INDONESIA (MASIH) BUTUH ANAK PUNK

Cerita Dua anak PUNK di Gramedia

Ketika saya baru sampai di gramedia, solo, kemarin tanggal 29 Januari 2013, saya melihat dua anak berpakaian urakan keluar menuju parkir basement. Memperhatikan pakaian mereka: jaket kumal, celana jeans terpotong tidak rapi, sandal jepit dan  rambut urakan dicat kuning. Perhatian saya kemudian menuju pada plastik kresek yang dibawa salah satu anak. Saya perkirakan di dalamnya adalah buku, mereka habis membeli buku. Saya berpikir, buku seperti apa yang dibeli anak-anak itu.

Bukan ingin merendahkan anak PUNK. Karena saya punya teman anak punk yan juga mengoleksi buku-buku tentang sejarah punk dan macam-macam punk. Tapi, tidak biasa saja melihat orang berpakaian urakan masuk toko buku. Biasanya adalah orang-orang dengan pakaian rapi, berkaca mata, atau gerombolan anak-anak sekolah yang masih berseragam.

Apa ini ada kaitannya dengan Novel “endank soekamti”. Group Band asal Jogja ini pada tanggal 12-12-2012 mengeluarkan album berjudul “angka 8”. Album ini berbeda dari sebelumnya, harus membeli satu paket dengan Novel dengan judul sama dengan album.

Sebagai loyalitas fans pada band kesayangan. Harga Rp 50.000,00 bukanlah suatu hal yang mahal. Kamties Family, sebutan fans mereka, memang terkenal sangat banyak dan  loyal. Di mana pun Endank Soekamti manggung, mereka selalu ada. Tidak hanya fans dari daerah tempat manggung, tapi hampir semua fans dari setiap daerah pun akan datang.

Saya yang juga suka dengan band ini, namun tidak member Kamties Family. Beberapa kali saya datang melihat mereka manggung di Sragen dan Solo. Saya membuktikan langsung loyalitas fans mereka yang berbondong-bondong dari daerah lain. seperti melihat supporter sepakbola, mereka datang ada yang menggunakan kendaraan pribadi, ada yang naik kendaraan umum, ada juga yang nggembel.

Dari fakta ini, saya mengkaitkan antara dua anak punk tadi dengan novel Endank Sukamti. Saya tidak yakin apakah mereka adalah anak-anak punk yang ada di jalanan, atau murni Kamties Family. Endank Sukamti memang band dengan aliran Melodic Punk. Tetapi fans mereka bukanlah dari anak-anak street punk semua. Memang tampilan mereka banyak yang meniru anak punk jalanan atau meniru personil Endank Sukamti (Eric, Dori, Ari) tetapi banyak juga yang tampil rapi dan hanya menjadi penikmat musik mereka.

Dan jika analisa saya salah, mudah-mudahan membeli buku bukan karena nge-fans dengan idola saja. Tetapi merupakan kesadaran SDM Indonesia terus belajar melalui membaca buku. terlepas dari itu semua terimakasih kepada Endank Sukamti yang secara tidak langsung mengajarkan generasi muda suka membaca.

Kiat Menulis Enak ala Dahlan Iskan

Oleh LAMBERTUS HUREK

Di GRAHA PENA Surabaya, markas Grup JAWA POS, DAHLAN ISKAN lebih akrab disapa Pak Bos. Pria kelahiran Magetan 17 Agustus 1951 ini memang bos Grup JAWA POS. Di masthead koran-koran di lingkungan Grup JAWA POS, jabatan resmi Dahlan Iskan adalah chairman. Memang, selain membesarkan JAWA POS (dan grupnya) dialah ‘roh’ Grup JAWA POS.

Yang menarik, berbeda dengan bos-bos media lainnya, Dahlan Iskan ini tetap menulis. Bikin reportase, kolom, analisis berita... pokoknya menulis. Menulis kapan saja dia suka. Menulis dan membaca sudah menjadi darah daging tokoh pers nasional itu. Kalau sudah ada ide, di mana pun, kapan pun... Dahlan Iskan menulis.

Belum lama ini, Pak Bos jalan-jalan di Singapura. Jalan kaki di Orchard Road dengan trotoar yang rindang. Nah, di trotoar itu muncul ide untuk menulis masalah kota, sekadar masukan untuk Kota Surabaya. Maka, ayah dua anak ini menulis di trotoar itu. Besoknya, tulisan itu dimuat di JAWA POS, dan beberapa koran anak perusahaan JAWA POS.

“Dahlan Iskan itu penulis dan wartawan yang belum ada duanya di Jawa Timur, bahkan Indonesia,” k`ta BAMBANG SUJIYONO, seniman teater, pentolan BENGKEL MUDA SURABAYA, kepada saya.

“Harusnya kita punya banyak wartawan kayak dia. Sekarang ini wartawan buanyaaaaak sekali, media berlimpah, tapi hampir nggak ada wartawan yang punya tulisan bagus. Kayaknya wartawan-wartawan sekarang ini nggak bakat menulis deh. Makanya, tulisannya nggak karuan,” kata Bambang, bekas anggota DPRD Jawa Timur, juga bekas pemimpin redaksi beberapa media cetak di Surabaya.

Bambang Sujiyono, juga sejumlah seniman, mahasiswa, pengamat, serta kalangan terdidik di Jawa Timur, memang sejak lama ‘kecanduan’ tulisan Dahlan Iskan. Kalau Pak Bos lama tak menulis karena sibuk (maklum, urusan dan jabatannya banyak), orang-orang macam Bambang ini telepon atau titip pesan lewat redaksi agar Pak Bos segera menulis lagi.

"Ada teman saya yang hanya mau baca tulisan Dahlan Iskan. Tulisan-tulisan lain dianggap nggak ada. Hehehe...,” kata Bambang Sujiyono lalu tertawa khas. Saya hanya mengangguk mendengar komentar Bambang. Lalu tertawa.

Bu Yuli, pemimpin sebuah kelenteng besar di Surabaya, juga berkali-kali 'titip pesan' lewat saya agar Pak Dahlan Iskan sering-sering menulis. Katanya, tulisan-tulisan Dahlan Iskan sangat kinclong, hidup, menarik, dan bikin pembaca ketagihan. Dia baca berkali-kali tulisan Pak Dahlan, tapi tidak pernah bosan.

"Hurek, kalau bisa kalian wartawan yang masih muda-muda ini belajar dari Pak Dahlan Iskan. Orang itu memang luar biasa. Ciamik soro, kata orang Tionghoa," kata Bu Yuli yang kebetulan sangat dekat dengan saya. Tiap kali ada hajatan besar di kelentengnya, entah itu Sincia, Cap Go Meh, sejit, hari jadi Kongco... saya pasti diundang.

Pendapat sama sebetulnya juga disampaikan pembaca JAWA POS dan RADAR SURABAYA, khususnya mereka yang punya ‘rasa bahasa’. Mereka menilai karya Dahlan Iskan itu unik, sulit ditiru, mengandung kejutan, jenaka, jelas, menghibur.

“Wislah, bilang bosmu itu (maksudnya Dahlan Iskan) supaya menulis terus. Sibuk ya sibuk, tapi ojo lali menulis. Penggemare akeh,” papar Bambang Sujiyono (sekarang sudah almarhum).

Saya pun sepakat dengan penilaian pembaca-pembaca kritis ala Bambang Sujiyono. Selain enak dan menghibur, Dahlan Iskan mampu mendudukkan persoalan secara terang dan jernih. Apa-apa yang tadinya gelap, remang-remang, jadi jernih setelah saya membaca tulisan Pak Bos.

Ambil contoh kasus haji (2007). Soal muasasih di Makkah yang menyediakan katering jemaah haji. Saya sering baca tulisan teman-teman wartawan, baca artikel di banyak media, dengar penjelasan dari wartawan senior yang sudah naik haji. Tapi penjelasan tentang seluk-beluk katering dan pengaturan makan jemaah haji tak pernah jelas. Tulisan wartawan-wartawan muda di koran malah bikin bingung. “Mbulet,” kata orang Jawa Timur.

Sabtu, 20 Januari 2007, Dahlan Iskan menulis di halaman satu JAWA POS. Dia bahas masalah katering, muasasah, kebijakan Menteri Agama MUHAMMAD MAFTUH BASYUNI. Begitu membaca tulisan Pak Bos, saya langsung paham apa yang menimpa sekitar 200 ribu jemaah haji kita di Arab Saudi akhir Desember 2006.

Pak Bos menulis pendek, sederhana, logis, cespleng. Cukup satu artikel pendek, Dahlan Iskan berhasil memberi gambaran seputar persoalan haji. “Kalau bisa disederhanakan, kenapa harus rumit-rumit?” begitu kira-kira salah satu jurus menulis Pak Bos.

Senada dengan Bambang Sujiyono, saya sepakat bahwa Pak Bos ini punya talenta lebih. Dus, sulit ditiru wartawan lain, termasuk saya, meskipun dulu beliau sering memberikan bengkel atau latihan menulis kepada wartawan JAWA POS dan beberapa koran anak perusahaan. Karena tulisannya enak, selalu ditunggu, redaktur selalu menempatkannya di halaman muka.

“Daya tarik tulisan Dahlan Iskan memang luar biasa,” kata LUTFI SUBAGYO, bekas pemimpin redaksi SUARA INDONESIA (Grup JAWA POS). Karena itu, dulu, saban Sabtu Lutfi menempatkan ‘catatan ringan’ Dahlan Iskan di halaman satu. Oplah hari itu pun naik, karena banyak warga Surabaya yang beli koran hanya untuk menikmati tulisan Pak Bos.

Nah, sebagai wartawan di Graha Pena, saya beruntung pernah mendapat gemblengan langsung dari Pak Bos meski tidak secara khusus. Learning by doing, itulah yang dilakoni Pak Bos. Saya pernah mencoba meniru gayanya, tapi gagal.

Berikut sedikit KIAT MENULIS ALA DAHLAN ISKAN hasil interpretasi saya sendiri:

LEAD HARUS SANGAT MENARIK

Ketika Dahlan Iskan belum sesibuk sekarang, dia selalu berjalan keliling ke meja wartawan. Membaca sekilas berita wartawan di laya komputer. Sasaran pertama adalah LEAD alias TERAS alias INTRO alias PEMBUKA alias ALINEA PERTAMA tulisan.

“Lead-mu 6. Cepat diperbaiki sampai 8. Kalau belum 8, nggak bisa dimuat. Lead harus sembilan,” kata Dahlan Iskan usai membaca beberapa baris berita salah satu reporter. Teman saya itu cepat-cepat memperbaiki lead-nya. “Coba saya lihat. Hmm.. lumayan, sudah 7, belum 8. Coba lagi,” kata Dahlan, bekas wartawan majalah TEMPO, itu.

“Bagaimana kalau kalimat di bawah ini Anda angkat ke atas. Dibuat lebih bagus agar enak dibaca?” usulnya.

Kursus menulis berita macam ini dilakukan Dahlan Iskan, dulu, terus-menerus di newsroom kami. Sambil kasih kursus, tak lupa Dahlan Iskan membagi-bagi permen atau kacang goreng: tiap-tiap wartawan satu atau dua biji. Sedikit tapi merata.
Dahlan suka lead yang spontan, unik, tidak klise. Pembaca sejak awal harus dibuat tertarik membaca sampai selesai. Dan itu ada teknik tersendiri.

HUMOR CERDAS

Sebagai orang Jawa Timur, Pak Bos punya koleksi humor berlimpah. Kebanyakan didengar dari teman-teman, wong cilik, obrolan di warung kopi. Humor cerdas kerap jadi pembuka (lead) tulisannya.

Contoh: “Di dunia ini ternyata ada empat hal yang tidak bisa diduga: lahir, kawin, meninggal, dan ... Gus Dur!”

Selain di lead, humor kerap dipasang Pak Bos di akhir tulisannya. Bacalah terus karya dahlan, niscaya di akhir atau menjelang akhir ada kejutan. “Benar-benar mengagetkan,” kata ROHMAN BUDIANTO, redaktur senior JAWA POS, kini pemimpin redaksi RADAR MALANG.

KALIMAT-KALIMAT PENDEK

Dahlan Iskan suka kalimat-kalimat pendek. Antikalimat panjang, apalagi yang beranak-pinak alias kalimat majemuk bertingkat.

“Bagaimana kalau kalimatmu dipotong? Dibagi dua atau tiga,” ujar Pak Bos kepada seorang pemimpin redaksi (kini bekas).

“Enak mana: kalimat panjang atau pendek?” tanya Pak Bos. “Enak pendek, Pak Bos,” jawab si pemred yang sebelumnya suka pakai kalimat majemuk.

Kalimat-kalimat pendek kerap ‘melawan’ aturan tata bahasa Indonesia. Sebab, kalimat dipotong sebelum waktunya. “Anak kalimat kan tidak bisa berdiri sendiri?” protes editor bahasa.

Tidak apa-apa, kata Pak Bos. Alasannya, tulisan di koran harus mudah ditangkap pembaca. Kalau kalimat-kalimat si wartawan terlalu panjang, pembaca akan capek. Dan dia tidak mau baca koran lagi. Toh, koran bukan kitab tata bahasa.

Petikan tulisan Dahlan Iskan di JAWA POS, 21 September 2007:

"Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele, tapi sebenarnya penting.

Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat, begitu saya mengajarkan, bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto.

Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual.

Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. Kalimat pendek, begitu saya mengajar, akan membuat tulisan menjadi lincah.

Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. Semakin pendek sebuah kalimat, semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Kutipan itu -- direct quotation -- juga harus pendek-pendek.

Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Tapi, dengan selingan kutipan-kutipan pendek, tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita."

MENULIS SEPERTI BERBICARA

Gaya bicara Pak Bos hampir sama dengan gayanya menulis. Ini membuat beliau tidak susah mengalihkan wacana di kepala ke dalam tulisan.

Spontanitas, humor cerdas, cerita-cerita menarik, keluar begitu saja.

KALIMAT SEDERHANA, NARATIF

Kalimat-kalimat sederhana memang jadi ciri khas Dahlan Iskan. Tulisannya selalu bertutur alias naratif.

Sebelum ada gembar-gembor jurnalisme naratif, jurnalisme baru, jurnalisme sastrawi, Dahlan Iskan sudah melakukannya sejak 1980-an. Berbeda dengan GOENAWAN MOHAMAD yang puitis, berusaha menemukan kata yang benar-benar pas, kalimat-kalimat Dahlan Iskan mengalir begitu saja.

“Tulisannya gampang diikuti, enak pokoknya,” ujar AAN ANDRIYANI, staf sebuah dealer sepeda motor di Surabaya, kepada saya.

Bahasa Pak Bos tidak ‘ndakik-ndakik’, penuh kata asing, sok ilmiah, mbulet... karena dia ingin pembaca koran, ya, semua warga, menangkap apa yang ditulisnya. Buat apa menulis kalau tidak dibaca karena kalimat-kalimatnya mbulet gak karuan?

MEMORI YANG SANGAT KUAT

Kalau wartawan-wartawan lain sibuk mencatat, merekam, jemprat-jepret... Dahlan Iskan tenang-tenang saja saat wawancara. Dahlan Iskan tidak pernah mencatat kata-kata sumber atau data-data.

Dia menyimak penjelasan sumber dengan serius. Sekali-sekali ia menukas atau ‘memancing’ agar si sumber mengeluarkan pernyataan atau kata-kata yang ‘hidup’. Inilah bedanya dengan wartawan biasa!

Saya sendiri terkejut melihat Dahlan Iskan tidak mencatat atau merekam wawancaranya dengan pejabat atau sumber mana pun. Mencatatnya, ya, di otak saja. Tapi besok, silakan baca koran-koran. Dijamin tulisan Dahlan Iskan jauh lebih bagus, hidup, enak, lengkap, dibandingkan wartawan-wartawan lain yang supersibuk. Tulisannya bisa tiga bagian panjang, sementara reporter lain hanya mampu membuat tulisan pendek.

Data-data Dahlan lengkap. Interpretasi dan ramuannya yang khas membuat tulisannya lebih bernas. “Itu bakat Pak Bos, nggak ada sekolahnya,” kata SLAMET URIP, bekas wartawan senior JAWA POS, yang juga ‘suhu’ para wartawan muda di Grup Jawa Pos.

BANYAK MEMBACA

Dahlan Iskan pembaca yang rakus. Buku tebal ia habiskan hanya dalam beberapa jam saja. Kalau perlu, dia melekan (bergadang) demi menamatkan bacaannya.

Novel AROK DEDES (Pramoedya Ananta Tour), misalnya, diselesaikan Dahlan Iskan hanya dalam tempo beberapa jam saja. Lalu, dia buat catatan tentang novel itu. Dahlan juga bikin catatan tentang novel SUPERNOVA (Dee) setelah melahap novel itu dalam hitungan beberapa jam saja.

Mengapa Dahlan suka baca buku-buku tebal di ruang redaksi, disaksikan wartawan? Saya pikir, secara tidak langsung Pak Bos mau mengajarkan bahwa wartawan/redaktur harus banyak baca. Tulisan yang bagus hanya lahir dari tangan mereka-mereka yang rakus baca. Kenapa tulisan wartawan sekarang umumnya jelek, kering, datar-datar? Salah satunya, ya, karena kurang baca.

TURUN KE LAPANGAN, KERJA KERAS

Tulisan Dahlan Iskan hidup karena berangkat dari pengalaman sendiri. Based on his own experiences! Apa yang dilihat, didengar, dihidu, diraba, dikecap... itulah yang ditulis.

Dahlan sangat mobil. Pagi di Surabaya, siang Jakarta, sore, makassar, malam mungkin di Singapura. Besoknya Tiongkok, luas Amerika... dan seterusnya. Ini membuat Pak Bos sangat kaya pengalaman, kaya penglihatan, kaya wawasan. Dia tinggal ‘memanggil’ memorinya dan jadilah tulisan yang hidup.

Dahlan Iskan pernah membuat tulisan menarik tentang pengalaman naik pesawat supersonik CONCORDE yang kini sudah almarhum itu. Dia bikin pembaca seakan-akan ikut menikmati pesawat supercepat, supercanggih, supermewah, buatan Prancis itu.

KUASAILAH BANYAK BAHASA

Di balik penampilan yang sederhana--sepatu kets, kemeja tidak dimasukkan, tak pakai ponsel--Dahlan Iskan pribadi yang dahsyat. Sangat cepat belajar! Bahasa Tionghoa yang sulit, aksara hanzhi yang aneh dan ribuan jumlahnya, ditaklukkan Dahlan dengan modal tekad baja. "Saya harus bisa,” katanya.

Maka, dia panggil guru privat, les di Graha Pena. Tak puas di Surabaya, Dahlan pindah domisili di Tiongkok selama beberapa bulan agar bisa berbahasa Tiongkok. Beberapa saat kemudian, Dahlan Iskan sudah kirim CATATAN DARI TIONGKOK secara bersambung. Sangat menarik. Respons pembaca luar biasa.

CINTAILAH SASTRA

Ingat, Dahlan Iskan ini bekas wartawan TEMPO. Majalah yang dibuat oleh tangan-tangan trampil berlatar sastrawan. Goenawan Mohamad, Bur Rasianto, Syubah Asa, Putu Wijaya, Isma Sawitri, dan nama-nama besar lainnya.

Mereka-mereka ini praktisi sastra Indonesia. Mereka peminat kata. Terbiasa membuat kalimat yang indah, yang tidak klise. Dahlan Iskan, meski jarang menulis puisi atau novel, jelas seorang sastrawan. Dia bersastra lewat reportase atau kolom-kolomnya di koran.

Pak Bos pun budayawan. Tak heran, di Surabaya dia giat sekali dalam komunitas dan kebudayaan Tionghoa. Dia pun ketua umum persatuan olahraga barongsai yang akhir 2006 silam sukses menggelar kejuaraan dunia di Surabaya. Kiprah semacam ini menambah ‘basah’ tulisan-tulisannya.

MENULIS LANGSUNG JADI (PRESSKLAAR)

Dahlan Iskan tidak butuh waktu lama untuk menulis. Tak sampai satu jam Pak Bos sudah menyelesaikan tulisan panjang untuk halaman satu JAWA POS.

“Sudah, silakan dilihat, silakan diedit. Jangan lupa kasih judul,” begitu kata-kata khas Dahlan Iskan usai membuat tulisan.

Dahlan tidak pernah membaca ulang, apalagi mengubah kalimat-kalimatnya. Sekali menulis, selesai, dan selanjutnya urusan redaktur untuk mengecek salah ketik dan sebagainya. Dimuat atau tidak, urusan redaksi.

Manufacturing Hope 60 - Dahlan Iskan


Mulai pencurian teknologi sampai cara mengemudi
Ini mirip istilah “sengsara membawa nikmat”. Kecelakaan ini, meski menimbulkan kebisingan, benar-benar memberi pelajaran berharga.
Selama ini, secara ilmiah, memang terjadi perbedaan pandangan antara lima putra petir yang menciptakan kendaraan/mobil listrik yang saya koordinasikan. Perbedaan pandangan seperti itu juga terjadi di luar negeri.
Ada yang berpandangan, mobil listrik tidak perlu menggunakan gear box. Untuk itu, power dari motor listrik langsung menggerakkan gardan/roda.
Tapi ahli kita seperti Ir Dasep Ahmadi MSc (alumni ITB), berpendapat mobil listrik harus menggunakan gear box. Ricky Elson, putra Padang yang melahirkan 14 paten motor listrik di Jepang, termasuk golongan ini. Demikian juga Ravi Desai (alumni Gujarat). Mereka setuju tidak harus memakai gear box, tapi harus hanya untuk mobil dalam kota (city car).
Kecelakaan mobil Tucuxi (baca: tukusi, nama sejenis lumba-lumba) yang saya kemudikan di dataran tinggi Tawangmangu-Sarangan Sabtu pekan lalu, memberi pelajaran sangat penting mengenai pilihan-pilihan tersebut.
Saya memang tidak ingin menyatukan pendapat mereka. Ilmuwan perlu diberi kebebasan mewujudkan ambisi keilmuannya, apalagi saya menangkap sinyal para ahli kita memang ingin membuktikan kehebatannya. Saya sangat menghargai itu. Saya memilih memberi otonomi luas kepada mereka.
Karena itu ketika Kang Dasep menciptakan mobil AhmaDI dengan gear box, saya dukung penuh. Dana talangan langsung saya kirim. Ketika mobil hijau itu jadi kenyataan, saya langsung mencobanya.
Sebenarnya, awalnya, saya dan Kang Dasep menanggung malu: begitu tiba di Jalan Thamrin Jakarta (dari Depok), mobil AhmaDI “mogok”. Media meliputnya secara besar-besaran.
Saya malu sekali, tapi saya meminta Kang Dasep tak menyerah. Setelah dianalisis, ternyata mobil itu tidak rusak, melainkan low batt. Indikator baterainya kurang sempurna sehingga “menipu”.
Minggu berikutnya kami berdua masih menanggung malu: mobil listrik itu tidak kuat menaiki tanjakan yang tidak terjal. Padahal ini diliput langsung media secara luas.
Sekali lagi saya minta Kang Dasep untuk tidak patah semangat.
Sebetulnya masih banyak “malu” yang lain. Tapi biarlah itu hanya kami berdua yang merasakan.
Tiga bulan kemudian, ketika mobil AhmaDI kian sempurna, rasa malu itu berubah menjadi bangga. Putra bangsa kita bisa menciptakan mobil listrik. Saya pun mencobanya secara sungguh-sungguh.
Saya mengemudikan mobil tersebut hampir setiap hari hingga mencapai 1.000 km. Kang Dasep sendiri, di luar 1.000 km yang saya lakukan, mencobanya dari Bandung ke Jakarta melalui Puncak. Tidak ada masalah sama sekali.
Tanjakan yang terjal dan turunan yang curam dilewati dengan mudah. Kang Dasep dengan ketekunan dan kecerdasannya boleh dikata berhasil gemilang.
Setelah itu saya meminta Kang Dasep membuat mobil listrik jenis yang lebih besar. Sebesar Alphard. Tiga bulan lagi, insya Allah, sudah bisa dilihat. Saya sudah setuju membiayainya. Bahkan sudah meminta Kang Dasep membuatkan bus listrik.
Seminggu setelah mobil AhmaDI selesai dicoba sampai 1.000 km, mobil Tucuxi bikinan Mas Danet Suryatama (alumni AS) selesai dibuat. Saya pun bertekad mencobanya dengan sungguh-sungguh sampai 1.000 km.
Begitu tiba di Jakarta 19 Desember lalu, mobil Tucuxi (semula saya usul namanya Gundala, tapi mas Danet memutuskan nama ini) saya coba dari Pancoran ke Bandara Soekarno-Hatta.
Mas Danet mendampingi saya. Sepanjang perjalanan sekitar 30 km itu saya merasakan apa saja yang menjadi kelebihannya dan apa saja kekurangannya.
Mobil tiba di Cengkareng dengan kebanggaan penuh: Mas Danet hebat! Hari pertama ini tidak membawa malu.
Kalau toh ada kekurangannya hanya kami berdua yang tahu. Saya langsung menyampaikan kekurangan-kekurangan itu ke Mas Danet. Saya minta diperbaiki.
Dua hari kemudian Tucuxi saya coba lagi di sekitar Stadion Utama Senayan. Dua jam lamanya. Tucuxi mengelilingi stadion berkali-kali. Beberapa wartawan bergantian mencoba duduk di sebelah saya.
Semua yang menyaksikan terlihat bangga. Putra Indonesia ternyata hebat-hebat.
Beberapa kekurangan memang masih terasa. Tapi tidak mungkin diperbaiki di Jakarta. Maka saya meminta Tucuxi dibawa kembali ke Jogja. Mas Danet lantas menuduh saya melakukan pencurian teknologi. Saya tidak begitu jelas teknologi apa yang saya curi dan untuk apa.
Syukurlah, dalam keterangan pers terbarunya akhir pekan kemarin, Mas Danet tidak lagi menyebut-nyebut soal pencurian teknologi. Yang dipersoalkan tinggal kesalahan cara saya mengemudi dan (menurutnya) saya akan menyingkirkannya.
Setelah diperbaiki, mobil dicoba di sekitar Jogja. Tidak ada masalah. Termasuk sampai Kaliurang. Tapi suasana sudah kurang nyaman akibat isu pencurian teknologi yang sudah meluas.
Saya sendiri saat itu lagi keliling hutan jati milik BUMN di Randublatung, Blora, dan Purwodadi. Saya sedang mendesain pola kemitraan antara Perum Perhutani dan masyarakat miskin sekitar hutan.
Saya bermalam di Semarang. Karena mau pulang ke Magetan, saya harus lewat Solo. Karena itu saya minta Tucuxi disiapkan di Solo. Untuk saya coba lewat medan yang berat.
Ini penting karena uji coba selama ini baru dilakukan di jalan yang datar. Sebagai mobil yang dibuat dengan biaya hampir Rp 3 miliar mobil ini harus dicoba di daerah yang sulit. Terutama melewati jalan yang menanjak. Pikiran saya selalu: bisakah mengatasi tanjakan. Apalagi sampai 1.300 meter seperti di Sarangan. Ricky Elson menemani saya.
Ternyata hebat sekali. Sepanjang jalan saya terus memuji Mas Danet. Luar biasa. Tarikannya, power-ya dan kemampuan menanjaknya hebat sekali. Demikian juga kemampuan baterainya.
Baru ketika jalan mulai menurun dengan sangat tajamnya, dengan belokan-belokan yang berliku, saya mulai was-was. Saya harus menginjak rem sekuat tenaga.
Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi berbeda dari AhmaDI.
Saya tidak segera menyadari kalau Tucuxi ciptaan Mas Danet ini tidak menggunakan gear box. Untuk menahan laju Tucuxi, sepenuhnya hanya menggantungkan pada kekuatan rem. Tidak ada bantuan pengendalian dari gear box!
Tentu saya mencoba untuk sesekali mengendorkan rem agar tidak over heated. Ini juga disinggung dalam keterangan pers terbaru Mas Danet.
Tapi setiap kali rem saya longgarkan mobil langsung melaju, padahal jalan berkelok-kelok dengan jurang dalam di sisinya. Tentu saya tidak berani tidak menginjak rem kuat-kuat. Mungkin, seperti disebut Mas Danet, saya memang salah dalam cara mengemudi seperti itu.
Tapi, mengingat jurang-jurang yang dalam di kawasan itu, saya terus menginjak rem dengan kekuatan kaki sekuat-kuatnya. Untung otot kaki saya lumayan kuat karena setiap hari senam satu jam di Monas.
Tapi bau menyengat akibat rem yang bekerja keras tak tertahankan. Saya memutuskan berhenti. Sekalian mendinginkan rem. Penurunan tajam masih akan panjang dan berliku. Totalnya 15 km. Masih akan sampai di Ngerong.
Waktu berhenti ini, semua orang yang mengerumuni Tucuxi membicarakan soal bau yang menyengat itu. Lantas berfoto-foto di ketinggian lereng gunung Lawu yang indah. Kabut tebal yang menyelimuti jalan dan dataran tinggi itu menambah keindahan pemandangan.
Seandainya waktu istirahat ini dibuat lama, sampai rem dingin, mungkin kecelakaan itu tidak terjadi. Tapi saya terikat janji dengan Dr Fachri Aly yang akan ke kampung saya sore itu. Dan malamnya kami masih akan sholawatan Maulid Nabi dengan Habib Syekh dari Solo di kampung saya itu.
Kami pun segera berangkat lagi. Tucuxi kembali harus menuruni jalan yang curam dan berliku. Kami masih belum menyadari bahwa tanpa bantuan gear box rem akan bekerja sendirian terlalu keras.
Kekuatan kaki saya sepenuhnya untuk menginjak rem sedalam-dalamnya. Bau menyengat kembali menusuk-nusuk hidung.
Ketika akhirnya berhasil mencapai Ngerong saya pun lega. Tidak ada lagi penurunan yang curam dan berkelok. Jalan memang masih akan terus menurun tapi sudah tidak ekstrem.
Justru di saat hati sudah lega itulah saya merasakan rem Tucuxi tidak lengket lagi. Mobil melaju di jalan yang menurun tanpa bisa dihambat oleh rem. Saya coba angkat rem tangan.
Sama saja. Mobil kian kencang. Tidak terkendali. Saya sadar sepenuhnya. Maka saya harus ambil keputusan cepat. Terlambat sedikit akan banyak memakan korban.
Saya segera memutuskan ini: lebih baik saya sendiri yang menjadi korban. Saya lihat ada tebing terjal di kanan jalan. Mumpung tidak ada mobil dari arah berlawanan, saya banting setir mobil itu untuk menabrak tebing itu. Braaak! Mobil hancur.
Tidak ada lagi atap di atas kepala saya. Tapi saya tidak terpelanting. Saya tetap terduduk di belakang setir. Saya raba kepala saya: tidak ada darah. Saya raba muka saya: tidak ada luka. Saya gerakkan kaki-kaki saya: normal. Tidak ada yang terjepit.
Setelah mengucap syukur kepada Allah, saya kembali memuji Mas Danet. Konstruksi mobil ini tidak membuat saya mati terjepit atau menderita luka. Bahkan tergores sedikit pun tidak.
Padahal, seperti kata polisi, kaca-kaca mobil ini bukan kaca fiber yang kalau pecah berubah menjadi kristal. Kaca-kaca ini jenis kaca yang pecahnya membentuk segitiga-segitiga kecil. Allahu Akbar!
Saya pun memperoleh pelajaran luar biasa hebat: pentingnya fungsi gear box. Karena itu, ke depan, masyarakat harus bisa memilih: beli mobil listrik yang pakai gear box atau yang tidak pakai gear box.
Mungkin saya akan menghadapi masalah hukum akibat pelanggaran saya ini. Itu akan saya jalani dengan seikhlas-ikhlasnya.
Tapi pelajaran teknologi tadi akan menyelamatkan banyak orang di masa depan. Saya akan jalani konsekwensi itu, tapi ilmu pengetahuan harus tetap berkembang. Tidak boleh terhenti karena kecelakaan ini.
Mobil listrik harus jaya!
Baik Kang Dasep yang menggunakan gear box maupun Mas Danet yang tidak menggunakan gear box sama-sama hebatnya.
Sama-sama sudah membuktikan dirinya menjadi putra bangsa yang membanggakan. Tucuxi akan dikenang sepanjang sejarah mobil listrik di Indonesia.
Mas Danet akan terus saya dorong untuk proyek berikutnya. Tentu kalau dia terbuka untuk mendiskusikan teknologinya.
Yang penting putra-putra bangsa harus menguasai teknologi mobil listrik. Saya terbuka untuk putra-putra petir yang lain. Mari berlomba untuk kebaikan negeri.
Mumpung negara-negara maju juga baru mulai melakukannya. Kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang kita akan menyesal untuk kedua kalinya.
Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini!
Mobil listrik made in Indonesia harus berjaya! Sekaranglah saatnya Indonesia punya kesempatan bisa bersaing dengan negara maju!
Dahlan Iskan
Menteri BUMN
Sumber: https://www.facebook.com/Catatan.Dahlan.Iskan/posts/10151254014799403, Koran Jawa POS edisi Senin
Follow twitter saya di www.twitter.com/johanhariyanto

One Think One Action

Perjalanan 3 Misi : Album Kenangan, Kerjaan, dan Bacaan

Masih suasana awal tahun. Suasana liburan kuliah khsusunya mahasiswa Psikologi UNS. Juga suasana musim hujan. Senin, 14 Januari 2013 pagi-pagi saya berencana ke Solo. Ada tiga agenda besar saya di solo, pertama, rapat pembuatan album kenangan angkatan. Kedua, survey tempat membeli perkakas untuk jualan. Ketiga, saya ingin membeli buku “Habibie dan Ainun”.

Rencana awal berangkat pukul 8 WIB, tetapi karena dapat sms dari ibu untuk menjemput Chandra, adik kedua saya di playgroup Kartini, Sragen, karena Bapak ada acara mendadak sebelum jam 9 sudah berangkat ke Pati, Jawa Tengah. Saya menunda keberangkatan jadi pukul 10 langsung setelah menjemput Chandra (3 tahun).

Waktu yang seharusnya saya gunakan bersiap-siap untuk segera berangkat, saya pergunakan untuk membersihkan rumah. Saya menyapu setiap bagian rumah. Tidak berat, sama sekali berat. Rumah yang sudah hampir dua tahun kami tempati cukup kecil, bisa dibilang sangat kecil. Ukuran awal 36, kemudian dilebarkan menghabiskan sisa tanah. Bisa dibayangkan betapa sempitnya. Ya. Karena kami tinggal di perumahan yang sederhana. Kompleks perumahan baru di Sragen. Puro Asri II, yang rencananya akan membangun 1000 rumah. Sampai saat ini masih proses pembangunan bersamaan dengan penduduk baru yang sedikit-demi sedikit mengisi rumah di kompleks ini. Tentu rumah milik sendiri, dan ada yang ngontrak.

Kami termasuk penghuni paling lama di kompleks ini. Sehingga ketika ada inisiatif untuk pembentukan RT, bapak terpilih sebagai ketuanya. Padahal keluarga kami sama sekali tidak punya pengalaman di bidang ini. Tetapi dengan terbentuknya pengurus RT, urusan kependudukan sangat terbantu. Pengurusan perpindahan KK hingga mencari bantuan pemerintah untuk pengajuan pemasangan saluran PAM jadi lebih mudah.

Setengah sepuluh saya langsung mandi dan berkemas. Saya cepat-cepat, takut keduluan sekolah selesai sehingga adik ketakutan tidak ada orang yang menjemput.

Ketika saya sampai di sekolah Chandra. Pas sekali saat siswa dipulangkan, atau mungkin tepat ketika siswa boleh keluar dari ruang kelas. Ketika saya turun dari motor, kemudian saya melihat adik baru keluar dari ruang kelas. Dari mimik mukanya dia terlihat bingung melihat saya. Juga sedikit ingin menangis. Mungkin bingung karena yang datang menjemput bukan Bapak, tapi saya kakaknya. Tapi saya langsung mengajak Chandra naik motor terus langsung saya antarkan ke kantor, ibu sudah menunggu di sana.

Sekarang saya jarang mengunjungi kos-an. Terlebih setelah kuliah semester ganjil berakhir. Saya selesai semester 7. Hampir satu minggu saya tidak ke kos. Walaupun musim libur tetapi kos-kosan tetap ramai. Maklum, kosan ini besar. Tidak hanya ditinggali oleh mahasiswa saja. Tetapi ada juga dari siswa dan pekerja. Juga dari berbagai daerah asal tempat tinggalnya. Sampai di kos saya ketemu dengan Python yang kebetulan juga baru sampai. Teman satu kampus satu angkatan satu kelas satu kos satu lantai ini memang sangat rajin ke Solo. Tidak libur tidak kuliah dia selalu ada di Kos.

Baru sebentar duduk, belum sempat membereskan kamar yang view-nya kurang bagus, berantakan. Perut saya sudah mulai berdemo, padahal baru jam 7 pagi tadi sarapan.
Saya merasa beberapa hari ini perut mudah lapar. Tepatnya setelah berobat ke RS Sarila karena maag saya kambuh. Mungkin efek dari obat agar maag saya cepat pulih jadi obat memaks untuk sering-sering makan. Tapi saya merasa ini terlalu keseringan, jeda waktunya sangat singkat. Baru sebentar makan sudah lapar lagi.

Kebetulan teman saya Riki sedang makan di Hik-hikan tempat biasa kami makan, dekat stasiun Jebres, Surakarta. Saya langsung tancap gas ke sana. Sebelum pulang saya membungkus beberapa gorengan kesukaan. Ada ubi goreng, pisang goreng, dan juga tahu goreng yang juga gorengan kesukaan presiden kita SBY. Saya minta plastik sama pakdhe Karyo, bapak penjual hik itu. Saya bungkus dengan plastik bening untuk pembungkus es teh, kemudian saya rangkap dengan plastik kresek hitam. Ini dilakukan agar plastik hitam tidak terkena gorengan langsung. Bahaya zat kimia yang terkandung pada plastik hitam dapat melunturi gorengan. Sesuai anjuran dari ketua BPOM, Husniah Rubiana Thamrin Akib agar tidak menggunakan plastik kresek hitam sebagai wadah makanan. Akan berpengaruh pada kesehatan jangka panjang. Bahkan bisa beresiko menimbulkan kanker dan kerusakan ginjal.

Sesuai janji, setelah salat duhur, saya berangkat ke kampus. Saya hampiri Riki, karena sekalian setelah rapat kami langsung survey tempat toko perkakas untuk jualan makanan.
Saya tidak suka terlambat. Kalau pukul 1 janjiannya, maka pukul 1 sebisa mungkin saya sudah ada di tempat. Di kampus saya melihat teman-teman mahasiwa, kebanyakan angkatan akhir, kami sebut dengan angkatan tua, terutama angkatan 2009. Saya kagum teman-teman sangat rajin datang ke kampus walaupun waktu libur, punya semangat tinggi untuk cepat menyelesaikan skripsi . Di perpustakaan mencari referensi judul dan buku. Saling berdiskusi dari judul, pembimbing, sampai landasan teori. Di depan ruang dosen, antri menghadap bu Rin untuk konsultasi judul yang akan diajukan. Di parkiran dan di dalam ruang himapsi teman-teman dengan laptop sendiri-sendiri di hadapannya sedang berkoneksi dengan internet mencari referensi jurnal-jurnal ilmiah yang sesuai dengan tema/judul skripsi yang di minati.

Di kursi duduk depan TU saya dan Riki menunggu Inug dan Ratna, teman janjian rapat album angkatan. Inug sedang makan di warung “Sederhana” sebrang kampus. Warung makan biasanya saya dan teman-teman cowok angkatan 2009 makan saat kuliah. Warung yang cukup nyaman untuk mengobrol, jajanan warung yang enak, terutama mendoannya, dan kepala ayam gorengnya yang jadi rebutan, tempat bergosip juga. Sementara Ratna juga masih perjalanan ke kampus.

Setelah kami berempat berkumpul, kami membahas apa saja yang dibutuhkan dalam membuat album kenangan angkatan. Kami sepakat untuk menggunakan jasa photografer profesional untuk pengambilan gambar sampai album dicetak. Dari informasi yang Ratna dapat, perkiraan untuk membuat album kenangan harga bisa sampai130 ribuan. Jika bisa kami minta agar harga hanya 100 ribu saja.

Dari situ kami melanjutkan untuk membahas konsep. Kebetulan Inug membawa album kenangan waktu dia SMA. Abum itu bisa menjadi gambaran, bisa diambil konsep yang menarik. Kami memutuskan menggunakan konsep “picnic and fun”. Untuk foto utama kami membagi menjadi 15 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5 orang. Kelompok ini panitia yang membagi. Jadi semua mahasiswa dari angkatan 2009 bisa masuk semua. Dan tidak ada yang merasa diasingkan. 15 kelompok berarti juga 15 lembar halaman untuk bagian foto utama. Rencananya foto utama akan diambil di daerah Kemuning, Ngargoyoso dan sekitarnya. Seperti kebun teh Kemuning, Cafe Dorodonker, Hutan Raya Sukuh, Setiawan Jodi, dan lainnya. Sesuai dengan tema “Picnic and Fun”.

Pembahasan dilanjutkan dari prolog yang diisi dengan sejarah perjalanan angkatan 2009 dari kampus Tirtomoyo, RK 3 FK kampus pusat, Kentingan, sampai ke kampus Mesen yang kami tempati sekarang, mungkin sampai lulus nanti. Kemudian bagian testimoni yang akan mengisi siapa saja agar semua bagian dari warga kampus dapat terwakili memberikan pesan kepada kami angkatan 2009 yang akan segera lulus. Ada juga bagian award angkatan, kami menyebutnya bagian “ter-ter-an”, bagian ini sebenarnya untuk seru-seruan saja. Kami akan membuat nominasi dan memvote-nya lewat facebook. Kami juga tak lupa memberikan apresiasi bagi teman-teman angktan 2009 yang pindah kuliah. Bagian ini kami beri nama “Dear Gone”. Selesai juga akhirnya, kami pada epilog. Kebetulan selesai, cuaca mendung, tanda segera hujan. Kami sepakat seminggu lagi bertemu lagi untuk mengunpulkan materi dan membahas langkah selanjutnya. Kami berpisah, saya melanjutkan misi.

Sebelumnya ketika menunggu Inug dan Ratna saya bertanya-tanya sama Riki dan Anjar, putra dari Bu Warno, Ibu penjaga kantin kampus. Saya bertanya tempat biasa ibunya membeli kebutuhan untuk jualan. Dari informasi itu saya langsung mencarinya berboncengan dengan Riki menggunakan motor yang saya pinjam dari Bapak. Daerahnya berada di sekitar pasar Gedhe. Setelah tahu tempatnya yang terlihat sangat ramai. Kami langsung pulang. Saya tidak mengantarkan Riki langsung ke kosnya. Tapi kami ke kos Python.

Ternyata setelah Python pergi badminton, hujan justru turun deras. Kami tetap di kamar kos-an saya karena belum juga berhenti sampai waktu isya. Baru setelah jamaah isya di masjid Al Hakim di dekat kos, kami pergi belanja ke As-Gross di belakang kampus walaupun sebenarnya hujan juga belum berhenti.

Dari As-Gross saya mengantarkan Riki pulang ke kosnya. Hujan masih turun walaupun sudah tidak deras lagi. Sudah hampir pukul 8 malam, tapi hati masih mengganjal. Segera saya mengambil keputusan, setelah mengantar Riki, sesuai rencana, saya pergi ke togamas. Perjalanan cukup jauh, ditambah dengan hujan yang mengguyur cukup mampu membasahi jaket dan celana yang tidak menggunakan mantel hujan.

Kenapa saya tetap hujan-hujanan demi ke togamas? Karena ini sudah menjadi prinsip, bahwa setiap niat harus saya kerjakan. One think one action. Itu prinsip yang saya pegang sungguh-sungguh.

Alhamdulillah togamas masih buka. Terlihat parkiran sepi. Bukan karena sudah mau tutup, atau saya kemalaman, tapi karena hujan. Benar dalam hati, jaket saya basah. Saya titipkan tas dan jaket. Saya masuk togamas, cukup sepi, apalagi lantai 2. Hanya dua-tiga orang yang saya lihat di sana. Saya pilih-pilih buku sambil berpikir keras jadi membeli buku Habibie dan Ainun atau tidak. Hati kuat untuk membeli, tapi logika menghambat karena harga 72 ribu mahal bagi saya. Berdasarkan prinsip saya harus membeli. Maka tidak berpikir lama lagi, saya mengambil buku dan mengabaikan buku lain yang tak jauh menarik perhatian dan keinginan untuk membelinya. Saya buat prioritas. Semoga pilihan saya tepat. Saya ke bawah bayar ke kasir dan langsung balik ke kos.

Cukup sudah rencana saya hari itu. Terpenuhi semua. Alhamdulillah. Hampir batal membeli buku di togamas karena hujan dan sudah kemalaman. Tapi niat kuat saya tetap melangkahkan kaki menerjang halangan itu. Hawa dingin begitu saya rasakan ketika sampai kos-an. Jaket dan celana jeans saya lepas. Bad cover langsung saya selimutkan menutupi seluruh badan. Saya menyalakan laptop agar tidak mengantuk. Tapi kenyataan sering berbeda dengan niatan. Saya tertidur ditemani tayangan mario teguh hasil download dari youtube. Padahal pukul 9 saya punya rencana kumpul dengan teman-teman. Saya pikir diakhir-akhir masa kuliah, kami butuh sering berkumpul. Tapi apa boleh buat saya justru terlelap. Pukul 2 malam baru terbangun. Saya gosok gigi, shalat malam dan lanjut tidur lagi.

Pagi 6.30 pagi saya bangun dan langsung bersiap diri pulang ke Sragen. Memang niat sebelum berangkat hanya bermalam satu malam di Solo. Kemudian paginya langsung pulang.

Saya berencana seminggu sekali mengunjungi Solo. Mengunjungi kos, pacar dan kampus. Perjalanan saya kali ini alhamdulillah menyenangkan. Motif dan misi saya terlampaui semua. See u next notes :)

Keep Fighting!!! Learn, Action, and Share

Follow twitter saya di www.twitter.com/johanhariyanto

Pelajaran berharga dari QS 5 ayat 27-32 malam ini :)

Hasil dari ngaji ba'da maghrib. Baca surat Al Maidah ayat 27-32. Check this:

#1 Janganlah iri terhadap apa yg tidak mampu diupayakan. *lihat Habil-Qabil
#2 Meningkatkan Iman dan Taqwa. Karena hanya yg bertaqwa yg diterima di sisi Nya
#3 Takut hanya kepada Nya. *Lihat Habil tdk melawan Qabil ketika hendak dibunuh
#4 Rendah hati. Mau belajar dari yg lebih rendah pengetahuannya. Dan mengambil pelajaran dari keadaan sekitar. *Qabil belajar dr gagak
#5 Segera menyesali (tobat) kesalahan yg diperbuat.
#6 Tidak menyakiti orang lain. Karena menyakiti seseorang berarti jg menyakiti seluruh manusia dan keturunannya.
#7 Suka berbuat kebaikan. Karena memelihara seorang manusia berarti memelihara seluruh manusia.

semoga bermanfaat :)
Keep fighting!!! Learn, Action, and Share

https://twitter.com/johanhariyanto

Tuhan (tidak) Sedang Menguji

Masih ingat peristiwa tsunami Aceh tahun 2004? Betapa dahsyatnya peristiwa tersebut. Yang mampu meluluhlantakkan serambi Mekkah. Kapal yang begitu besar berpindah puluhan kilometer. Menewaskan tidak hanya satu dua nyawa, puluhan, atau ratusan. Tetapi lebih dari 200 ribu nyawa telah terenggut.

Itulah bukti kekuasaan Allah swt. Hanya dalam waktu tak lebih dari setengah jam, bumi ini digoncang, diputar-balikkan.

Inilah kita....

Ketika bencana menimpa, sering kita mendengar, “Allah sedang menguji kita”. Mungkin itu tidak salah. Agar tetap berpikir positif. Agar asa masih menyala dalam kesulitan yang menimpa.

Mungkin pikiran seperti itu tepat ketika keadaan benar-benar sedang sempit. Tetapi kalimat itu hanya akan menjadi sebuah alasan. Menjadi sebuah alat melindungi diri saja.

Sebaiknya, dan renungkan. Merasa berdosa itu lebih baik. Banyak dosa kita, kesalahan kita, kekhilafan kita. Yang kita sadari dan tidak kita disadari. Yang sudah kita lupakan maupun yang masih terngiang dalam ingatan. Astaghfirullah

“Apakah Engkau murka padaku, ya Allah. Hamba sering mengabaikan laranganMu. Hamba sering lalai atas perintahMu. Hamba  sering mengeluh. Dan Hamba jarang bersyukur atas nikmatMu.”

Kesulitan mengerjakan tugas kuliah. Kegagalan dalam ujian. Bahkan kesusahan sepele saja. Kita dengan mudah mengatakan itu sebagai ujian. Memang kita harus selalu husnudzon setiap saat. Tetapi kita juga dianjurkan introspeksi diri. Merasa bersalah itu baik. Merasa berdosa itu lebih baik.

Kita harus belajar dari kaum-kaum terdahulu. Kaum Luth as yang dimusnahkan karena menyukai sesama jenis. Kaum Nuh as yang dibanjiri. Dan raja Fir’aun yang ditenggelamkan. Semua itu karena murka Nya. Bukan lagi sebuah ujian.

Kita orang yang beriman, marilah mengambil pelajaran.

So, kita harus tetap husnudzon disetiap takdir Tuhan. Tetapi banyak merasa berdosa itu lebih baik. Agar setiap tindakan kita lebih bijak.

Keep Fighting !!! Learn, Action, and Share

@johanhariyanto

RESOLUSI 2013


Segala puji bagi Allah Swt. Subhanallah. Bersyukur atas segala nikmat hingga akhir tahun ini. Atas terhindarnya bala bahaya. Atas diri yang terlindungi dalam nikmat iman, nikmat islam, dan nikmat taqwa. Nikmat cukup serta nikmat sehat.

Bersyukurlah. Bukan kita yang kecelakaan tahun ini. Bukan kita yang terbaring di rumah sakit. Alhamdulillah. Bersyukurlah kita masih hidup hingga detik ini.

Nah, berbicara akhir tahun. Maka, dalam benak kita akan muncul resolusi tahun depan. Tahun yang harus lebih baik dari tahun ini. Minimal sama. Oh tidak. Harus lebih baik. Benamkan dalam benak anda.

Saya punya tiga catatan besar mengenai resolusi 2013. Pertama, pertama kali keluar negeri. Cita-cita yang hanya Allah dan saya yang baru boleh tahu, tapi tetep minta doanya dari teman-teman semua. Terimakasih yang sudah mengucapkan,”aamiin”. Terimakasih sekali lagi.

Kedua, pertama kali membuka usaha. Rencana membuka usaha selalu dibahas setiap minggu saya pulang dari kos. Maka dari awal tahun, take-action adalah satu-satunya pilihan. Pernah, saya ditanya,”apa tidak ingin merampungkan skripsi dulu?”. Maka saya jawab di bagian ketiga.

Ketiga, pertama kali menerbitkan buku. Inilah resolusi ketiga saya. Menerbitkan buku. Ya, skripsi. Buku tebal bernama srkripsi ini harus saya selesaikan sebelum tengah tahun 2013.
Sebenarnya masih banyak keinginan saya. Tapi 3 inilah yang paling besar. Tahun 2013 menjadi tahun yang pertama, pertama dan pertama bagi saya. Aamiin

Saya menunggu cerita resolusi tahun 2013 dari teman-teman. Dan saya doakan bagi kita semua. Semoga resolusinya juga tercapai. Semoga kita semakin berguna bagi keluarga, negara dan agama. Aamiin.


Saya ucapkan selamat tahun baru 2013. Satu kata untuk 2013 “INDONESIA”.

 

Keep fighting !!! learn, action, and share
@johanhariyanto

 

Agar Anda Disiplin Waktu

Banguunnnnnnnnnnnnnn!!! Apakah teriakan itu yang anda dengar setiap pagi? Alhamdulillah saya tidak mengalaminya. Ya, saya kan indekost. Hehe


Tapi alhamdulillah saya bangun lebih awal. Terutama dari tetangga kamar kos saya. Hahaha. Peace. Sebagai muslim saya wajib untuk bangun pagi. Sebagai penggugur kewajiban sholat subuh juga mengambil faedah waktu shubuh. Yang paling penting bangun pagi itu baik untuk kesehatan. Nggak usah dibantah. Itu sudah bukan rahasia umum lagi.


Bangun lebih awal. Saya punya prinsip, sesuatu yang diawali dengan yang baik, nanti prosesnya juga berjalan dengan baik. Dan hasilnya pun akan baik. Minimal baik-baik saja.


Masih ingat resolusi harian. Luangkan waktu sebelum tidur. Jika anda bukan orang yang pandai membayangkan, catat pada buku agenda. Tulis apa yang ingin anda raih besok. Tulis sebanyak-banyaknya. Ini akan membantu agar anda tidak menyia-nyiakan waktu. Juga akan membuat hari anda lebih berarti. Saya ulangi, hari anda akan lebih berarti. Buktikan. Saya sudah lakukan. Sekarang giliran anda.


Hindarilah kebiasaan telat. Jangan pedulikan orang lain yang tidak ontime. Utamakan diri anda. Jangan menurunkan kualitas diri. Jangan membuat diri anda hina karena kebiasaan anda yang tidak tepat waktu. Tidak tepat waktu juga bikin orang lain sebel. Orang sudah menunggu berjam-jam tapi anda tidak segera datang. Perhatikanlah. Ini juga salah satu pemicu seringnya pasangan muda marahan.


Sholatlah diawal waktu. Beruntung saya seorang muslim. Kewajiban sholat 5 waktu mendorong seseorang disiplin waktu. Sholatlah berjamaah di masjid. Terutama anda yang laki-laki. Bagaimana mau membangun bangsa. Sholat saja tidak disiplin. Laki-laki sholatnya di masjid dan jamaah. Sholat di rumah sendiri, paling banter berdua atau bertiga. Ini pemahaman yang keliru. Sangat keliru. Laki-laki itu sholatnya di masjid, wanita di rumah. Bukan sebaliknnya. Sebelum datang kemalasan. Sebelum datang kemalangan. Sebelum sampai pada kematian. Cepatlah sholat. Sebelum disholatkan. Nah lho!!!


Tidurlah lebih awal. Nabi mensunnahkan agar kita cepat tidur setelah sholat isya. Haditsnya,” Sesungguhnya rasulullah saw membenci tidur sebelum isya’ dan membenci obrolan setelah isya.” (Muttafaqun Alaih). Kalau bang haji bilang,”begadang jangan begadang, begadang tiada artinya”. Nabi itu tidurnya lebih awal kecuali dalam keadaan sangat terdesak. Bahkan dalam perang pun nabi tidur lebih awal. Nah, ini kata nabi bukan kata saya. Sekarang tinggal anda. Anda orang yang beriman. Mau mengikuti atau meninggalkan sunnah nabi. Renungkan itu !!!


Tuhan itu Maha Kaya. Maka Tuhan suka memberi. Jadilah Tuhan Maha Pemberi. Salah satunya memberi nikmat waktu. Kita semua harus bersyukur. Tuhan memberikan waktu 24 jam dalam sehari. Cuma-Cuma. Anda diberi kebebasan 24 jam penuh untuk mengelolanya. Mau berbuat apapun boleh. Mau menabung dosa boleh. Mau mengerjar dunia boleh. Mau menjemput akhirat boleh. Mau menimba amal boleh. Pokoknya terserah anda. Tapi saya ingatkan, resiko tanggung sendiri.


Sssstt. Saran saya jangan menyia-nyiakan waktu. Nikmat waktu itu mahal. Nikmat sempat itu sempit. Kesempatan itu langka. Tuhan itu melapangkan bagi yang menyempatkan. Jadi, tetep terserah anda. Hehe

 

Keep Figting !!! Learn, Action and Share
@johanhariyanto

Langkah Berenergi di pagi hari

Menjadikan Hidup anda Lebih Hidup

Setiap hari saya mempunyai sebuah resolusi. Saya menyebutnya resolusi harian. Sekarang. Inilah yang membuat langkah saya menjadi lebih berenergi. Menjadi lebih berarti. Dan merasa ada kehidupan.


Setiap hari anda bisa memulainya dengan langkah kecil. Mulai dari mematikan lampu pukul 10 malam. Minum susu. Menggosok gigi. Bersuci (Baca: wudlu). Kemudian baru tidur. Sudah hemat, segar, suci lagi. Betapa bahagianya hidup ini. Alhamdulillah :)


Bersyukur atas nikmat hari ini. Berdoa dan berharap Tuhan memberikan nikmat sempat. Niatkan bangun di 1/3 malam yang terakhir.


Pergilah ke masjid. Nabi sangat menganjurkan shalat shubuh berjamaah di masjid. Boleh dibilang belum laki kalau belum shalat jamaah. Saat shubuh merupakan saat kualitas udara berada pada titik terbaik. Karena itulah menyehatkan. Sehingga wajib hukumnya menikmati pagi. Terutama anda yang muslim.


Lihat saja orang China. Jangan kalah dengan mereka. Jalan santai menjadi rutinitas. Padahal mereka bukan islam. Tapi mereka tahu manfaat jalan pagi bagi tubuh. Menyehatkan. Tidak percaya? Terserah anda.


Bahkan. Konon ada cerita seseorang melihat tentara Yahudi sedang mengintip ke dalam Masjidil Aqsa saat shalat shubuh berlangsung. Setelah shalat selesai. Seorang ulama bertanya,” ada apa anda tadi melihat ke dalam masjid?”. Jawab tentara Yahudi,“Saya hanya menghitung jumlah jamaah yang shalat. Karena menurut atasan saya, Islam (baca: Palestina) tidak akan menang atas kami (baca: yahudi), selama jumlah jamaah shalat shubuh tidak lebih dari jamaah shalat jumat. Nah lho!!! Alasan apalagi sekarang. Bangsa China aja tahu. Bangsa Yahudi sampai percaya seperti itu. Kita yang islam justru masih selimutan di kamar. Memang tidak tahu diri. Dasar !!!


Setelah jamaah shubuh. Sebaiknya anda berdoa. Ceritakan kepada Tuhan apa saja resolusi harian anda. Apa saja yang ingin anda capai hari ini. Jelaskan point to point. Tuhan maha mengetahui apa yang anda butuhkan. Semakin jelas semakin cepat terkabulnya doa anda. Insyallah


Saya telah melakukan ini. Mau tahu efeknya? Sungguh luar biasa. Luar biasa sungguh. Sungguh membahagiakan. Dan pasti menyehatkan. Bolehlah anda sakit. Tapi sebentar saja. Haruslah anda selalu sehat. Tapi yang lamaaaaaaaaaaaa. Semakin lama sehat. Semakin produktifitas baik. Sampai-sampai syahrini nggak kuat nahan bilang,”luar biasa. Ctar. Ctar membahana. Badai. Alhamdulillah yaach. sesuatu”. Komplit dahhh

Masih nggak percaya sampai di sini. Sudahlah. Berhenti saja membacanya. Hahaha. Memang sudah habis tulisannya. :p


Keep Fighting !!! Learn. Action and Share
@johanhariyanto

Nikmat Sakit


Berawal dari Jajan Bakso 

Jumat. 23 November 2012. Pukul 3 pm WIB. Saya sudah sampai di rumah. Saat perjalanan baru sampai Jaten. Dan lagi-lagi di Jaten. Ketika saya pulang hujan turun. Saya memakai mantel. Sedikit basah di kaki dan tangan. Ketika memasuki wilayah Sragen hujan mulai reda. Mantel masih saya pakai sampai rumah. Untuk mengurangi terpaan angin. Dan dingin.

Jumat malam. Belum genap pukul 8 pm WIB. Mata mulai mengantuk. Saya putuskan untuk istirahat sebentar di kamar. Sambil membaca slide periklanan. Bahan ujian susulan psikologi periklanan. Baru tiga slide. Tapi tubuh tak mampu menahan. Saya tertidur.

Tengah malam. Saya terbangun. Badan semua pegal. Tanda-tanda saya sakit. Lama. Saya membuka mata. Saya menuju ke kamar mandi. Kemudian kembali ke kamar. Entah apa yang saya rasakan ini. Saya sakit? Kenapa sakit? Apa ketika tadi kehujanan saya tadi kedinginan. Lalu masuk angin? Apa kehujanan selama satu minggu. Kemudian dikumulatif. Dijumlahkan. Akhirnya jadi sakit? Apa karena kemarin. Hari kamis saya makan bakso dan sorenya maag saya kumat? Tapi apa hubungannya dengan sakit saya sekarang? Malam itu maag saya langsung sembuh. Saya bingung. Tak merasa melakukan kesalahan yang menyebabkan saya sakit.

Saya terus menelusur apa saja yang telah saya lakukan. Saya tidak menemukan apa yang mungkin menyebabkan saya sakit. Oke. Saya menenangkan diri. Terimakasih ya Allah. Saya terima. Kemudian ber-istighfar sebanyak-banyaknya. “Maafkan Tuhan entah apa salah hamba. Perkataan hamba yang sering menyakitkan. Usil saya yang berlebihan. Suka ngutang. Pelit. Suka ngomongin orang dan bla bla bla...”. Saya terus ber-istighfar sampai tidak sadar sudah tidur lagi.

“Ini demam. Masuk angin.”saya pikir. Sebelumnya saya tidak menyangka maag. Karena hari itu saya tidak telat makan. Saya makan. Bahkan sampai di rumah saya langsung makan. Sebelum tidur pun, perut saya baik-baik saja. 

Benar ini adalah demam. Saya hafal dengan sakitnya. Rasa sakit saya berbeda dari kebanyakan orang. Saya sulit menjelaskannya. Entah. Saya juga tidak tahu namanya. Setiap saya demam. Badan saya semua menjadi pegal. Setiap sudut tubuh dan lekuk badan. Sakit. Ngiluuu. 

Rasanya enak sekali membayangkan dipijit bagian-bagian tubuh saya yang pegal. Tapi pegal saya ini berbeda. Setiap dipijat rasanya berkurang tetapi ketika pijatan dihentikan rasa sakit itu kembali lagi. Saya menyerah setiap sakit saya ini datang. Tidak kuat. Tidak tahan.

Masalah sakit saya tidak pernah main-main. Saya tidak mau pergi ke dokter yang asal-asalan.

Bukan karena sombong. Bukan juga kebanyakan uang. Tetapi prinsip saya. Saya tidak tahan dengan pegal. Saya harus segera sembuh. Tidak ada waktu berspekulasi dengan dokter. Yang pasti-pasti saja. Saya suka langsung ke rumah sakit. Memang biaya sedikit lebih mahal. Tapi saya langsung merasakan efeknya. Kurang dari dua jam. Saya jamin. Hahaha

Sebaliknya saya suka main-main soal minum obat. Tidak ada namanya disiplinnya sama sekali. Saya tidak pernah menghabiskan obat dari dokter. Paling lama sehari semalam itu sudah rekor pribadi. “Apa enaknya obat? Kalau tujuannya sembuh sudah tercapai kenapa diminum terus? Itu kan racun!”, bela saya.

Masih satu pertanyaan saya yang belum terjawab. Kenapa saya sakit? Apakah Tuhan sedang sayang? Mungkinkah Tuhan sedang melindungi saya dari bencana lain? Apakah dosa saya sedang dikurangi? Saking banyaknya dosa. Saya harus dihadiahi rasa sakit biar berkurang. Keep Husnudzon !!!. Tuhan sayang sama saya.

Tensi saya 100/70. Masih rendah seperti biasa ketika saya periksa ke dokter. Saya maag, mual, badan dan kepala tidak enak. Lidah saya kotor. Penjelasan dokter mencerahkan. Saya maag, masuk angin dan demam. Terakhir. “Jangan makan pedas, asam dan bakso dulu!” kecam dokter Wisnu.

Saya berharap cepat pulih. Hari senin. 26 November 2012. Kepala saya masih pusing. Migran sebelah kanan. Lidah saya masih pahit. Perut saya masih kembung. Masih enggan makan enak. Yang tidak enak apalagi. Tapi itu semua bukan halangan. Saya memutuskan stop minum obat. Walaupun kemarin dokter memberi wejangan untuk menghabiskan obatnya.

Saya frustasi. Sakit kok tidak sembuh-sembuh. Sudah minum obat. Lama. Banyak. Nggak enak. Huhuhu

Saya mengotak-atik pikiran. Sakit ini hanya persepsi. Saya paksa untuk buka coreldraw. Saya bikin desain. Saya mulai menulis catatan ini. Mungkin hasilnya tidak bagus. Tapi cukup menyembuhkan. Dan obat paling ajaib. Sedekah. Saya harus bersedekah. Besok. Insha Allah
Setelah saya pulih nanti. Saya berjanji (red:Insha Allah) akan Keep Fighting lagi. Mengejar nikmat waktu yang tertunda. Dengan nikmat sakit yang diberikan. Keep Husnudzon! Saya ralat. Mengejar nikmat sakit yang dianugerahkan. Menunggu nikmat sehat. Saya istirahat dulu. Pikiran dan badan. Alhamdulillah.

Bahkan saya akan lebih melimitkan waktu. Itu passion saya sekarang. Merambah hobi baru. Menulis, berenang dan belajar bahasa asing (red: bahasa inggris). Juga marketing. Doakan. Aamiin-kan sekalian. Aamiin

Keep Fighting!!! Learn. Action. And Share

@johanhariyanto

#HematBermartabat



Cara hemat anak kos (red: Mahasiswa)


Hemat itu bahagia. Hemat itu membahagiakan. Hidup hemat berarti hidup efisien. Efisien berarti tidak banyak berbuat sia-sia. Sudah sesuai sunah nabi. Tinggalkan perkara yang sia-sia.
Hemat tidak hanya pada konteks uang saja. Hematlah dalam segala hal. Pada perilaku, kebiasaan, pakaian, makanan, barang-barang dan yang lainnya.

Sebagai mahasiswa saya sangat anjurkan anda untuk berhemat. Anda kan belum kerja. Masih minta jatah pada orangtua. Apa itu balasan kepada orangtua? Mereka bekerja anda menghamburkannya.

Di bawah ini adalah perilaku hemat yang sudah saya praktikan dan saya rasakan dampaknya. Tidak lain adalah keindahan dan kebahagiaan. 

Charge handphone seminggu sekali. Bisa??! Tentu. Beli HP yang hemat pemakaian baterainya. Saya hanya punya satu HP. Merk nokia tipe 1280. Bisa sms dan telepon. Cukup. Ditambah dengan tombol keypad empuk. Nyaman buat sms-an. Speaker keras. Nyaman buat telepon-an. Sudah lebih dari cukup.

  • Ingat iklan layanan masyarakat 17-22? Saat ini saya sedang mempraktikannya. Setelah pukul 22 saya mematikan kamar kos. Entah sudah mau tidur atau belum. Lampu depan kamar kos juga saya matikan. Mushola dan kamar mandi ditempat kos juga. Insya Allah bisa menhemat listrik pak kos yang akhir-akhir ini sering njegleg. Itu kan juga listrik negara. Untuk digunakan bersama. Itung-itung membantu Indonesia. Dan seluruh masyarakat yang belum bisa merasakan listrik. Dan yang akan merasakan listrik. Insya Allah.
  • Matikan kipas angin dan lampu kamar kos ketika meninggalkan kamar walaupun sebentar. Sewaktu musim dingin seperti sekarang. Ada yang masih nyalain kipas itu namanya sombong. Boro-boro nyalain kipas. Pake selimut aja masih dingin. Hmm 
  • Men-charge gadget diwaktu malam lebih hemat ketimbang siang hari. Tetapi setelah baterai penuh, langsung dicabut.
  • Ingin minum air dingin yang menyegarkan tapi tetep hemat listrik. Pakai air kendi! 
  • Budaya China dan Jepang. Setelah makan mereka minum dengan air hangat (red: teh). Menurut mereka,” Air hangat lebih baik bagi tubuh.” 
  • Matikan air kamar madi kos jika sudah penuh.
  • Gunakan air secukupnya. Untuk wudlu juga harus secukupnya.
  • Air sisa mencuci gunakan untuk menyiram tanaman. Bisa juga untuk membersihkan lantai kamar mandi dan mengepel lantai kamar kos.
  • Sekarang kita tak perlu heran kenapa orang china itu pada umumnya lebih kaya dari penduduk pribumi di sekitarnya. Lihat saja Ahok. Saya kagum dengan gebrakannya baru-baru ini. Setelah dilantik jadi wagub DKI Jakarta, Ia mengharuskan pemerintah daerah Jakarta menghemat anggaran sebesar 25 %. Dan ini indah. Belum ada gubernur maupun wakil gubernur yang melakukan itu. 
  • Yang anak kos makannya sekedarnya. Asal memenuhi 4 sehat 5 sempurna.
  • Penghalang terbesat #HematBermartabat adalah anda gemuk! Ingat itu. Bagaimana mau hemat kalau suka makan. Sedikit-sedikit makan.
  • Berhenti makan sebelum kenyang. Ini islam yang mengajarkan. Bukan karena nggak punya makan.
  • Pisahkan 20% uang saku anda seminggu atau sebulam sebelum anda gunakan. Setiap hari. Anda cukup membawa uang kurang dari 25 ribu. Cara ini sangat manjur. Coba aja. Saya sudah mencoba. Bahkan saya hanya bawa 15 rb. Mau tahu hasilnya. That’s so amazing !!!
  • Isi bensin kendaraan anda pada awal minggu. Saya isi 20 ribu. Dan tidak saya isi lagi sebelum bertemu di awal minggu berikutnya. #HematBermartabat

Inilah sebagian yang saya share. Ya. Hanya sebagian saja. Lebih lengkapnya coming soon. Haha. Salam hemat. Hemat Bermartabat.

Keep Fighting !!! Learn, Action, and Share
@johanhariyanto

Nikmat Iri


Iri Positif

Apa jenis iri anda? Apakah anda iri terhadap materi dan kebendaan orang lain? Atau anda iri terhadap prestasi dan kebaikan oranglain?

Saya adalah manusia biasa. Dan itu sudah niscaya. Fitrah-nya dari sana. Sebagai manusia biasa saya juga pernah merasa iri. Saya tidak luput dari iri pada teman yang punya barang-barang terbaru, terbaik, atau mahal. Tidak mau dibilang munafik. Itulah kenyataannya.

Saat ini ternyata berbeda. Saya sedang memasuki masa coba-coba. Saya dapat berubah-ubah. Saya mencari setelan yang pas sebagai jati diri. Terkadang belajar menjadi galak. Terkadang saya lembut. Di lain waktu saya sangat berani. Di waktu yang lain saya sangat sabar. Saya sadari keadaan ini. Saya merencanakannya. Inilah proses saya menuju dewasa. Dewasa yang hakiki. Kalau ada???

Masalah iri. Saya pun meneladani teori yang baik untuk saya praktikan.

Saya berusaha membentuk passion. Yang berbeda dengan orang kebanyakan. Sering saya dengar, “Mereka yang popular adalah mereka yang tampil berbeda”.

Ketika teman-teman saya membeli sepatu merk luar negeri. Mahal. Original maupun KW. Saya pusing browsing mencari sepatu merk asli Indonesia.

Sebenarnya banyak pengrajin sepatu di Indonesia. Tetapi sayangnya mereka membuat sepatu kemudian ditempeli merk luar negeri. Sebagai mahasiswa, saya sering tergiur. Sepatu murah. Merk terkenal.

Beruntung. iman saya cukup kuat. Saya gigih mencari sepatu merk dalam negeri. Negeri sendiri. Negeri Indonesia. Merk dagang sendiri. Bikinan orang Indonesia. Saya ingin menghargai usahanya. Saya akan membeli produknya. Pasti!

Satu hal yang saya baru sadar. Ketika teman-teman saya berlomba-lomba memiliki handphone pintar. Saya lupa. Seharusnya saya iri. Saya masih punya satu hape. Tidak bisa internet. Tidak bisa BBM, WhatsApp apalagi sosmed. Tapi jangan salah hape saya tahan banting dan tahan lamaaaaa...

Nikmatnya, saya tidak perlu ribut mencari charger saat hape lowbat di tengah hari. Saya tidak perlu membeli powerbank untuk bisa mencharge saat sedang bepergian. Saya lebih irit karena tidak perlu beli pulsa sosmed, pulsa full service, pulsa ini pulsa itu. Saya hanya perlu satu pulsa. Pulsa regular. Saya muda dan nggak suka ribet. Hahaha.

Setelah banyak melakukan experiment. Dari teori ke praktik. Subjek saya sendiri. Johan Hariyanto. Kini saya bisa merasakan jenis iri yang berbeda. Saya iri melihat teman kos. Sebut saja namanya python<Bukan nama sebenarnya>. Dia rajin bersih-bersih kamarnya. Rajin sekali. Sangat rajin. Clean clean clean and cleaaaar.

Saya meneladaninya. Walaupun tetap masih kalah. Tapi saya berproses agar bisa rajin bersih-bersih. Saya tekunkan. Saya disiplinkan. Dan bisa dilihat hasilnya di kamar kos saya. Boleh dikritik. Boleh dinilai. Boleh dihujat juga. Pokoknya ikhlassss

Saya juga sering iri pada teman yang suka dan mampu memberi banyak <sedekah><infak>. Iri sekali. Dari teori yang saya dapat. Sedekah itu mengkayakan. Membahagiakan. Menyehatkan. Saya iri kalau nanti saya lebih miskin gara-gara sedekah saya lebih sedikit. Saya sering sakit gara-gara infak nya sedikit. Sering emosi gara-gara jarang tersenyum. Tentu yang memberi semua itu Tuhan. Tuhan memberi nikmat sehat, nikmat cukup dan nikmat senikmat nikmatnya kepada orang-orang yang suka memberi. Saya tegaskan bukan sedekahnya. Tapi TUHAN.

Bukan apa-apa. Saya malu saja. Saat baru sedikit bisa memberi. Tapi pamernya luar biasa. Walaupun dalam hati saya berharap teman-teman juga iri bisa memberi. “Johan aja bisa, kenapa saya tidak?!”, kata hati yang ingin saya dengar dari teman-teman.

Keep Fighting !!! Learn. Action. And Share

By : @johanhariyanto

Buah Kebaikan

Abu Ubaidah r.a. pernah berkata :
“Ketahuilah sudah berapa banyak orang yang selalu membersihkan bajunya namun menodai dienya. Ketahuilah sudah berapa banyak orang yang memuliakan dirinya sendiri padahal ia justru menghinakannya.”
Keterangan :
Abu Ubaidah, Amir bin Abdullah Al-Jarrah Al-Fihri Al Qurasyi. Orang terpercaya umat ini, ia juga salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surge.
Ia masuk islam melalui tangan Abu Bakar Ash-Shidiq r.a. pada masa-masa awal dakwah Islam.
Ia punya beberapa keutamaan. Ia meninggal dunia karena penyakit tha’un, pada penyakit ini mewabah di Syam, pada tahun 18 H.
Saat itu ia berumur delapan puluh lima tahun.
Semoga Allah SWT meridhainya.

Psikologi Perkembangan : Tahap-tahap perkembangan menurut Hurlock


Elisabeth B. Hurlock (1978)dalam bukunya Development psychology, memaparkan tahapan perkembangan sebagai berikut :
  1. Prenatal (sebelum lahir) atau pralahir
Dimulai dari masa konsepsi sampai usia 9 bulan dalam kandungan ibu.
  1. Masa Natal
Tahap ini meliputi:
  1. Infancy atau neonates (dari lahir sampai 14 hari)
Merupakan fase penyesuaian terhadap lingkungan. Pada masa ini bayi mengalami masa tenang dan tidak banyak terjadi perubahan.
  1. Masa bayi ( antara 2 minggu – 2 tahun )
Pada fase ini bayi tidak berdaya dan sangat tergantung pada lingkungan. Lama kelamaan bayi mulai berusaha melepaska diri dan mulai belajar berdiri sendiri. Hal ini dimungkinkan karena tubuhnya semakin kuat dan dapat menguasai gerakan-gerakan ototnya, misalnya : jalan sendiri, bicara, makan dan bermain.
  1. Masa anak ( 2-10/11 tahun )
Anak masih immature. Tanda-tanda : usaha menyesuaikan diri dengan lingkungan, sehingga anak merasa bahwa dirinya merupaka bagian dari lingkungan. Penyesuaian social melalui pergaulan dan berbagai pertanyaan.
Strum und Drang, yaitu pada usia 3 tahun anak mengalami haus nama, segala hal ditanyakan dan diragukan.
  1. Masa remaja ( 11/12 – 20-21 tahun )
Masa remaja adalah masa peralihan atau masa transisi dari anak menuju dewasa.
Tahap ini meliputi :
  1. Praremaja ( 11/12 – 13/14 )
Merupakan fase yang pendek yaitu hanya 1 tahun. Perempuan mulai pada usia 11/12 – 12/13 tahun, sedangkan laki-laki 12/13 – 13/14 tahun. Fase ini sering juga disebut fase negative, yaitu fase yang sukar untuk anak dan orangtua. Perkembangan fungsi-fungsi tubuh dan seks juga terganggu.
  1. Remaja awal (13/14 – 17 tahun )
Terjadi perubahan fisik yang sangat cepat dan mencapai puncaknya. Terjadi juga ketidakseimbangan emosional dan ketidakstabilan dalam banyak hal. Mencari identitas diri dan hubungan social yang berubah.
  1. Remaja lanjut ( 17 – 20/21 )
Ingin selalu jadi pusat perhatian, ingin menonjolkan diri, idealis, mempunyai cita-cita tinggi, bersemangat dan mempunyai energy yang besar, ingin memantapkan identitas diri dan ingin mencapai ketidaktergantungan emosional.
  1. Dewasa
Tahap ini meliputi :
  1. Dewasa awal ( 21 – 40 tahun )
Penyesuaian terhadap pola-pola hidup baru, harapan mengembangkan nilai-nilai, sifat-sifat yang serba baru. Diharapkan menikah, mempunyai anak, mengurus keluarga, karier dan mencapai prestasi.
  1. Dewasa menengah ( 40 – 60 tahun )
Merupakan masa transisi, masa menyesuaikan kembali, masa equilibrium-disequilibrum. Masa yang ditakuti karena mendekati masa tua, wanita kehilangan kemampuan reproduksi.

Psikologi Perkembangan : Tugas-tugas perkembangan menurut Havinghurst


  1. Periode bayi dan anak kecil
  • Belajar berjalan
  • Belajar makan, makanan padat
  • Belajar bahasa
  • Control badan
  • Stabilitas psikologis
  • Belajar perbedaan jenis kelamin, kontak perasaan dengan orang tua, keluarga dan orang lain
  • Pembentukan pengertian sederhana : realita fisik dan social
  • Belajar apa yang benar dan salah, perkembangan kata hati
  1. Anak sekolah
  • Ketangkasan fisik
  • Sikap sehat terhadap diri sendiri sebagai organisme yang tumbuh
  • Belajar peranan jenis kelamin, kontak-kontak dengan teman-teman sebaya, belajar sikap trehadap kelompok dan lembaga-lembaga
  • Belajar membaca, menulis, berhitung, belajar pengertian kehidupan sehari-hari
  • Perkembangan moralitas skala nilai-nilai
  1. Masa muda ( pubertas, adolesensi )
  • Menerima keadaan jasmaniah
  • Menerima peranan jenis, persiapan menikah, dan mempunyai keluarga, belajar lepas dari orang tua secara emosional, belajar bergaul dengan kelompok
  • Belajar tanggung jawab sebagai warga Negara, menginginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab social
  • Perkembangan skala nilai secara sadar, perkembangan dunia dan akhirat
  • Persiapan mandiri secara ekonomi, pemilihan dan latihan jabatan
  1. Masa dewasa muda
  • Memilih jodoh, belajar hidup dengan pasangan, mulai membentuk keluarga, mengasuh anak, mengemudikan rumah tangga, menemukan kelompok social
  • Menerima tanggung jawab warga Negara
  • Mulai bekerja
  1. Usia tengah baya
  • Menerima dan menyesuaikan diri terhadap percobaan fisik dan fisiologis
  • Pasangan dipandang sebagai person, menolong anak muda menjadi dewasa
  • Mencapai tanggung jawab social dan warga Negara secara penuh
  • Mencapai dan mempertahankan standar hidup ekonomis
  1. Masa dewasa lanjut
  • Penyesuaian diri terhadap kekuatan fisik yang menurun
  • Menyesuaikan diri dengan kematian teman hidup, menemukan relasi dengan kelompok sebaya
  • Memenuhi kewajiban-kewajiban social dan warga Negara
  • Penyesuaian dengan gaji yang berkurang dan pension
  • Merealisasikan keadaan hidup fisik yang sesuai

Sumber : Monk, Knoers dan Haditono, 1984 dalam Psikologi Umum - Alex Sobur

Mencari Jurnal Psikologi


Sebagai mahasiswa kita sering diberi tugas oleh dosen untuk mencari jurnal, baik itu jurnal nasional maupun jurnal internasional. Untuk mencari jurnal salah satunya yaitu dengan browsing melalui internet. Di bawah ini salah satu situs pencari jurnal ilmiah internasional yang free untuk di download. Saya sebagai mahasiswwa psikologi sering menggunakan situs pencari tsb karena mudah dan lengkap dalam menggunakannya.
Berikut cara mencari jurnal :
  1. Buka url : http\\www.proquest.umi.com
  2. Silakan log ini dengan username dan password di bawah ini
Username : 00c7tqwtjj
Password : pquns
Username dan password di atas adalah member yang dibuat oleh salah satu dosen di kampus saya, yang diperbolehkan untuk digunakan oleh mahasiswa.
  1. Pilih kategori jurnal yang ingin anda cari
  2. Di bagian searching…. Ketikkan nama jurnal yang anda cari
  3. Pilih dan temukan jurnal yang anda maksud.
Catatan : karena jurnal dalam situs tersebut merupakan jurnal internasional maka untuk mempermudah mencari jurnal yang anda maksud sebaiknya terlebih dahulu buka google translate untuk menterjemahkan keyword jurnal yang ingin anda cari.

Sepeda


Alat transportasi
Dari dulu sampai sekaran pun sepeda merupakan alat transportasi yang popular. Sepeda digunakan para petani untuk pergi ke sawah. Mereka biasanya juga menggunakan sepeda jenis jengki atau sepeda onthel kuno. Biasanya para petani menggunakan sepeda untuk mengangkut hasil panennya. Sepeda juga dipakai oleh para peternak untuk membawa binatang ternaknya ( seperti kambing) ke tempat pasar hewan. Untuk membawa kambing mereka sebelumnya telah memasang wadah dibelakang sepedanya. Mereka juga menggunakan sepeda untuk mencari pakan ternak mereka. Bagi pelajar, sepeda digunakan untuk mereka berangkat ke sekolah. Juga mereka gunakan untuk bermain di sekitar kampung.
Ternyata sepeda masih banyak digunakan walaupun sekarang banyak bermunculan kendaraan bermotor yang lebih cepat dan bisa menempuh jarak yang jauh. Walaupun tetap kita tidak dapat menyangkal bahwa kini sepeda banyak ditinggalkan karena adanya sepeda motor. Motor menjadi kendaraan paling banyak digunakan sekarang ini. Karena keunggulannya tersebut motor menjadi kendaraan yang mampu menggantikan peran sepeda. Hingga akhirnya kini sepeda mulai merangkak naik kepermukaan lagi seiring dengan dampak negative dari terlalu banyaknya gas buang yang membahayakan bagi lingkungan dan mahkluk hidup. Semakin panasnya bumi kita dan macetnya jalan-jalan di kota membuat para pecinta sepeda kembali menggeliat untuk menjadikan sepeda sebagai alat transportasi alternative. Kampanye go green dan global warming pun bermunculan. Dan sekarang sering kita lihat para karyawan menggunakan sepeda untuk mobilitasnya ke kantornya. Juga banyak dari mereka membuat komunitas sepeda untuk ke kantor yang biasanya disebut dengan “Bike to Work”. Kemudian dari Bike to Work sekarang bermunculan lagi komunitas yang lain seperti Bike to School atau Bike to Campus, yang dibentuk oleh para pelajar dan para mahasiswa.
Stop Global Warming
Seiring kampanye go green dan stop global warming turut juga tumbuhnya komunitas-komunitas sepeda di masyarakat kita. Baik dari anak kecil sampai kakek-nenek kini mulai kembali meramaikan penggunaan sepeda. Sepeda menjadi salah satu alat yang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi emisi gas buang dari kendaraan bermotor. Dengan berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor dan beralih menggunakan sepeda pemanasan global itu dapat dikurangi.
Lingkungan kita yang semakin panas ini membuat kita memutar otak untuk bagaimana menguranginya. Kemudian sekarang semakin marak penggunaan sepeda dari berbagai komunitas. Semakin seringnya juga diadakan acara-acara dengan menyertakan sepeda santai. Sebagai contoh HUT PDAM Sragen tahun 2010 mengadakan acara sepeda santai berkeliling sekitar kota Sragen dengan menyertakan kupon untuk undian berhadiah bagi para peserta. Hal ini tentu sangat positif untuk membangun masyarakat kita untuk kembali mencintai penggunaan sepeda, dan yang pasti dapat mengurangi dampak dari pemanasan global.

Hobby
Ternyata sepeda tidak hanya digunakan sebagai alat transportasi saja, melainkan banyak dari peinta sepeda menjadikan kegiatan bersepeda sebagai hobby. Ada dari lingkungan sekitarku, setiap pagi sesudah shubuh sudah ngegowes sepeda kesayangannya berkeliling kota berjam-jam sebelum akhirnya dia berangkat kerja. Hal ini dia lakukan setiap pagi dan kadang juga sore hari setelah pulang dari kantornya. Bahkan setiap akhir pekan dia mengajak serta keluarga berkeliling kota bersama-sama dengan para pecinta sepeda lainnya dan akhirnya berkumpul di car free day di jalan raya yang telah dibuat PEMKAB.
Dari contoh di atas menunjukkan bahwa macam-macam hobby itu lebih banyak lagi, salah satunya bersepeda. Bersepeda tidak hanya bermanfaat sebagai penyalur hobby seseorang saja. Melainkan mempunyai banyak keuntungan lainnya juga. Tentu keuntungan itu tidak mempunyai dampak yang buruk bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Ajang kreatifitas
Dengan berkembangnya berbagai varian sepeda hingga saat ini membuat para pecinta sepeda di Indonesia semakin kreatif. Baik itu pecinta sepeda dari komunitas atau kalangan sendiri. Karena banyak dari jenis sepeda yang sekarang sedang digemari itu mahal jika membelinya jadi maka para pecinta sepeda ini merangkai sepeda yang mereka inginkan dengan biaya yang bisa lebih diminimalisir.
Dari jenis sepeda Onthel tua, jengki, MTB, downhill, BMX, low rider hingga sekarang ada jenis sepeda yang sedang popular-populernya di kalangan anak muda yaitu sepeda Fixie. Dengan mempertimbangkan harga dari sepeda-sepeda yang berkualitas dan mempertimbangkan dari budget yang mereka punya timbul gagasan untuk membuat model sepeda seperti yang mereka inginkan dengan budget yang terjangkau. Dari itu lah yang bisa membuat para pemuda sekarang menjadi lebih kreatif.
Jenis sepeda yang kini banyak diminati untuk meng-customnya sendiri adalah sepeda jenis low raider dan Fixie. Dua jenis sepeda di atas menjadi wujud ekspresi dari perasaan anak muda. Mambangunnya tidak ada batasan apapun. Dengan kemampuan dan daya imaginasi serta kreatifitas mereka membangun sepeda yang mereka inginkan.
Lifestyle
Tidak hanya baju, sepatu dan aksesoris saja yang kini menjadi gaya hidup di masyarakat kita. Sepeda kini menjadi barang yang dapat menunjukkan ciri dari pribadi seseorang. Hal ini dapat kita lihat dari jenis sepeda dan warna sepeda apa yang dia miliki. Sepeda downhill menunjukkan bahwa orang tersebut suka dengan petualangan-petualangan yang menantang. Warna sepeda merah jambu mencirikan bahwa pemiliknya adalah seorang yang feminine. Kita juga dapat melihat seorang itu dari kalangan atas, menengah atau kalangan kelas bawah. Sepeda dengan merk yang hanya dapat dibeli bagi mereka yang berduit menunjukkan mereka itu dari kalangan kelas elite. Begitu juga dengan kelas-kelas yang lain.
Investasi
Rumah, tanah dan perhiasan mungkin sudah tidak asing kita dengar sebagai sarana untuk berinvestasi. Namun kini sepeda pun dapat menjadi alat investasi yang menggiurkan. Sekarang banyak kolektor sepeda yang membeli sepeda dari jenis sepeda antic dan kuno. Mereka rela membeli sepeda itu dengan harga yang sangat fantastic mahalnya. Ada juga di pedesaan kakek-kakek yang mempunyai sepeda jenis onthel tua yang masih dia rawat dengan sangat baik menjadikan sepedanya tidak hanya sebagai alat transportasi namun juga menjadikan sepedanya sebagai warisan kepada anak dan cucu-cucunya. Orang-orang ini tidak mau menjual sepeda yang mereka miliki meski ditawar dengan harga semahal apapun.
Olahraga
Sepeda tidak sekedar hobby, alat transportasi atau juga sarana investasi. Namun dengan bersepeda kita mempunyai manfaat yang sangat besar bagi kesehatan kita. Bersepeda dapat juga kita katakan bahwa kita sedang olahraga. Para ahli mengatakan bahwa dengan kita rutin bersepeda dapat menjadikan kita mempunyai nafas yang panjang. Dari sana kita dapat mengambil manfaat-manfaat lain yang masih banyak lagi bagi kesehatan kita.

Up