Liverpool Taklukan Crystal Palace

sumber: indonesia.liverpoolfc.com
(5/10)

MATCH DAY ke-7 Barclays Liga Inggris. Malam ini Liverpool menang. Main di kandang, di stadion yang terkenal angker, stadion kebanggaan “Anfield Stadium”. Pertandingan malam ini Liverpool melawan Crystal Palace. Hasil akhir pertandingan: 3-1. Tiga gol liverpool semua dicetak pada babak pertama, berturut-turut: Suarez, Sturridge, Gerrad. Sedangkan Crystal Palace baru bikin gol pada babak kedua melalui tendangan bebas. Saya pun senang. Saya ini liverpuldian. Liverpuldian adalah sebutan untuk pendukung liverpool. Crystal Palace adalah salah satu tim promosi musim ini. Dua yang lain adalah Hull City dan Cardiff City.

Saya senang karena minimal malam ini liverpool kembali berada di puncak klasemen. Berada di atas Arsenal dengan hanya selisih 1 poin. Arsenal sendiri baru akan bermain besok. Meskipun target utama liverpool musim ini bukan untuk menjadi juara. Tapi berusaha tetap berada di papan atas adalah cara terbaik berada di zona champion pada akhir musim.

Pada awal babak pertama saya sebenarnya khawatir. Bukan khawatir jika liverpool akan kalah. Sebaliknya saya khawatir jika liverpool menang dengan jumlah gol yang membabi buta. Karena 3 gol berturut-turut dicetak pada babak pertama dengan waktu yang tidak terlalu lama. Saya kurang suka dengan klub yang sering menang telak. Misal: 5 gol tanpa balas. Saya kurang suka dengan pertandingan yang terlalu tidak imbang. Dan untunglah liverpool tidak seperti yang saya khawatirkan. Minimal untuk malam ini.

Saya menyukai liverpool karena banyak faktor. Semakin mendalami klub kota pelabuhan ini semakin banyak lagi faktor yang membuat saya makin suka. Inilah klub yang punya sejarah panjang dalam sepak bola Inggris. Bersaing sepanjang masa dengan Manchester United dalam perolehan gelar. Persaingan Liverpool dan Manchester United seperti persaingan Barcelona dan Real Madrid di Spanyol. Setiap kedua klub bertanding atmosfirnya sangat berbeda. Sangat menarik hingga menarik semua pecinta sepak bola seantero dunia. Memenuhi headline media-media di dunia.

Saya mulai menyukai liverpool bukan disaat klub ini sedang berjaya. Sebaliknya, saat klub ini sedang terpuruk. Puasa gelar yang sangat lama yang belum kunjung berbuka. Saya justru mendukung. Saya suka semangat bangkit dari klub. Saya suka dengan dukungan liverpuldian. Iya, inilah klub dengan pendukung terbaik dan paling setia di dunia. Klub ini tidak dibangun oleh pemain-pemain hebat yang sudah matang. Titik kuat dari klub ini justru karena rasa kekeluargaan yang diciptakan oleh semua elemen yang berada dalam klub dan juga supporter. Saya terkesima dengan semua ini.

Saya optimis dengan liverpool ke depan. Pelatih yang tepat, Brendan Rogers. Saya menyukai pelatih ini. Menyukai eksperimen. Menyukai pemain muda dan pemain lokal. Membeli pemain secara efisien dan efektif. Saya yakin liverpool di bawah asuhan Brendan Rogers akan memenangkan banyak gelar. Saya yakin bersama Brendan Rogers liverpool akan kembali ke masa jaya. Semoga J

Selamat malam para liverpuldian. Selamat malam pecinta sepak bola. Selamat malam pecinta baca. Salam. You'll Never Walk Alone. (jh)

Mahasiswa kok Ngemis

Foto Iklan Ngemis Mhs UGM

AKU ini pengemis. Sesungguh-sungguhnya pengemis. Pengemis yang hakiki. The real Pengemis. Pengemis yang tidak tahu diri. aku tidak kerja. aku tidak pernah menengadahkan tanganku di perempatan-perempatan jalan. aku berpakaian rapi, bersepatu KW, jeans merk dagang Eropa, kemeja berlabel ratusan ribu, dan kaos dari merk distro ternama. Bangun tidur tidak pernah kepagian. Tidur malam tidak pernah kemalaman. Tempat makanku berganti-ganti setiap hari. Tidak pernah masak sendiri. Untuk kelas seorang berpendidikan tinggi, bagiku tidak ada waktu untuk masak. aku ini mahasiswa!

aku ini pengemis kelas menengah. Sangat jauh dari kekumalan pakaian. Tidak pernah aku menginjakkan kakiku di aspal. Tentu aku menginjak aspal tapi dengan sepatu mahalku. Jangankan berjalan kluntang-klantung, aku ini naik motor. Setiap hari membakar berliter-liter bensin, mengepulkan asap karbon memanaskan bumi. Malu lah aku kalau jalan kaki.

aku ini mahasiswa. aku indekos, jauh dari orang tua. Akhir pekan aku pulang ke rumah. Awal pekan aku pergi lagi. Tidak dengan tangan kosong pastinya. Ada yang lebih menonjol di bagian bokongku. Tepatnya di bokong sebelah kanan. Ada penghuni baru di dompet lipat tiga ku. Ada yang warna merah, ada yang warna biru, ada yang warna hijau juga. Isi dompetku lebih berwarna kalau awal pekan. Dari mana semua uangku? ya dari hasil aku mengemis. Itulah dalih hak aku sebagai anak. Dan kewajiban orang tua untuk menafkahi anak. Begitulah populer dari tradisi budaya di negeri ku yang teramat ku cinta.

Terkadang aku pun tidak perlu pulang. Orang tua sangat pengertian mengenai hal ini. "Kalau capek, nggak usah pulang dulu minggu depan saja, uang saku nanti ditransferkan", kata-kata orang tua ku yang ku hafal lewat telepon. Begitu bijaknya orang tua ku. Sungguh aku sangat mencintai keduanya.

aku ini memang kurang ajar. Uang saku setiap minggu sebenarnya terlalu banyak bagi pengemis seperti ku. Uang yang dikeluarkan orang tua untuk kebutuhanku saja pasti lebih banyak ketimbang pemasukan karyawan-karyawan pabrik yang juga menghidupi keluarga dan anak-anak mereka yang sebajingan aku ini. Kurang ajar nya aku ini masih berani meminta-minta lagi. Wes diwenehi ati jik tego nggrogoh rempelo. aku masih minta uang untuk main karena uangku yang merah belum pecah. Sayang aja kalau aku pakai. Mending minta. Tanganku memang gatal kalau tidak minta. Awal bulan, tidak pernah lupa aku mengingatkan beli pulsa internet. Sekalian minta bonus gajian orang tua.

Mungkin aku terlalu berlebihan. Pengeluaran mahasiswa memang banyak. Bukan sekedar alasan. Berapa rupiah untuk foto copy. Berapa rupiah untuk beli buku-buku. Berapa rupiah untuk beli bensin. Berapa rupiah untuk beli makan sehari-hari. Berapa rupiah untuk beli pulsa. Berapa rupiah untuk jajan, jalan-jalan, ngemil, laundry, futsal, nobar, nonton bioskop, dan pacaran. Ya, pacaran juga perlu anggaran pengeluaran. Bisa jadi justru paling banyak. Penuh kontroversi memang masalah pacaran ini di kalangan anak muda. Ada kalangan penganut setia pacaran. Ada yang anti pacaran. Bak fikih, tergantung mahzab mana yang menjadi rujukan. Ada kalangan yang menganut bahwa pacaran hukumnya wajib bagi setiap anak muda. Sampai-sampai stress jika tidak kunjung punya pacar pengganti atau belum juga punya pacar, apalagi kalau usia sudah 20an. Bisa-bisa gila.

Paling banyak adalah yang hanya menghukuni sunnah. Ada yang bilang mubah dan ada yang bilang makruh. Tapi bagi anak muda dari kalangan fundamentalis yang paling ekstrim mengenai pacaran. Bagi mereka pacaran haram hukumnya. Pacaran hanya boleh dilakukan setelah menikah. Aneh memang cara berpikirnya, pertama, pacaran kok 'melakukan'. Kedua, pacaran kok setelah menikah. Makanya, bagi fundamentalis ini yang tidak pernah pacaran sebelumnya, lalu sekali menikah langsung keluar anak banyak. Setahun bisa sampai dua. Mereka kurang bisa membuat ritme berhubungan dengan lawan jenis. Makanya 'kaget', sekali merasa keenakan pengen terus. Terkadang tidak perasaan sama istrinya yang terus-terusan mengandung, menyusui dan mendidik. Entahlah pikiran manusia memang unik.

Kok omonganku ngelantur. Baru bahas diriku sendiri malah bahas yang lain. aku ini memang begini orangnya. Tidak bisa strukturis. Tidak bisa runtut dan sistematis. Padahal aku ini akademisi, orang akademis, anak kampus. Tapi kok aku tidak.

Eh, masalah pacaran tadi, kayak aku ini sudah jago saja. Kayak aku ini sudah katam saja. Kaya aku ini sudah profesional saja masalah pacaran-pacaran. Duh! Teman-temanku saja sudah susul-menyusul kepelaminan. Undangan silih berganti kadang tabrakan antara teman satu dengan yang lain. Dan lagi-lagi sekedar untuk nyumbang pun aku minta. Lagi-lagi minta. Minta lagi minta lagi. Ncen aku ki bocah koyok asu, ndlogog! Bukan-bukan, peradaban asu lebih tinggi dari ku. Anjing hanya minta saat lapar. Anjing hanya njegog saat merasa terancam dengan keadaan asing di sekitarnya. Aku?!!

Sebenarnya aku ini iri dengan teman-temanku. Mereka ada yang rela tidak melanjutkan kuliah. Mereka memilih merantau atau kerja di daerah karena sudah tidak ingin merepotkan orang tua. Mereka ingin membantu orang tua. Membalas kasih sayang orang tua sedari kecil. Membantu membiayai saudara-saudaranya sekolah. Mereka hebat sekali. Mereka sudah tidak lagi meminta-minta. Mereka sudah tidak lagi merengek kayak balita siswa paud. Mereka sudah berani kawin! (bersambung...)*

Bakso Khilafatullah



Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya. Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobaknya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

"Selalu begitu, Pak?", aku bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

"Maksud Bapak?" ia ganti bertanya.

"Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?"

Prokrastinasi Nulis Jangan Lagi!

Sudah lama tidak posting. Keenakan main twitter jadi susah on buat nulis. Tadi malam sempat liat-liat blog ini. Udah kayak kamar yang lama tidak dibersihkan. Debu dan sarang laba-laba di mana-mana. Banyak kecoa lagi main futsal, berlarian kesana kemari. Untuk itu, semalam aku mengganti tema blog ini. Biar fresh, nyari yang paling enteng dan simpel. Lebih penting biar muncul juga keinginan menulis lagi.

Dirgahayu Republik Indonesia

Merdeka! Dirgahayu Indonesia. Selamat ‪#‎hutRI‬ ke-68 kepada seluruh rakyat Indonesia. 

Terimakasih Tuhan Yang Maha Esa.
Shalawat dan salam kepada Nabi junjungan saw.

Terimakasih kepada para pahlawan. Terimakasih para pemimpin bangsa dan negara. Terimakasih para guru, ulama dan orang tua. Terimakasih saudara-saudara sebangsa dan setanah air semua. Terimakasih semua bangsa di dunia yang telah mendukung, mendoakan dan mau bersahabat dengan Indonesia.

Sisi Lain Anak PUNK

KETIKA saya baru sampai di gramedia, solo, kemarin tanggal 29 Januari 2013, saya melihat dua anak berpakaian urakan keluar menuju parkir basement. Memperhatikan pakaian mereka: jaket kumal, celana jeans terpotong tidak rapi, sandal jepit dan  rambut urakan dicat kuning. Perhatian saya kemudian menuju pada plastik kresek yang dibawa salah satu anak. Saya perkirakan di dalamnya adalah buku, mereka habis membeli buku. Saya berpikir, buku seperti apa yang dibeli anak-anak itu.

Jumlah Rakaat Tarawih yang Benar

Awalnya saya tidak ingin merampungkan tulisan ini. Karena saya tidak mendapatkan riwayat yang sampai dengan sahih mengenai jumlah rakaat tarawih yang benar. Apakah yang benar 8 rakaat atau yang benar 20 rakaat. Tapi pendapat jumhur ulama lebih menyimpulkan tarawih 20 rakaat. Hal ini yang membuat saya kemudian ragu ingin melanjutkan posting atau tidak. Karena ditakutkan akan tidak seimbang. Padahal tujuan tulisan saya adalah agar orang habis baca ini jadi yakin berapa pun jumlah rakaatnya itu sah shalatnya. 

Lalu saya menyimpulkan: Orang-orang yang shalat 8 rakaat yang tidak mau mengikuti imam shalat 20 rakaat dan sebaliknya orang-orang yang shalat 20 rakaat yang tidak mau mengikuti imam shalat 8 rakaat, murni karena kebiasaan. Misal, Orang yang terbiasa dengan shalat 8 rakaat, ketika imam tarawih shalat 20 rakaat, lalu di hatinya muncul perasaan tidak sreg. Lalu orang tersebut mengakhiri shalatnya setelah selesai 8 rakaat. Bahkan ada yang tidak mau lagi tarawih di masjid yang tarawihnya 20 rakaat.

MENGADAPTASI KEBIASAAN SUKSES BANGSA JEPANG


Masyarakat Jepang identik dengan kerja keras, kesuksesan, dan mobilitas tinggi. Alangkah lebih baik bila kita bisa mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan orang Jepang berikut ini.

1. Kerja keras

Sesusah-susahnya hidup, orang rajin tidak akan pernah kelaparan. Jepang adalah contoh bangsa yang rajin.

PERBEDAAN , SIKAP KITA DAN KENISBIAN




Catatan Dahlan Iskan yang Kembali Berlebaran di Makkah 2011
Oleh Dahlan Iskan

INILAH tempat yang orangnya tidak saling menyalahkan. Inilah tempat yang orangnya tidak mempersoalkan Anda penganut Islam aliran yang mana. Inilah tempat yang di pintu masuknya tidak ada yang bertanya NU-kah Anda atau Muhammadiyah, Wahabikah Anda atau Ahmadiyah, Ahlussunnahkah Anda atau Syi’ah, Hisbuttahrirkah Anda atau Ikhwanulmuslimin, Jamaah Tablighkah Anda atau Islam Jamaah.

Inilah tempat yang pintunya hampir 100 buah, melebihi jumlah aliran yang ada. Inilah tempat yang halamannya seluas dada umatnya. Inilah rumah Tuhan untuk orang Islam yang mana saja dari mana saja.

Ada yang sembahyang dengan celana digulung sampai mata kaki tanpa mencela mereka yang celananya dibiarkan panjang sampai menyentuh lantai. Ada yang pakai jubah serba tertutup tanpa menghiraukan yang hanya pakai kaus lengan pendek. Ada yang sembahyang dengan pakai sarung tanpa mencela yang pakai kaus sepak bola Barcelona dengan nama Messinya atau kaus Arsenal dengan nama Fabregasnya.

Inilah masjid yang orangnya sembahyang dengan bermacam-macam gerakan tanpa ada yang merasa salah atau disalahkan. Ada yang ketika takbiratul ikram mengangkat tangan sampai menyentuh telinganya tanpa menghiraukan jamaah di sebelahnya yang tidak melakukan gerakan tangan apa-apa. Ada yang tangannya konsisten bersedekap di dada tanpa mempersoalkan orang yang tangannya begitu sering masuk ke saku jubahnya seperti mencari-cari benda yang hilang. Ada yang sambil sembahyang matanya terpejam tanpa menegur sebelahnya yang sibuk mematikan handphone-nya yang tiba-tiba berdering.

Inilah tempat yang jamaahnya tidak mempersoalkan mengapa ada yang dapat tempat sembahyang di dekat Ka'bah dan ada yang hanya dapat tempat di pinggir jalan atau di tangga atau bahkan harus sembahyang di atas pagar yang lebarnya hanya setapak. Inilah tempat yang orangnya hanya konsentrasi memikirkan bagaimana agar dirinya sendiri bisa diterima menghadap Tuhannya tanpa peduli apakah Tuhan juga menerima penghadapan yang lain.

Inilah tempat yang semua orangnya ingin mendapat tempat yang terdekat dengan Tuhan tanpa perlu melarang atau menyingkirkan atau membunuh orang lain yang juga menginginkan posisi yang terdekat dengan Tuhan. Inilah tempat sembahyang muslim yang bersujud di aspal sama nikmatnya dengan bersujud di permadani tebal.

Inilah tempat yang orangnya tidak mempermasalahkan apakah tempat sembahyang bagi wanita harus disembunyikan di balik dinding atau di balik tabir. Ada yang sembahyang berkelompok sesama wanita dengan pembatas kain rendah tanpa menyalahkan wanita yang sembahyangnya tercampur dengan pria. Ada tempat sembahyang khusus laki-laki tanpa menganggap tidak sah beberapa laki-laki yang sembahyang di tengah-tengah jamaah wanita, bahkan dengan posisi berdempetan dengan wanita di sebelahnya itu.

Inilah tempat yang membuat saya termenung lama mengapa jutaan manusia yang datang ke tempat ini tidak mempersoalkan aliran orang lain sebagaimana kalau mereka berada di tempat asal mereka. Mungkinkah karena begitu egoisnya mereka yang datang? Mungkinkah begitu individualistik nya mereka yang ke tanah haram? Mungkinkah muncul kesadaran bahwa pada akhirnya Tuhanlah yang memutuskan siapa yang berhak dekat dengan-Nya dari mana pun alirannya?

Inilah tempat yang membuat saya tertegun sejenak: mungkinkah karena di sini tidak ada yang merasa dominan sebagai mayoritas? Mungkinkah perasaan kehilangan dominasi mayoritas itu yang menyebabkan segala yang minoritas harus disingkirkan? Mungkinkah karena di sini tidak ada yang merasa menjadi tuan rumah sehingga semua orang adalah tamu?

Inilah tempat yang membuat saya berpikir: begitu indahnya kah keberagaman yang seimbang itu?

Inilah tempat yang membuat saya ingat begitu kerasnya persaingan dunia usaha: mungkinkah kedamaian di tempat ini karena masing-masing aliran tidak sedang me-marketing-kan aliran masing-masing? Mungkinkah marketing aliran itu yang membuat terjadinya perebutan pasar sehingga yang minoritas merasa harus meningkatkan market share-nya dan sang market leader mati-matian melawan setiap penggerogotan pasarnya?

Wallahualam. Tuhan bukan pasar dan tidak akan memedulikan posisi pasar.

Sebagai orang yang sejak kecil berada di lingkungan ahlussunah dan dilatih praktik ibadah ahlussunnah dengan gerakan sembahyang yang begitu tertib (sampai posisi jempol kaki saat duduk takhiyat akhir pun dibetulkan dengan keras) di tempat ini ternyata saya juga bukan lagi mayoritas.

Inilah tempat yang membuat saya paham bahwa mayoritas atau minoritas itu ternyata nisbi. Sepenuhnya bergantung pada tempat dan waktu. (c2/lk)

Melafalkan Niat

Di sekitar saya ada kalangan yang berbeda pendapat antara melafalkan niat dengan niat yang cukup dibatin (dalam hati saja). Perbedaan ini murni karena kurangnya pemahaman. Beberapa di bawah ini adalah hasil belajar saya. Wallaualam semoga Allah melindungi saya tetap di jalan yang lurus, jalan yang DIA ridloi dan diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang sesat. amin

#1 Belum pernah ditemukan riwayat mengenai kanjeng Nabi Saw melafalkan niat pada saat melaksanakan ibadah, KECUALI saat Kanjeng nabi melaksanakan ibadah haji.

MENDOBRAK BENTENG KOKOH BERNAMA SKRIPSI

JALAN kaki nya sudah cepat tapi garis finis skripsi tak kunjung sampai. Jalan cepat saja tidak cukup. Perlu kerja yang cepat. Kerja cepat saja kalau sebentar-sebentar berhenti juga sia-sia. Perlu disiplin agar kerja menjadi kontinu. Kerja dalam arti menyelesaikan skripsi. Nah, disiplin ini yang sampai sekarang belum bisa saya taklukan. Sulit sekali. Lagi-lagi terbentur malas. Malas seperti momok. Malas seperti sakit maag yang sering kumat pada saat-saat yang tidak diinginkan. Perlu ramuan-ramuan yang manjur. Perlu mantra-mantra yang mustajab. Butuh motivasi yang mengubah tujuan menjadi sebuah kebutuhan. Bukan saja tujuan yang menjadi kebutuhan. Kerja harus menjadi sebuah kebutuhan. Seperti manusia, kebutuhan untuk makan, kebutuhan untuk bernafas, kebutuhan menutup malu dan kebutuhan untuk shalat. Kebutuhan yang kontinu yang harus dipenuhi.

Jika kerja sudah menjadi kebutuhan. Sudah tidak ada lagi kata 'nanti'. Harus mulai mengerjakan skripsi. Harus kerja. Harus kerja. Seperti lapar yang harus makan. Lapar datang-langsung makan. Jika terlambat bisa semaput, mungkin mati. Seperti rasa dahaga yang sangat yang harus segera minum. Mulutnya sudah kekeringan. Untuk bicara pun sayang ludahnya. Maka tidak ada akal-akalan lagi untuk menunda. Segera!

Sungguh disiplin itu sangat susah. Musuhnya tidak tanggung-tanggung. Malas! 

Saya sering membuat agenda. Memberikan peluang kepada diri saya. Membagi waktu agar pada waktu itu saya segera menulis. Meluangkan diri agar berada dalam kondisi untuk mengerjakan skripsi. Sedikit dipaksakan. Memaksakan pikiran. Memaksakan mood. Setelah bangun tidur, mandi, dandan seperti dandannya mau kuliah lalu duduk depan laptop. Buka folder skripsi. Baca dibaca membaca. Mengetik dua kalimat. Buntu. Ide mati. Tutup. Buka internet. See u next time :)

Mungkin karena dipaksakan. Ndak natural. Tidak enjoy.

Dengan senyuman lho saya meninggalkan pekerjaan menyelesaikan skripsi itu. Tanpa merasa punya tanggungan. Lalu pada lain waktu sadar. Ini tidak bisa begini terus. Lalu saya mau apa. Saya membuat akal lain. Membuat agenda lain. Cara lain. Tapi ujung-ujungnya sama. Lagi-lagi terbentur rasa malas.

Kenapa?

Tema mengenai skripsi dalam ruang pikiran saya masih kalah interest dengan pikiran-pikiran lain. Membaca buku jauh lebih ringan. Lebih menyenangkan. Tidak butuh mempekerjakan otak untuk berpikir. Hanya perlu duduk pegang buku. Tau-tau sudah berbuku-buku terlahap habis. Tapi skripsi tak kunjung nambah.

Menulis blog begini juga mengalahkan interest mengerjakan skripsi. Selesai satu artikel muncul ide-ide lain yang membuat saya tak sabar menuliskannya. Saya usahakan mandeg. Dan benar saya mandeg. Benar-benar mandeg sampai waktu yang tidak ditentunkan. Sampai lupa cara mulai nulis lagi. Mulai dari mana ide-ide yang dulu silih berseliweran, hilang. Ngambek karena saya punya niatan mengerjakan skripsi. Agak disayangkan juga. Tapi tetap skripsi tak kunjung nambah. Pilih mana?

Ada satu lagi. Kebutuhan sosial ingin berkumpul dengan teman. Kalau sudah berkumpul dengan teman semuanya jadi lupa, saking enjoy nya. Hidup ini begitu menyenangkan dengan ngobrol. Apalagi ngobrol sambil nongkrong di tempat wedangan. Siapa yang tidak suka. Semua orang suka hanya beda-beda kelasnya. Ada yang wedangannya di nite club, ada yang di cafe, ada yang cukup di angkringan (hik). Saya? Cukup hik semata bagi orang seperti saya. Tempat wedangan paling nyaman bagi kelas seperti saya. Tidak perlu agak digengsi-gengsikan, pesen menu kayak ibu-ibu saingan perhiasan waktu arisan. Bisa ngomong apa saja, ngomongin siapa saja. Boleh duduk gaya apa saja. Tiduran berbantal tubuh teman atau duduk bersila. Tidak perlu pake wewangian dan berdandan. Tidak usah pakai baju mahal-mahal seperti rok mini, hot pant dan u can see. Gaya kasual atau sarungan tetap enjoy. Cukup apa adanya, nduwenya apa. Lagi-lagi saking enaknya. Skripsi tertunda.

Kini saya sadar. Semoga sadar yang final. Tidak ada sadar-sadar yang lagi. Karena saya tidak ingin pingsan lagi. Bukan pingsan dalam arti tidur secara tidak sadar. Tau lah. Pingsan dalam arti terlena karena waktu dan dibumbui dengan rasa malas. Maka saya putuskan untuk tobat. Tobatan nasuha.

Lalu sekarang saya harus memikirkan apa-apa yang harus saya lakukan. Harus ada perasaan butuh yang urgen. Harus ada motivasi yang kontinu. Harus ada sosok yang saya kejar. Harus bergaul dengan nikmat waktu. Harus ada kerja. Harus ada DISIPLIN. Salam (*)

YASINAN

SEKARANG ini banyak orang mulai tidak mau lagi mendirikan tradisi yasinan. Ada yang mengatakan agar tidak mengultuskan satu surah dari surah-surah yang lain di dalam alquran. Apakah maksud dengan mengultuskan itu saya sendiri tidak tahu. Yang saya tahu yasinan berbeda dengan membaca surah yasin. Kalau membaca surah yasin tok itu bukan yasinan. Kalau yasinan ada membaca surah yasinnya. Ibarat warung bakso yang juga jualan mie ayam. Di dalamnya tidak hanya membaca surah yasin tok, ada bacaan surah-surah yang lain. Ada tasbih dan tahmid yang dilantunkan. Ada doa-doa yang dipanjatkan. Ada moment silaturahmi yang dilestarikan. Ada ganjaran yang diterima bagi orang lain dan untuk diri sendiri. Ada nilai agar membiasakan diri saling memberi. Itulah yasinan sebuah tradisi yang sudah mengakar kemudian digugat dengan dalih pengultusan surah. Dengan  menggunakan senjata 'dalil' yang tidak pernah ditemukan sahihnya.

Kenapa Ingin Jadi Presiden?

Kalau bukan ingin jadi presiden lalu cita-cita apalagi yang lebih tinggi dari itu. Ingin jadi nabi? Mohon maaf kuota jabatan menjadi nabi sudah ditutup. Sudah tidak akan ada lagi nabi setelah Rasul Allah terakhir-Kanjeng Nabi Saw. Jadi saya putuskan ingin jadi presiden. Apakah salah? Apakah pantas? Apakah mampu? Emang enak jadi presiden? Saat nanti jadi presiden terus banyak yang protes, apa ndak stres? ya ya ya. Mana saya tahu. Orang saya belum nyoba. Makanya saya mau merasakannya dulu baru nanti kalau  ada yang tanya seperti itu saya bisa jawab. 

Pada mau milih kan ya?

MAHASISWA dan DEMO dan ANARKI

Penggunaan kata sambung 'dan' pada judul adalah bahwa saya berharap antara mahasiswa, demo dan anarki memiliki arti yang berdiri sendiri-sendiri. Bukan sebuah kesatuan makna. Bukan kata yang saling lengkap-melengkapi. Jangan sampai.

Mahasiswa melakukan aksi demo itu sah-sah saja. Yang tidak sah adalah mahasiswa yang demo dengan anarki. Itu namanya kebodohan yang dipamer-pamerkan. Saya setuju dengan gagasan dosen statistik saya yang terkenal killer, bahwa semakin tinggi tingkat intelegensi seseorang, maka tingkat kematangan emosi dan spiritual juga semakin tinggi. Kalau pemilik identitas kaum cendekia sendiri yang melakukan anarki. Apakah masih pantas menyandang citra orang berpendidikan?

Kata Pengantar Blog 'Anyar'


Karena blog wordpress saya sering bermasalah, maka dengan ini saya mulai dengan domain baru via blogger tertanggal 21 Juni 2013 pukul 22.45 Wib.

Bismillah. Semoga Tuhan meridhai. aamiin

Alhamdulillah, banyak jalan menuju Roma. Inilah jalan baru yang hendak saya tempuh. Menulis dengan sesuka hati. Menulis dengan sesuka ucapan. Memerdekakan pikiran. Menulis dengan cara orang mudah membaca. Tidak panjang-panjang, tidak sampai satu paragraf berbaris-berbaris. Tidak sampai satu kalimat bermaraton ria. Jangan sampai yang ingin baca jadi ngos-ngosan. Yang utama adalah isinya tersampaikan.

Sekian dulu. Mohon doanya.

Salam (JH)

24 PEDOMAN MENGHANGATKAN HUBUNGAN PASUTRI:


  1. Jangan sampai rutinitas pekerjaan membuat pasangan melupakan pentingnya meluangkan waktu bermesraan. Berkumpul itu penting. Buat jadwal harian, dan mingguan yang harus disepakati. Disiplin menjalankannya. Gunakan kesempatan itu untuk bercanda dan bercengkerama sehingga emosi positif masuk dalam memori setiap anggota keluarga.
  2. Berikan reward. Berupa pujian atau hadiah atau bentuk apresiasi lainnya kepada pasangan dalam menjalankan kewajiban. Beri pujian kepada suami atas jirih payahnya dalam bekerja untuk keluarga. Beri pujian kepada istri atas pengelolaan rumah tangga yang baik, mengurus dan membimbing anak. Beri acungan jempol, katakan masakan istri enak, beri kecupan hangat, peluk pasangan, atau katakan i love u. Itu sudah membuat pasangan merasa melayang tersayang-sayang.
  3. Jadi pendengar yang baik. Antusiaslah ketika pasangan sedang bercerita. Entah itu penting atau tidak. Apa efeknya? Pasangan akan saling terbuka, permasalahan dapat teratasi sedini mungkin.
  4. Berusahalah untuk membuat pasangan bahagia. Tujuan menikah adalah untuk menunjukkan betapa besar anda mencintai pasangan, bukan untuk melihat dan membuat pasangan sedih.
  5. Ungkapkan rasa sayang anda dengan berbagai cara sesuai dengan karakter dan kesukaan pasangan. Kata mesra melalui sms disiang bolong, saat istirahat di kantor dapat membuat hati pasangan anda berbunga-bunga, dan tentu semangat menjalani pekerjaan untuk menafkahi pasangan.
  6. Berikanlah selalu hanya yang terbaik kepada pasangan. Berdandanlah di rumah, berpenampilan baik sangat dianjurkan. Hindari diri anda dari baju kumal, kaos oblong lawas, badan bau karena belum mandi dll. Jauhilah hal-hal seperti ini, maka kehidupan ranjang anda akan memukau.
  7. Berhentilah melihat dan mengagumi rumput di pekarangan orang lain. Rumput di pekarangan rumah kita tidak akan kalah hijau dan mempesona jika anda dan pasangan senantiasa menyirami dengan penuh kasih sayang dan merawatnya dengan kelembutan cinta.
  8. Penuhi keinginan pasangan dengan keiklasan. Jangan kotori segala pengorbanan anda dengan niat agar pasangan juga mau berkorban untuk anda.
  9. Berhenti berkeluh kesah dan menyesali keadaan adalah langkah yang harus anda lakukan saat ini juga. Jangan sampai menjadi karakter anda yang sangat sulit dihilangkan. Sabda nabi, lihatlah orang yang berada di bawahmu, jangan melihat keadaan orang yang ada dia atasmu.
  10. Jadikan pasangan sebagai bintang dalam setiap keberhasilan yang dicapai. Berhentilah pujian pada diri sendiri, gantilah dengan mengapresiasi pasangan.
  11. Jadikan pasangan sebagai tokoh utama dalam setiap perbincangan anda dengan pasangan. Hal ini menujukkan betapa anda sangat perhatian kepada pasangan.
  12. Buanglah jauh-jauh istilah ‘keluarga istri’ atau ‘keluarga suami’.
  13. Memahami bahwa pasangan anda mempunyai tugas yang sulit. Suami dalam perkerjaannya dan istri dalam mengelola rumah tangga.
  14. Berhati-hatilah dalam bersikap menyalahkan pasangan ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
  15. Jangan terlalu posesif kepada pasangan. Sifat posesif menyebabkan cemburu berlebihan.
  16. Perhatikan baik-baik. Berpikirlah dahulu sebelum berbicara. Sehingga anda tidak perlu menyesali atas perkataan yang membuat situasi tidak nyaman setelah anda berbicara.
  17. Redam amarah dengan berwudlu. Perbanyak istighfar dan mengingat Allah.
  18. Beri kesempatan pasangan mengutarakan komentarnya. Anda akan mengetahui permasalahan secara detail.
  19. Jangan membesar-besarkan masalah.
  20. Berempatilah. Tinggalkan sikap egois. Ketika istri sedang PMS, pahami dia. Atau anda yang mengalami PMS, jangan libatkan suami untuk ikut merasakan keadaan yang sedang anda alami. Jangan pula jadikan masa PMS sebagai pembenaran terhadap sikap anda yang tidak dapat dimengerti.
  21. Berkomunikasilah dengan pasangan sesuai dengan memahami karakter dia. Pasangan anda lebih lama hidup dengan budaya dan lingkungan sebelum anda menjadi pasangan suami istri.
  22. Jangan mengultimatum pasangan agar berbuat sesuai dengan apa yang anda kehendaki.
  23. Biasakan memberikan teladan bukan perintah. Berikan contoh langsung.
  24. Hindari sikap defensif atau membela diri. Menerima kesalahan dengan lapang dada akan menjadikan hati lebih tenang, membuat ruang gerak tidak kaku, dan perasaan lebih nyaman.
Disadur dari buku “Dialog Keluarga menuju Surga”

INDONESIA (MASIH) BUTUH ANAK PUNK

Cerita Dua anak PUNK di Gramedia

Ketika saya baru sampai di gramedia, solo, kemarin tanggal 29 Januari 2013, saya melihat dua anak berpakaian urakan keluar menuju parkir basement. Memperhatikan pakaian mereka: jaket kumal, celana jeans terpotong tidak rapi, sandal jepit dan  rambut urakan dicat kuning. Perhatian saya kemudian menuju pada plastik kresek yang dibawa salah satu anak. Saya perkirakan di dalamnya adalah buku, mereka habis membeli buku. Saya berpikir, buku seperti apa yang dibeli anak-anak itu.

Bukan ingin merendahkan anak PUNK. Karena saya punya teman anak punk yan juga mengoleksi buku-buku tentang sejarah punk dan macam-macam punk. Tapi, tidak biasa saja melihat orang berpakaian urakan masuk toko buku. Biasanya adalah orang-orang dengan pakaian rapi, berkaca mata, atau gerombolan anak-anak sekolah yang masih berseragam.

Apa ini ada kaitannya dengan Novel “endank soekamti”. Group Band asal Jogja ini pada tanggal 12-12-2012 mengeluarkan album berjudul “angka 8”. Album ini berbeda dari sebelumnya, harus membeli satu paket dengan Novel dengan judul sama dengan album.

Sebagai loyalitas fans pada band kesayangan. Harga Rp 50.000,00 bukanlah suatu hal yang mahal. Kamties Family, sebutan fans mereka, memang terkenal sangat banyak dan  loyal. Di mana pun Endank Soekamti manggung, mereka selalu ada. Tidak hanya fans dari daerah tempat manggung, tapi hampir semua fans dari setiap daerah pun akan datang.

Saya yang juga suka dengan band ini, namun tidak member Kamties Family. Beberapa kali saya datang melihat mereka manggung di Sragen dan Solo. Saya membuktikan langsung loyalitas fans mereka yang berbondong-bondong dari daerah lain. seperti melihat supporter sepakbola, mereka datang ada yang menggunakan kendaraan pribadi, ada yang naik kendaraan umum, ada juga yang nggembel.

Dari fakta ini, saya mengkaitkan antara dua anak punk tadi dengan novel Endank Sukamti. Saya tidak yakin apakah mereka adalah anak-anak punk yang ada di jalanan, atau murni Kamties Family. Endank Sukamti memang band dengan aliran Melodic Punk. Tetapi fans mereka bukanlah dari anak-anak street punk semua. Memang tampilan mereka banyak yang meniru anak punk jalanan atau meniru personil Endank Sukamti (Eric, Dori, Ari) tetapi banyak juga yang tampil rapi dan hanya menjadi penikmat musik mereka.

Dan jika analisa saya salah, mudah-mudahan membeli buku bukan karena nge-fans dengan idola saja. Tetapi merupakan kesadaran SDM Indonesia terus belajar melalui membaca buku. terlepas dari itu semua terimakasih kepada Endank Sukamti yang secara tidak langsung mengajarkan generasi muda suka membaca.

Up