30 Menit Kajian, Baru Sampai Mukadimah

Catatan Kajian 1

Oleh : Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi

Tema: Kitab Ar Risalatul Jami'ah wat Tadzkirotun Nafi'ah karya Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi (terjemahan)


Sore ini (8/10) saya mengikuti kajian di Masjid Nurul Huda, UNS. Kajian Rutin Ar-Raudhah Kampus. Kajian ini diadakan setiap hari selasa pukul 16.00 wib pada minggu ke-2 dan minggu ke-4. Kajian kali ini merupakan kajian pertama setelah lebaran. Awalnya kajian dipimpin langsung oleh Habib Novel al-Alaydrus, tapi karena kesibukan beliau maka sekarang dipimpin oleh Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi.

Kajian kali ini membahas mengenai kitab Ar-Risalatul Jami'ah wat Tadzkirotun Nafi'ah karya Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi. Beberapa testimoni mengenai kitab ini, antara lain:
"Kitab ini kecil, tapi kalau mau jadi ulama yang besar harus bisa menguasai kitab ini dulu, kalau gak bisa menguasai kitab ini jangan mimpi jadi ulama besar. Justru kitab kecil ini yang ngarang ulama besar." (Habib Novel bin Muhammad Al-'aydrus (Pimp. Majelis Ilmu dan Dzikir Ar-raudhah)
"Ar Risalatul Jami'ah yang menghimpun Ushuludin, Fiqih dan Tasawuf karya Sayid Ahmad bin Zein al-Habsyi. Beberapa sahabat memintaku untuk menuliskan syarh-nya, maka aku pun memenuhi keinginan mereka." (Imam Nawawi al-Banteni)
Kajian ini akan menyelesaikan pembahasan mengenai kitab karya Ahmad bin Zein al-Habsyi tersebut sebelum ganti ke pembahasan yang lain. Begitu seterusnya. Kitab ini sudah bentuk terjemahan. Diterbitkan ulang oleh Pustaka Zawiyah. Panitia sudah menyiapkan kitab ini untuk mempermudah dalam menyimak kajian. Lalu jika kami berminat, kami hanya perlu mengganti uang 5 ribu rupiah. Setiap orang yang mengikuti kajian diharapkan selalu membawa kitab tersebut. Karena kami merasa perlu memiliki kitab tersebut maka sebagian besar kami membelinya.

Kajian akan dilaksanakan dengan durasi waktu maksimal 30 menit. Dengan pertimbangan agar peserta tidak cepat bosan. Agar kajian dapat diserap dengan efektif. Dan mempertimbangkan juga waktunya dekat dengan maghrib.

Pada kesempatan perdana ini, kami hanya sempat mengkaji sampai bagian Mukadimah (pendahuluan). Mukadimah diawali dengan bacaan basmallah. Di dalam bacaan basmallah terkandung dua asmaul husna, yaitu ar Rahman (Maha Pengasih) dan ar Rahim (Maha Penyayang). Allah Swt memilih dua asmaul husna ini di antara 1000 asmaul husna yang lain (300 di Injil, 300 di Taurat, 300 di Zabur, 99 di al Quran, dan 1 lagi tapi Habib Muhammad lupa di kitab apa). Artinya bahwa rahmat Allah sangat banyak. Allah memberikan kenikmatan-kenikmatan dan kenikmatan-kenikmatan lagi kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Allah Swt baru marah apabila seseorang yang berbuat dosa lalu diberikan kenikmatan lagi dan lagi agar sadar tapi ia masih terus berbuat dosa.

Lalu dilanjutkan dengan kalimat: Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Pujian yang menyamai nikmat-nikmat-Nya dan mencukupi tambahan-Nya. Habib Muhammad bin Husein menjelaskan bahwa nikmat Allah sangat luas. Nikmat Allah terbagi menjadi nikmat umum dan nikmat khusus. Nikmat umum bagi siapa pun. Nikmat khusus hanya kepada orang-orang yang beriman.

Lalu kalimat selanjutnya: Dan semoga Allah selalu melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Habib Muhammad bin Husein menjelaskan bahwa ada ulama-ulama yang memiliki beberapa pendapat mengenai kewajiban shalawat Nabi Saw. Ada yang berpendapat shalawat hanya perlu dilakukan minimal sekali seumur hidup. Ada juga yang berpendapat shalawat wajib dilakukan setiap hari. Sebenarnya shalawat sudah kita baca setiap hari, minimal ketika kita shalat di awal saat duduk takhiyat. Ada pun shalawat sangat dianjurkan, salah satunya karena ada dalil di dalam al Qurnan ini:
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.“ (Q.S. al-Ahzab:56)
Kita sebagai umat Muhammad Saw harus merasa beruntung. Kita menjadi umat dari Nabi yang paling mulia. Nabi akhir zaman. Kita menjadi umat yang akan lebih dulu dihisab sebelum umat yang lain. Oleh karena itu kita harus sering bershalawat. Kita harus malu, karena Allah dan malaikat-malaikat-Nya saja selalu bershalawat.

Sebenarnya banyak sekali dalil yang menganjurkan kita untuk bershalawat. Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi bahkan menganjurkan bahwa kita minimal mengucapkan shalawat 1000 kali sehari, karena Nabi Muhammad Saw pernah bersabda bahwa orang yang ingin tidak merasakan antrian pada saat nanti di akhirat adalah orang yang mau bershalawat kepada ku (Nabi Saw) sebanyak 1000 kali sehari. Kurang lebih hadits-nya seperti itu. Cara agar bisa bershalawat 1000 kali sehari sebenarnya mudah. Kami bisa bershalawat saat perjalanan. Lebih mudah agar selalu ingat, kami agar membawa tasbih.

Setelah selesai membahas shalawat ini kajian sudah lewat dari 30 menit. Kajian kali ini dicukupkan. Dan Habib Muhammad menutup dengan diskusi.

Setelah kajian ini selesai saya tidak langsung pulang. Karena waktu maghrib sebentar lagi, maka saya memutuskan sekalian maghrib di NH saja.

Wallahualam

Catatan lain kajian hari ini:
  1. Pada kitab ar-Risalah yang akan kami bahas berisi mengenai bab Aqidah, bab Ibadah dan bab Tasawuf/akhlak.
  2. Pada bagian aqidah, kami jangan sampai menjadi orang yang suka mengkafirkan dan mensyirikkan orang sesama muslim. Jangan sampai seperti orang Khawarij yang merasa paling benar dan suka mengkafirkan sesama muslim. Sekarang ini, orang khawarij sudah tidak ada tapi yang mirip-mirip ada. Makanya kami harus banyak belajar lagi.
  3. Pada bab ibadah nanti kami akan dijelaskan secara mendalam mengenai ibadah. Karena ternyata cara ibadah orang sekarang masih banyak yang keliru. Misal khatib jumat masih banyak yang belum tahu syarat mengenai khotbah. Harus ada alhamdulillah, shalawat, baca surat al Quran di salah satu khotbah, mendoakan jama'ah dan mengajarkan akhlak.
  4. Pada bab akhlak, kami akan dijelaskan mengenai menjadi muslim yang baik. Menjaga hati dan tubuh dari maksiat. Bahwa ciri khas muslim adalah akhlaknya yang rahmatan lil alamin.
  5. Semoga kami bisa rutin mengikuti kajian ini. Ibadah yang dilakukan rutin walaupun sedikit (sebentar) lebih baik daripada ibadah yang dilakukan hanya sesekali yang banyak (lama).
Alhamdulillah, tidak sabar mengikuti kajian selanjutnya. Semoga saya bisa istiqomah. amin (*) (jh)
Up