JALAN kaki nya sudah cepat tapi garis finis skripsi tak kunjung sampai. Jalan cepat saja tidak cukup. Perlu kerja yang cepat. Kerja cepat saja kalau sebentar-sebentar berhenti juga sia-sia. Perlu disiplin agar kerja menjadi kontinu. Kerja dalam arti menyelesaikan skripsi. Nah, disiplin ini yang sampai sekarang belum bisa saya taklukan. Sulit sekali. Lagi-lagi terbentur malas. Malas seperti momok. Malas seperti sakit maag yang sering kumat pada saat-saat yang tidak diinginkan. Perlu ramuan-ramuan yang manjur. Perlu mantra-mantra yang mustajab. Butuh motivasi yang mengubah tujuan menjadi sebuah kebutuhan. Bukan saja tujuan yang menjadi kebutuhan. Kerja harus menjadi sebuah kebutuhan. Seperti manusia, kebutuhan untuk makan, kebutuhan untuk bernafas, kebutuhan menutup malu dan kebutuhan untuk shalat. Kebutuhan yang kontinu yang harus dipenuhi.
Jika kerja sudah menjadi kebutuhan. Sudah tidak ada lagi kata 'nanti'. Harus mulai mengerjakan skripsi. Harus kerja. Harus kerja. Seperti lapar yang harus makan. Lapar datang-langsung makan. Jika terlambat bisa semaput, mungkin mati. Seperti rasa dahaga yang sangat yang harus segera minum. Mulutnya sudah kekeringan. Untuk bicara pun sayang ludahnya. Maka tidak ada akal-akalan lagi untuk menunda. Segera!
Sungguh disiplin itu sangat susah. Musuhnya tidak tanggung-tanggung. Malas!
Saya sering membuat agenda. Memberikan peluang kepada diri saya. Membagi waktu agar pada waktu itu saya segera menulis. Meluangkan diri agar berada dalam kondisi untuk mengerjakan skripsi. Sedikit dipaksakan. Memaksakan pikiran. Memaksakan mood. Setelah bangun tidur, mandi, dandan seperti dandannya mau kuliah lalu duduk depan laptop. Buka folder skripsi. Baca dibaca membaca. Mengetik dua kalimat. Buntu. Ide mati. Tutup. Buka internet. See u next time :)
Mungkin karena dipaksakan. Ndak natural. Tidak enjoy.
Dengan senyuman lho saya meninggalkan pekerjaan menyelesaikan skripsi itu. Tanpa merasa punya tanggungan. Lalu pada lain waktu sadar. Ini tidak bisa begini terus. Lalu saya mau apa. Saya membuat akal lain. Membuat agenda lain. Cara lain. Tapi ujung-ujungnya sama. Lagi-lagi terbentur rasa malas.
Kenapa?
Tema mengenai skripsi dalam ruang pikiran saya masih kalah interest dengan pikiran-pikiran lain. Membaca buku jauh lebih ringan. Lebih menyenangkan. Tidak butuh mempekerjakan otak untuk berpikir. Hanya perlu duduk pegang buku. Tau-tau sudah berbuku-buku terlahap habis. Tapi skripsi tak kunjung nambah.
Menulis blog begini juga mengalahkan interest mengerjakan skripsi. Selesai satu artikel muncul ide-ide lain yang membuat saya tak sabar menuliskannya. Saya usahakan mandeg. Dan benar saya mandeg. Benar-benar mandeg sampai waktu yang tidak ditentunkan. Sampai lupa cara mulai nulis lagi. Mulai dari mana ide-ide yang dulu silih berseliweran, hilang. Ngambek karena saya punya niatan mengerjakan skripsi. Agak disayangkan juga. Tapi tetap skripsi tak kunjung nambah. Pilih mana?
Ada satu lagi. Kebutuhan sosial ingin berkumpul dengan teman. Kalau sudah berkumpul dengan teman semuanya jadi lupa, saking enjoy nya. Hidup ini begitu menyenangkan dengan ngobrol. Apalagi ngobrol sambil nongkrong di tempat wedangan. Siapa yang tidak suka. Semua orang suka hanya beda-beda kelasnya. Ada yang wedangannya di nite club, ada yang di cafe, ada yang cukup di angkringan (hik). Saya? Cukup hik semata bagi orang seperti saya. Tempat wedangan paling nyaman bagi kelas seperti saya. Tidak perlu agak digengsi-gengsikan, pesen menu kayak ibu-ibu saingan perhiasan waktu arisan. Bisa ngomong apa saja, ngomongin siapa saja. Boleh duduk gaya apa saja. Tiduran berbantal tubuh teman atau duduk bersila. Tidak perlu pake wewangian dan berdandan. Tidak usah pakai baju mahal-mahal seperti rok mini, hot pant dan u can see. Gaya kasual atau sarungan tetap enjoy. Cukup apa adanya, nduwenya apa. Lagi-lagi saking enaknya. Skripsi tertunda.
Kini saya sadar. Semoga sadar yang final. Tidak ada sadar-sadar yang lagi. Karena saya tidak ingin pingsan lagi. Bukan pingsan dalam arti tidur secara tidak sadar. Tau lah. Pingsan dalam arti terlena karena waktu dan dibumbui dengan rasa malas. Maka saya putuskan untuk tobat. Tobatan nasuha.
Lalu sekarang saya harus memikirkan apa-apa yang harus saya lakukan. Harus ada perasaan butuh yang urgen. Harus ada motivasi yang kontinu. Harus ada sosok yang saya kejar. Harus bergaul dengan nikmat waktu. Harus ada kerja. Harus ada DISIPLIN. Salam (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar