YASINAN

SEKARANG ini banyak orang mulai tidak mau lagi mendirikan tradisi yasinan. Ada yang mengatakan agar tidak mengultuskan satu surah dari surah-surah yang lain di dalam alquran. Apakah maksud dengan mengultuskan itu saya sendiri tidak tahu. Yang saya tahu yasinan berbeda dengan membaca surah yasin. Kalau membaca surah yasin tok itu bukan yasinan. Kalau yasinan ada membaca surah yasinnya. Ibarat warung bakso yang juga jualan mie ayam. Di dalamnya tidak hanya membaca surah yasin tok, ada bacaan surah-surah yang lain. Ada tasbih dan tahmid yang dilantunkan. Ada doa-doa yang dipanjatkan. Ada moment silaturahmi yang dilestarikan. Ada ganjaran yang diterima bagi orang lain dan untuk diri sendiri. Ada nilai agar membiasakan diri saling memberi. Itulah yasinan sebuah tradisi yang sudah mengakar kemudian digugat dengan dalih pengultusan surah. Dengan  menggunakan senjata 'dalil' yang tidak pernah ditemukan sahihnya.


Apakah kalau orang yang tidak mengikuti yasinan, orang itu lebih rajin mengaji dan mengkaji al Quran? Jangan-jangan kesibukan dunia itu yang menjadi sebab tidak mau ada yasinan lagi. Atau mungkin karena malas bersilaturahmi dengan tetangga sendiri. Atau karena tidak mau berbagi lagi dengan masyarakatnya, takut orang lain bisa merasakan enaknya makanan yang hanya keluarganya saja yang mampu membelinya. Apakah orang yang suka yasinan tidak pernah membaca surah-surah dalam al Quran? Kalau pun tidak, kan masih mending ada yasinan itu daripada orang yang tidak mau yasinan tapi tidak pernah baca sama sekali.  Jangan-jangan tidak pernah ikut yasinan juga tidak pernah baca al Quran. Justru dengan adanya tradisi yasinan itu orang-orang banyak yang terpancing untuk mempelajari al Quran lebih lagi.

Ada lagi yang mengkritik suatu kampung yang wiridan setelah shalat kok dikeraskan dan dijamaahkan. Ada yang bilang kalau shalawatan di antara adzan dan iqamah tidak perlu dikeras-keraskan dengan speaker. "ndak ganggu yang sunnah tahiyatul masjid", katanya. Tapi saya kok malah kangen ya dengan kampung seperti itu. Ijinkan saya menjenguk masa lalu ketika masih tinggal di sebuah desa di Jogja. Kampung yang saya tinggali sejak lahir hingga remaja. Tepatnya setelah gempa 27 Mei 2006 (lulus SMP). Nuansa kampung yang islami begitu saya rasakan. Suara kentongan dan bedug terdengar menyusuri sampai sudut-sudut kampung begitu masuk waktu shalat. Pagi-siang-petang-malam, dan di antara siang dan petang. Disusul dengan adzan dan shalawat. Terutama pas maghrib, kami yang masih kecil segera berlari menghampiri sepeda langsung pancal berlomba cepat-cepatan sampai ke masjid. Lantunan shalawat yang diikuti jamaah terdengar seperti semilir angin pantai yang menentramkan jiwa. Ada perasaan asyik yang menari-nari di dalam kalbu.

Kampung yang tidak pernah satu pun warga yang memelihara anjing. 

Terus masalah wiridan yang dikeraskan. Benar, sunnahnya wiridan setelah shalat memang dipelankan dan tidak dilakukan berjamaah. Di kampung itu wiridan dilakukan secara jamaah agar mengajarkan orang yang belum tahu cara wiridan. Tidak ada yang mewajibkan ikut wiridan berjamaah. Kalau sudah bisa wiridannya boleh sendiri. Boleh langsung meninggalkan masjid baik setelah ataupun saat shalat (karena najis, batal). Orang-orang di kampung itu banyak yang sudah sepuh. Kalau harus belajar lewat buku panduan tidak bisa. Wong baca aja tidak bisa. Dan tidak bisa berbahasa Indonesia juga. Kalau khotbah jumat pun di kampung itu masih menggunakan bahasa jawa, yang saya sendiri terkadang tidak mengerti artinya karena menggunakan bahasa krama alus. Makanya perlu dituntun secara jahar, praktik langsung setelah shalat jamaah. Lalu ada yang bilang lagi, "Itu karena di kampungnya nggak pernah ngaji, harusnya diajarkan pas waktu ngaji, ngajinya setahun hanya tiga kali. Pengajian mauludan, isra' miraj dan satu suro. Jadinya begitu, jadi tuntunan." Mungkin tidak pernah mengenal kampung seperti itu. Saya yang lulusan kampung, malah merasakan kehidupan islamnya berjenjang seperti di sekolah. Sejak kecil sampai tua-tua ada kegiatan ngajinya, kalau masih rela mengatakan bahwa itu disebut ngaji. 

Sewaktu kecil kami belajar membaca IQRO' di Taman Pendidikan Al Quran (TPA). Kami diajar oleh mas-mas dan mbak-mbak yang kami memanggilnya dengan sebutan ustad dan ustadzah. Memang dahulu itu, saya tahunya jabatan ustad hanya pada mereka yang mengajarkan iqro. Sekarang kok sudah naik tingkat lahan bimbingannya. Ustad sudah bisa mengajarkan ilmu agama secara lengkap. Sekalian ahli al Quran, ahli tafsir, ahli hadist, ahli bab ibadah, dan ahli akhlak juga. Sudah komplit, tidak perlu cari guru yang lain lagi. Nah, melanjutkan pendidikan di TPA tadi, kami tidak hanya diajarkan cara membaca huruf hijaiyah saja tapi diajarkan cara shalat dan bacaannya. Dan hal-hal lain terkait dengan ibadah.

Setelah lulus dari TPA, kira-kira lulus SD kami biasanya sudah tidak lagi ngaji di TPA. Kami ada tadarus kelompok malam minggu. Kami menyebutnya semaan. Setiap minggu kami semaan salah satu rumah anggota. Rumah yang dipakai secara bergiliran menggunakan sistem arisan. Bagi anggota yang mendapat kocokkan arisan, berarti minggu depan semaannya berada di rumah dia sekalian keluarganya menyiapkan jamuan untuk kami yang akan semaan di sana nanti. Selain semakin cinta baca al Quran, ada nilai lain yang terkandung pada kegiatan ini. Sosialisasi di kampung terus terjaga, tidak hanya di antara anggota tapi juga keluarga anggota. Di kelompok semaan ini kami memiliki pembimbing. Kami dibiasakan untuk mengoreksi bacaan al Quran teman yang sedang mendapat giliran membaca. Selain tadarus al Quran jika ada kelaurga yang nitip agar mendoakan leluhur yang sudah meninggal, kami sedikit tahlilan dan berdoa bersama-sama. Kami juga diajarkan ziarah kubur ke makam ulama, biasanya kami rombongan. Naik sepeda jika dekat atau menyewa bus jika jauh. Tidak hanya itu kami juga biasa rombongan ke pengajian mujadahan, biasanya setiap malam minggu wage ada pengajian seperti itu di kampung yang baru meresmikan masjid baru atau setelah renovasi masjid. Yang datang ke sana ramai sekali, di jalan masuk banyak orang-orang berjualan.  
Macam-macam, ada yang jualan makanan, parfum islami, alat-alat shalat, dan mainan anak-anak. Untuk keamanan pengajian biasanya ada banser yang besiaga-jaga. Pastilah kami rajin datang ke pengajian itu, karena di sana kami lebih banyak mainnya (jalan-jalannya) daripada menyimak pengajiannya. Kami suka melihat-lihat penjual parfum, lalu kami menyodorkan tangan biar dileleti pake parfum, kalau sudah dileletin kami usap-usapkan ke seluruh tubuh. Alhamdulillah dapat parfum gratis. hehe

Setelah kelompok kami yang anggotanya antara anak SMP dan SMA, ada kelompok tadarus malam jumat. Anggotanya pemuda-pemuda di kampung saya. Ada yang sudah bekerja dan sudah punya keluarga. Banyak di antaranya juga ikut Banser. Kelompok ini juga ada yang mengasuh. Kegiatannya kurang lebih sama, hanya lebih luas, lebih banyak dan lebih tinggi saja, karena mereka lebih dewasa.

Tidak mau kalah sepuh-sepuh kami juga membentuk kelompok ngaji. Tapi bukan tadarus al Quran. Saya sendiri tidak tahu, saya belum tua, belum bisa ikut bergabung bersama beliau-beliau. Baik laki-laki maupun perempuan punya kelompok ngaji sendiri. Setiap minggu bisa dua atau tiga kali pengajian. Misalnya hari senin, diampu oleh guru X dan hari kamis oleh guru Y. Yang paling asyik di kelompok paling senior ini adalah ada arisan kurban. Setiap idul Adla ada 7 orang yang berhak satu sapi untuk dijadikan hewan kurban. Itu sah-sah saja, karena sapi boleh untuk atas nama lebih dari satu orang, maksimal 7 orang.

Jadi, kalau ada yang bilang di kampung itu ngajinya hanya tiga kali dalam setahun itu salah. Bahkan harian dan mingguan selalu ada. Dari kecil sampai yang kakek-kakek juga ada. Walaupun beberapa masih ada yang suka main sesaji dan percaya mitos. Aliran apa pun perbuatan seperti itu tidak benar. Sebaiknya ikut menjadikannya sebagai PR agar generasi setelah ini sudah bersih dari itu semua. Dan sebaiknya bagi siapapun, sebelum sok-sok an, sok Muhammadiyah, sok NU, sok LDII, sok Persis, atau sok MTA dan sok -sok yang sejenisnya. Mending belajar dulu akhlak nabi Saw, agar tahu mana yang sebaiknya dan mana yang bukan sebaiknya, mana yang seharusnya dan mana yang tidak seharusnya, mana yang dianjurkan dan mana yang tidak dianjurkan, mana yang jadi perintahNya dan mana yang laranganNya. Mana yang wajib, mana yang sunnah, mana yang makruh dan mana yang haram. Agar satu agama tidak terpecah karena kefanatikan pada kelompoknya sendiri. Agar ittiba' kepada Rasul tidak hanya yang nampak di badan dan yang bukan tercium dari parfumnya saja. Tetapi akhlak, perbuatan dan ucapannya juga mencitrakan dirinya umat kanjeng nabi Saw yang dimuliakanNya. Yang bahkan Allah beserta para malaikat senantiasa kepada baginda Rasul Muhammad Saw. Kita?

salam (jh)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Up