola asuh demokratis memang paling baik. Tetapi sesekali memang harus dilaksanakan dengan ketegasan terhadap suatu hal yang memang harus tegas. Apalagi penerapannya kepada anak yang masih kecil, anak yang masih playgoup yang akan naik ke TK. Tetapi aku tetap yakin penerapan pola asuh demokratis ini dapat dilihat hasilnya saat anak yang playgroup itu nanti telah dewasa. 

Ini murni membahas tentang pola asuh orang tua. Bukan untuk menyinggung pemerintah, birokrasi, atau anggota parlemen itu. Siapa saya, mana berani melakukan kritik kepada mereka?***

Up