One Think One Action

Perjalanan 3 Misi : Album Kenangan, Kerjaan, dan Bacaan

Masih suasana awal tahun. Suasana liburan kuliah khsusunya mahasiswa Psikologi UNS. Juga suasana musim hujan. Senin, 14 Januari 2013 pagi-pagi saya berencana ke Solo. Ada tiga agenda besar saya di solo, pertama, rapat pembuatan album kenangan angkatan. Kedua, survey tempat membeli perkakas untuk jualan. Ketiga, saya ingin membeli buku “Habibie dan Ainun”.

Rencana awal berangkat pukul 8 WIB, tetapi karena dapat sms dari ibu untuk menjemput Chandra, adik kedua saya di playgroup Kartini, Sragen, karena Bapak ada acara mendadak sebelum jam 9 sudah berangkat ke Pati, Jawa Tengah. Saya menunda keberangkatan jadi pukul 10 langsung setelah menjemput Chandra (3 tahun).

Waktu yang seharusnya saya gunakan bersiap-siap untuk segera berangkat, saya pergunakan untuk membersihkan rumah. Saya menyapu setiap bagian rumah. Tidak berat, sama sekali berat. Rumah yang sudah hampir dua tahun kami tempati cukup kecil, bisa dibilang sangat kecil. Ukuran awal 36, kemudian dilebarkan menghabiskan sisa tanah. Bisa dibayangkan betapa sempitnya. Ya. Karena kami tinggal di perumahan yang sederhana. Kompleks perumahan baru di Sragen. Puro Asri II, yang rencananya akan membangun 1000 rumah. Sampai saat ini masih proses pembangunan bersamaan dengan penduduk baru yang sedikit-demi sedikit mengisi rumah di kompleks ini. Tentu rumah milik sendiri, dan ada yang ngontrak.

Kami termasuk penghuni paling lama di kompleks ini. Sehingga ketika ada inisiatif untuk pembentukan RT, bapak terpilih sebagai ketuanya. Padahal keluarga kami sama sekali tidak punya pengalaman di bidang ini. Tetapi dengan terbentuknya pengurus RT, urusan kependudukan sangat terbantu. Pengurusan perpindahan KK hingga mencari bantuan pemerintah untuk pengajuan pemasangan saluran PAM jadi lebih mudah.

Setengah sepuluh saya langsung mandi dan berkemas. Saya cepat-cepat, takut keduluan sekolah selesai sehingga adik ketakutan tidak ada orang yang menjemput.

Ketika saya sampai di sekolah Chandra. Pas sekali saat siswa dipulangkan, atau mungkin tepat ketika siswa boleh keluar dari ruang kelas. Ketika saya turun dari motor, kemudian saya melihat adik baru keluar dari ruang kelas. Dari mimik mukanya dia terlihat bingung melihat saya. Juga sedikit ingin menangis. Mungkin bingung karena yang datang menjemput bukan Bapak, tapi saya kakaknya. Tapi saya langsung mengajak Chandra naik motor terus langsung saya antarkan ke kantor, ibu sudah menunggu di sana.

Sekarang saya jarang mengunjungi kos-an. Terlebih setelah kuliah semester ganjil berakhir. Saya selesai semester 7. Hampir satu minggu saya tidak ke kos. Walaupun musim libur tetapi kos-kosan tetap ramai. Maklum, kosan ini besar. Tidak hanya ditinggali oleh mahasiswa saja. Tetapi ada juga dari siswa dan pekerja. Juga dari berbagai daerah asal tempat tinggalnya. Sampai di kos saya ketemu dengan Python yang kebetulan juga baru sampai. Teman satu kampus satu angkatan satu kelas satu kos satu lantai ini memang sangat rajin ke Solo. Tidak libur tidak kuliah dia selalu ada di Kos.

Baru sebentar duduk, belum sempat membereskan kamar yang view-nya kurang bagus, berantakan. Perut saya sudah mulai berdemo, padahal baru jam 7 pagi tadi sarapan.
Saya merasa beberapa hari ini perut mudah lapar. Tepatnya setelah berobat ke RS Sarila karena maag saya kambuh. Mungkin efek dari obat agar maag saya cepat pulih jadi obat memaks untuk sering-sering makan. Tapi saya merasa ini terlalu keseringan, jeda waktunya sangat singkat. Baru sebentar makan sudah lapar lagi.

Kebetulan teman saya Riki sedang makan di Hik-hikan tempat biasa kami makan, dekat stasiun Jebres, Surakarta. Saya langsung tancap gas ke sana. Sebelum pulang saya membungkus beberapa gorengan kesukaan. Ada ubi goreng, pisang goreng, dan juga tahu goreng yang juga gorengan kesukaan presiden kita SBY. Saya minta plastik sama pakdhe Karyo, bapak penjual hik itu. Saya bungkus dengan plastik bening untuk pembungkus es teh, kemudian saya rangkap dengan plastik kresek hitam. Ini dilakukan agar plastik hitam tidak terkena gorengan langsung. Bahaya zat kimia yang terkandung pada plastik hitam dapat melunturi gorengan. Sesuai anjuran dari ketua BPOM, Husniah Rubiana Thamrin Akib agar tidak menggunakan plastik kresek hitam sebagai wadah makanan. Akan berpengaruh pada kesehatan jangka panjang. Bahkan bisa beresiko menimbulkan kanker dan kerusakan ginjal.

Sesuai janji, setelah salat duhur, saya berangkat ke kampus. Saya hampiri Riki, karena sekalian setelah rapat kami langsung survey tempat toko perkakas untuk jualan makanan.
Saya tidak suka terlambat. Kalau pukul 1 janjiannya, maka pukul 1 sebisa mungkin saya sudah ada di tempat. Di kampus saya melihat teman-teman mahasiwa, kebanyakan angkatan akhir, kami sebut dengan angkatan tua, terutama angkatan 2009. Saya kagum teman-teman sangat rajin datang ke kampus walaupun waktu libur, punya semangat tinggi untuk cepat menyelesaikan skripsi . Di perpustakaan mencari referensi judul dan buku. Saling berdiskusi dari judul, pembimbing, sampai landasan teori. Di depan ruang dosen, antri menghadap bu Rin untuk konsultasi judul yang akan diajukan. Di parkiran dan di dalam ruang himapsi teman-teman dengan laptop sendiri-sendiri di hadapannya sedang berkoneksi dengan internet mencari referensi jurnal-jurnal ilmiah yang sesuai dengan tema/judul skripsi yang di minati.

Di kursi duduk depan TU saya dan Riki menunggu Inug dan Ratna, teman janjian rapat album angkatan. Inug sedang makan di warung “Sederhana” sebrang kampus. Warung makan biasanya saya dan teman-teman cowok angkatan 2009 makan saat kuliah. Warung yang cukup nyaman untuk mengobrol, jajanan warung yang enak, terutama mendoannya, dan kepala ayam gorengnya yang jadi rebutan, tempat bergosip juga. Sementara Ratna juga masih perjalanan ke kampus.

Setelah kami berempat berkumpul, kami membahas apa saja yang dibutuhkan dalam membuat album kenangan angkatan. Kami sepakat untuk menggunakan jasa photografer profesional untuk pengambilan gambar sampai album dicetak. Dari informasi yang Ratna dapat, perkiraan untuk membuat album kenangan harga bisa sampai130 ribuan. Jika bisa kami minta agar harga hanya 100 ribu saja.

Dari situ kami melanjutkan untuk membahas konsep. Kebetulan Inug membawa album kenangan waktu dia SMA. Abum itu bisa menjadi gambaran, bisa diambil konsep yang menarik. Kami memutuskan menggunakan konsep “picnic and fun”. Untuk foto utama kami membagi menjadi 15 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5 orang. Kelompok ini panitia yang membagi. Jadi semua mahasiswa dari angkatan 2009 bisa masuk semua. Dan tidak ada yang merasa diasingkan. 15 kelompok berarti juga 15 lembar halaman untuk bagian foto utama. Rencananya foto utama akan diambil di daerah Kemuning, Ngargoyoso dan sekitarnya. Seperti kebun teh Kemuning, Cafe Dorodonker, Hutan Raya Sukuh, Setiawan Jodi, dan lainnya. Sesuai dengan tema “Picnic and Fun”.

Pembahasan dilanjutkan dari prolog yang diisi dengan sejarah perjalanan angkatan 2009 dari kampus Tirtomoyo, RK 3 FK kampus pusat, Kentingan, sampai ke kampus Mesen yang kami tempati sekarang, mungkin sampai lulus nanti. Kemudian bagian testimoni yang akan mengisi siapa saja agar semua bagian dari warga kampus dapat terwakili memberikan pesan kepada kami angkatan 2009 yang akan segera lulus. Ada juga bagian award angkatan, kami menyebutnya bagian “ter-ter-an”, bagian ini sebenarnya untuk seru-seruan saja. Kami akan membuat nominasi dan memvote-nya lewat facebook. Kami juga tak lupa memberikan apresiasi bagi teman-teman angktan 2009 yang pindah kuliah. Bagian ini kami beri nama “Dear Gone”. Selesai juga akhirnya, kami pada epilog. Kebetulan selesai, cuaca mendung, tanda segera hujan. Kami sepakat seminggu lagi bertemu lagi untuk mengunpulkan materi dan membahas langkah selanjutnya. Kami berpisah, saya melanjutkan misi.

Sebelumnya ketika menunggu Inug dan Ratna saya bertanya-tanya sama Riki dan Anjar, putra dari Bu Warno, Ibu penjaga kantin kampus. Saya bertanya tempat biasa ibunya membeli kebutuhan untuk jualan. Dari informasi itu saya langsung mencarinya berboncengan dengan Riki menggunakan motor yang saya pinjam dari Bapak. Daerahnya berada di sekitar pasar Gedhe. Setelah tahu tempatnya yang terlihat sangat ramai. Kami langsung pulang. Saya tidak mengantarkan Riki langsung ke kosnya. Tapi kami ke kos Python.

Ternyata setelah Python pergi badminton, hujan justru turun deras. Kami tetap di kamar kos-an saya karena belum juga berhenti sampai waktu isya. Baru setelah jamaah isya di masjid Al Hakim di dekat kos, kami pergi belanja ke As-Gross di belakang kampus walaupun sebenarnya hujan juga belum berhenti.

Dari As-Gross saya mengantarkan Riki pulang ke kosnya. Hujan masih turun walaupun sudah tidak deras lagi. Sudah hampir pukul 8 malam, tapi hati masih mengganjal. Segera saya mengambil keputusan, setelah mengantar Riki, sesuai rencana, saya pergi ke togamas. Perjalanan cukup jauh, ditambah dengan hujan yang mengguyur cukup mampu membasahi jaket dan celana yang tidak menggunakan mantel hujan.

Kenapa saya tetap hujan-hujanan demi ke togamas? Karena ini sudah menjadi prinsip, bahwa setiap niat harus saya kerjakan. One think one action. Itu prinsip yang saya pegang sungguh-sungguh.

Alhamdulillah togamas masih buka. Terlihat parkiran sepi. Bukan karena sudah mau tutup, atau saya kemalaman, tapi karena hujan. Benar dalam hati, jaket saya basah. Saya titipkan tas dan jaket. Saya masuk togamas, cukup sepi, apalagi lantai 2. Hanya dua-tiga orang yang saya lihat di sana. Saya pilih-pilih buku sambil berpikir keras jadi membeli buku Habibie dan Ainun atau tidak. Hati kuat untuk membeli, tapi logika menghambat karena harga 72 ribu mahal bagi saya. Berdasarkan prinsip saya harus membeli. Maka tidak berpikir lama lagi, saya mengambil buku dan mengabaikan buku lain yang tak jauh menarik perhatian dan keinginan untuk membelinya. Saya buat prioritas. Semoga pilihan saya tepat. Saya ke bawah bayar ke kasir dan langsung balik ke kos.

Cukup sudah rencana saya hari itu. Terpenuhi semua. Alhamdulillah. Hampir batal membeli buku di togamas karena hujan dan sudah kemalaman. Tapi niat kuat saya tetap melangkahkan kaki menerjang halangan itu. Hawa dingin begitu saya rasakan ketika sampai kos-an. Jaket dan celana jeans saya lepas. Bad cover langsung saya selimutkan menutupi seluruh badan. Saya menyalakan laptop agar tidak mengantuk. Tapi kenyataan sering berbeda dengan niatan. Saya tertidur ditemani tayangan mario teguh hasil download dari youtube. Padahal pukul 9 saya punya rencana kumpul dengan teman-teman. Saya pikir diakhir-akhir masa kuliah, kami butuh sering berkumpul. Tapi apa boleh buat saya justru terlelap. Pukul 2 malam baru terbangun. Saya gosok gigi, shalat malam dan lanjut tidur lagi.

Pagi 6.30 pagi saya bangun dan langsung bersiap diri pulang ke Sragen. Memang niat sebelum berangkat hanya bermalam satu malam di Solo. Kemudian paginya langsung pulang.

Saya berencana seminggu sekali mengunjungi Solo. Mengunjungi kos, pacar dan kampus. Perjalanan saya kali ini alhamdulillah menyenangkan. Motif dan misi saya terlampaui semua. See u next notes :)

Keep Fighting!!! Learn, Action, and Share

Follow twitter saya di www.twitter.com/johanhariyanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Up