INILAH tokoh yang saya kagumi sepeninggal Gus Dur. Inilah tokoh yang saya anggap paling pas memimpin negeri ini setelah Pak SBY. Inilah teladan baru saya, Dahlan Iskan.
Dialah orang yang pernah hidup sangat miskin di desa yang mayoritas penduduknya miskin. Dialah orang yang pernah tidak naik kelas sewaktu masih sekolah dasar. Dialah orang yang tidak lulus kuliah karena droup out dari perguruan tinggi. Dialah orang yang hampir mati karena terserang kanker hati, di saat berada di puncak karir, pemimpin perusahaan besar, Jawa Pos.
Setelah lolos dari maut karena keberhasilan operasi ganti hati itu, Dahlan Iskan tidak ingin lagi mengurusi perusahaan. Dahlan Iskan tidak ingin lagi berbisnis. Dahlan Iskan tidak ingin lagi mencari uang.
Tapi nasib berkata lain, sebelum kesehatannya benar-benar 100% fit, beliau ditunjuk untuk memimpin PLN yang masalahnya sangat ruwet saat itu. Berkali-kali Dahlan Iskan menolak. Tapi berkali-kali juga presiden meminta.
Belum genap 2 tahun menjadi orang nomor 1 di PLN, Dahlan Iskan diminta untuk ‘naik kelas’ menjadi Menteri BUMN. Yang awalnya Dahlan Iskan menolak mati-matian menjadi dirut PLN, saat diminta meninggalkan jabatan itu, Dahlan Iskan justru menangis.
Dan kini Dahlan Iskan pun memiliki kesempatan untuk naik kelas lagi. “Menjadi presiden adalah menjemput takdir” kata Beliau.
Tentu orang naik kelas itu karena punya prestasi. Dan Dahlan Iskan ini gudangnya prestasi. Bisa dibilang hobinya bikin prestasi. Hampir setiap yang beliau kerjaan selalu berhasil. Media Singapura bahkan menyebut Dahlan Iskan sebagai “Mister Turnaround”.
Dahlan Iskan sangat fokus dengan peran yang sedang dijalaninnya. Baik saat di Jawa Pos. Baik saat menjadi Dirut PLN. Baik saat menjadi Menteri BUMN.
Dahlan Iskan sangat bergairah dengan kehidupannya. Bisa jadi, jika sehari manusia bisa tetap sehat tanpa istirahat, mungkin itulah yang beliau lakukan, tidak tidur.
Setelah ganti hati, Dahlan Iskan sangat ketat memperhatikan kesehatan. Tidak hanya untuk dirinya. Bahkan kesehatan orang lain. Anak buahnya.
Saat di Jawa Pos Dahlan Iskan sangat tegas, sangat keras, sangat jueh, dan galaaak... Hal itu beliau lakukan untuk memajukan Jawa Pos. Dan memang berhasil. Anak buahnya pun tidak tersinggung. Karena di luar sikap kerasnya itu Dahlan Iskan sangat santun. Tidak segan-segan berkumpul langsung dengan semua anak buahnya. Tidak segan untuk memuji anak buahnya, bahkan siapa pun, termasuk lawan bisnisnya, yang memang pantas mendapat pujian.
Dahlan Iskan merupakan salah seorang konglomerat di negeri ini tetapi tetap menjalani kehidupan dengan cara sederhana. Mungkin karena pernah hidup sangat miskin sewaktu kecil. Mungkin juga karena tidak ingin menyakiti rakyat miskin yang masih 150 juta itu.
Dahlan Iskan manusia yang super sibuk, tapi tetap religius. Menjalankan peran dunia tapi tidak melupakan agama. Beliau berangkat dari kehidupan pesantren. Dari keluarga pesantren. Pernah nyantri juga. Dan kini pemimpin pondok pesantren. Karena itu juga lah Dahlan Iskan sangat toleran. Pemimpin Syechker mania. Pemimpin Barongsai Indonesia.
Sekarang ini mencari teladan hidup susah. Sepeninggal Gus Dur, saya sempat linglung. Saya sempat lama merasa kosong. Saya sempat protes. Agak marah. Harusnya sudah ada penggantinya. Saya mencari ke mana-kemana, siapa saja saya pelajari.
Justru saat mencari itulah saya menemukan masih banyak orang yang baik. Masih banyak orang yang jujur. Masih banyak orang yang tegas. Masih banyak orang yang toleran. Masih banyak orang yang rendah hati. Masih banyak orang yang memikirkan rakyat. Masih banyak orang yang cerdas. Masih banyak orang yang optimis. Masih banyak orang yang manusia. Masih banyak orang yang Indonesia.
Saya mencari yang paling lengkap. Kemudian pada Dahlan Iskan inilah saya menjadikannya salah satu teladan. Kehidupannya dan kemampuannya menulis. ***
Johan Hariyanto
Mahasiswa UNS Surakarta
