Kalau bukan ingin jadi presiden lalu cita-cita apalagi yang lebih tinggi dari itu. Ingin jadi nabi? Mohon maaf kuota jabatan menjadi nabi sudah ditutup. Sudah tidak akan ada lagi nabi setelah Rasul Allah terakhir-Kanjeng Nabi Saw. Jadi saya putuskan ingin jadi presiden. Apakah salah? Apakah pantas? Apakah mampu? Emang enak jadi presiden? Saat nanti jadi presiden terus banyak yang protes, apa ndak stres? ya ya ya. Mana saya tahu. Orang saya belum nyoba. Makanya saya mau merasakannya dulu baru nanti kalau ada yang tanya seperti itu saya bisa jawab.
Pada mau milih kan ya?
Bukan karena ingin semua orang kenal tapi sebaliknya justru saya ingin mengenal semua orang. Indonesia kan luas, ada ribuan pulau, ada jutaan manusia. Bersuku-suku bangsa dan berbeda-beda agama hidup berdampingan menjadi satu. Saya ingin mengunjungi semua daerah di Indonesia. Menjabat setiap tangan orang yang saya jumpai. Mengobrol dengan orang bersama dengan permasalahannya. Makan makanan yang enak-enak disetiap kunjungan ke daerah. Bisa naik pesawat yang saya sendiri belum pernah naik sampai sekarang. Bisa naik perahu di sungai-sungai daerah pedalaman. Bisa naik gunung. Bisa berenang di pantai juga kali ya. haha. Bisa juga mengenal negara-negara lain yang tidak mungkin saya bisa kunjungi kalau tidak jadi presiden. Menyenangkan kan? Bertambah menyenangkan karena saya bisa jalan-jalan secara gratis (kan saya presiden, masak bayar, eh).
Menjadi presiden sekalian belajar. Sebagai seorang yang belajar di bidang psikologi, saya bisa sekalian praktik ilmu yang sudah saya dapat. Melihat masalah bukan dari sudut pandang general tapi lebih dari latar belakang permasalahannya. Siapa yang punya masalah. Bagaimana masalah terbentuk. Apakah karena faktor pribadi, golongan, agama atau cuma masalah sepele. Kan, saya bisa belajar dengan itu semua. Seperti mata kuliah psikologi lintas budaya lah.
Karena memang saya cinta tanah air juga. Bukan munafik. Anak muda harus cinta negaranya sendiri. Cinta yang 100 %. Bukan berarti tidak cinta dengan yang lainnya. Tetep cinta dengan keluarga, tetap cinta dengan orang yang disayangi dan menyayangi, dan tetep cinta dengan diri sendiri. Dan nomor satu yang tidak boleh ketinggalan, tetep cinta sama Tuhan dan nabi Saw.
Cita-cita menjadi presiden adalah bentuk cinta tertinggi saya. Ingin melayani segenap bangsa. Ingin berbakti sepenuhnya jiwa. Ingin menjalankan hidup bernegara dengan ukhuwal islamiyah. Menjaga persaudaraan secara islami bukan persaudaraan orang yang beragama islam saja. Itu namanya orang islam yang menganggap paling benar sendiri. Yang mengekslusifkan agamanya sendiri. Merasa orang yang paling diridhoi sendiri. Saya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang menjaga toleransi di antara umat. Yang bisa menghargai setiap perbedaan baik perbedaan keyakinan atau pandangan. Menjadi bagian dari rakyat indonesia yang pancasilais. Itu harusnya penafsiran yang benar dari istilah ukhuwah islamiyah.
Dan kalau benar takdir saya jadi presiden, saya berpasrah diri dengan memohon perlindunganNya. Kalau pun tidak akan jadi. Whatever. Orang cuma pengen yang setiap waktu bisa berubah-ubah. Mungkin sekarang cita-cita saya itu, tidak tahu nanti setelah tulisan ini diposting sudah berubah, kan tidak ada masalah. Yang bijak kan pernah bilang milikilah cita-cita agar hidup punya arah. Dan jangan takut setinggi-tingginya punya cita. Itung-itung daripada tidak punya cita sama sekali.
Kalau kalimat yang terakhir itu kata-kata saya sendiri. Salam. (JH)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar