MAHASISWA dan DEMO dan ANARKI

Penggunaan kata sambung 'dan' pada judul adalah bahwa saya berharap antara mahasiswa, demo dan anarki memiliki arti yang berdiri sendiri-sendiri. Bukan sebuah kesatuan makna. Bukan kata yang saling lengkap-melengkapi. Jangan sampai.

Mahasiswa melakukan aksi demo itu sah-sah saja. Yang tidak sah adalah mahasiswa yang demo dengan anarki. Itu namanya kebodohan yang dipamer-pamerkan. Saya setuju dengan gagasan dosen statistik saya yang terkenal killer, bahwa semakin tinggi tingkat intelegensi seseorang, maka tingkat kematangan emosi dan spiritual juga semakin tinggi. Kalau pemilik identitas kaum cendekia sendiri yang melakukan anarki. Apakah masih pantas menyandang citra orang berpendidikan?

Dulu, sewaktu kecil, saya melihat mahasiwa dengan citra yang sangat agung. Mahasiswa adalah pemilik identitas orang-orang pintar, cerdas, intelektual, keren dan anak orang berduit. Mereka adalah kaum berpendidikan. Jarang orang kampung seperti saya bisa menjadi mahasiswa. Kebanyakan dari kami setelah lulus SMP langsung kerja, lulus SMP langsung merantau ke Jakarta. Kalaupun bisa sampai lulus SMA itu adalah sebuah kebanggaan. Kami bukan dari lingkungan yang bercukupan untuk bisa mengganyang pendidikan di perguruan tinggi. Jauh dari pikiran kami orang-orang kampung. Sebuah pencapaian yang luar biasa sehingga kami bisa sekolah di perguruan tinggi. Menjadi mahasiswa.

Dan benar dari jutaan masyarakat di Indonesia, lebih banyak yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi daripada yang melanjutkan. Karena memang sulit lolos seleksi perguruan tinggi negeri yang biaya pendidikannya lebih murah. Kalau masuk di PTS biayanya lebih mahal, bisa sampai dua-tiga kali lipat. Tidak heran jika setelah masuk pergurunan tinggi mereka ingin di eksklusif eksekutif-kan. Mereka berlomba agar bisa masuk ke dalam 'Badan Eksekutif Mahasiswa'. Menjadi anggota BEM terdengar lebih keren. Ada nilai plus nya.

Mereka yang aktif di BEM sering disebut aktivis kampus. Mereka ke kampus tidak hanya mengejar cita-cita IPK di atas 3,5. Tapi juga aktif mengurus kegiatan A, kegiatan B, kegiatan C. Juga merencanakan demo, dan mungkin hanya sok-sok aktif saja. Ujung-ujungnya demo. Bikin macet jalan. Bakar ban. Rusak mobil pejabat. Rusak infrastruktur negara. Yang paling sering jebolin pagar kantor pemerintah dan bentrok dengan aparat. Sungguh, bodoh yang dipamer-pamerkan.

Memang tidak semua mahasiswa tukang demo. Banyak mahasiswa yang anti demo. Jauh lebih banyak mahasiswa yang tidak pernah ikut demo.

Sebenarnya, tidak salah jika mahasiswa ingin melakukan aksi demo. Kelompok mahasiswa yang demo dengan kalem juga ada. Banyak. Tapi demo seperti itu tidak menjual. Hukum ekonomi berlaku juga di  dunia demo-perdemoan. Tidak laku kalau mau ditayangkan di televisi. Media lebih senang meliput demo yang ada bentroknya. Yang mempertontonkan kebodohan intelektual pendemonya.

Dan harapannya masih sama agar di antara Mahasiswa, Demo, dan Anarki, mereka tetap berdiri sendiri-sendiri. Jangan sampai ungkapan nila setitik rusak susu sebelanga menjadi kiasan yang pas untuk mahasiswa kita. Mahasiswa harus menjadi bagian dari generasi muda yang mengiringi kemajuan bangsa. Menuju peradaban yang lebih madani lagi. Ikut mengantarkan Indonesia kepada kejayaan. Kejayaan dan kemerdekaan yang bisa dirasakan oleh setiap orang di atas bumi Indonesia. Kebahagiaan yang dirasakan seberapapun entah tingginya harga BBM. Menjadi kebahagiaan peradaban di sekitar Indonesia. Menjadi pribadi yang rahmatan lil alamin, membersamai negara, keluarga dan agama. Salam (jh)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Up