Dirgahayu Republik Indonesia

Merdeka! Dirgahayu Indonesia. Selamat ‪#‎hutRI‬ ke-68 kepada seluruh rakyat Indonesia. 

Terimakasih Tuhan Yang Maha Esa.
Shalawat dan salam kepada Nabi junjungan saw.

Terimakasih kepada para pahlawan. Terimakasih para pemimpin bangsa dan negara. Terimakasih para guru, ulama dan orang tua. Terimakasih saudara-saudara sebangsa dan setanah air semua. Terimakasih semua bangsa di dunia yang telah mendukung, mendoakan dan mau bersahabat dengan Indonesia.

Sisi Lain Anak PUNK

KETIKA saya baru sampai di gramedia, solo, kemarin tanggal 29 Januari 2013, saya melihat dua anak berpakaian urakan keluar menuju parkir basement. Memperhatikan pakaian mereka: jaket kumal, celana jeans terpotong tidak rapi, sandal jepit dan  rambut urakan dicat kuning. Perhatian saya kemudian menuju pada plastik kresek yang dibawa salah satu anak. Saya perkirakan di dalamnya adalah buku, mereka habis membeli buku. Saya berpikir, buku seperti apa yang dibeli anak-anak itu.

Jumlah Rakaat Tarawih yang Benar

Awalnya saya tidak ingin merampungkan tulisan ini. Karena saya tidak mendapatkan riwayat yang sampai dengan sahih mengenai jumlah rakaat tarawih yang benar. Apakah yang benar 8 rakaat atau yang benar 20 rakaat. Tapi pendapat jumhur ulama lebih menyimpulkan tarawih 20 rakaat. Hal ini yang membuat saya kemudian ragu ingin melanjutkan posting atau tidak. Karena ditakutkan akan tidak seimbang. Padahal tujuan tulisan saya adalah agar orang habis baca ini jadi yakin berapa pun jumlah rakaatnya itu sah shalatnya. 

Lalu saya menyimpulkan: Orang-orang yang shalat 8 rakaat yang tidak mau mengikuti imam shalat 20 rakaat dan sebaliknya orang-orang yang shalat 20 rakaat yang tidak mau mengikuti imam shalat 8 rakaat, murni karena kebiasaan. Misal, Orang yang terbiasa dengan shalat 8 rakaat, ketika imam tarawih shalat 20 rakaat, lalu di hatinya muncul perasaan tidak sreg. Lalu orang tersebut mengakhiri shalatnya setelah selesai 8 rakaat. Bahkan ada yang tidak mau lagi tarawih di masjid yang tarawihnya 20 rakaat.

MENGADAPTASI KEBIASAAN SUKSES BANGSA JEPANG


Masyarakat Jepang identik dengan kerja keras, kesuksesan, dan mobilitas tinggi. Alangkah lebih baik bila kita bisa mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan orang Jepang berikut ini.

1. Kerja keras

Sesusah-susahnya hidup, orang rajin tidak akan pernah kelaparan. Jepang adalah contoh bangsa yang rajin.

PERBEDAAN , SIKAP KITA DAN KENISBIAN




Catatan Dahlan Iskan yang Kembali Berlebaran di Makkah 2011
Oleh Dahlan Iskan

INILAH tempat yang orangnya tidak saling menyalahkan. Inilah tempat yang orangnya tidak mempersoalkan Anda penganut Islam aliran yang mana. Inilah tempat yang di pintu masuknya tidak ada yang bertanya NU-kah Anda atau Muhammadiyah, Wahabikah Anda atau Ahmadiyah, Ahlussunnahkah Anda atau Syi’ah, Hisbuttahrirkah Anda atau Ikhwanulmuslimin, Jamaah Tablighkah Anda atau Islam Jamaah.

Inilah tempat yang pintunya hampir 100 buah, melebihi jumlah aliran yang ada. Inilah tempat yang halamannya seluas dada umatnya. Inilah rumah Tuhan untuk orang Islam yang mana saja dari mana saja.

Ada yang sembahyang dengan celana digulung sampai mata kaki tanpa mencela mereka yang celananya dibiarkan panjang sampai menyentuh lantai. Ada yang pakai jubah serba tertutup tanpa menghiraukan yang hanya pakai kaus lengan pendek. Ada yang sembahyang dengan pakai sarung tanpa mencela yang pakai kaus sepak bola Barcelona dengan nama Messinya atau kaus Arsenal dengan nama Fabregasnya.

Inilah masjid yang orangnya sembahyang dengan bermacam-macam gerakan tanpa ada yang merasa salah atau disalahkan. Ada yang ketika takbiratul ikram mengangkat tangan sampai menyentuh telinganya tanpa menghiraukan jamaah di sebelahnya yang tidak melakukan gerakan tangan apa-apa. Ada yang tangannya konsisten bersedekap di dada tanpa mempersoalkan orang yang tangannya begitu sering masuk ke saku jubahnya seperti mencari-cari benda yang hilang. Ada yang sambil sembahyang matanya terpejam tanpa menegur sebelahnya yang sibuk mematikan handphone-nya yang tiba-tiba berdering.

Inilah tempat yang jamaahnya tidak mempersoalkan mengapa ada yang dapat tempat sembahyang di dekat Ka'bah dan ada yang hanya dapat tempat di pinggir jalan atau di tangga atau bahkan harus sembahyang di atas pagar yang lebarnya hanya setapak. Inilah tempat yang orangnya hanya konsentrasi memikirkan bagaimana agar dirinya sendiri bisa diterima menghadap Tuhannya tanpa peduli apakah Tuhan juga menerima penghadapan yang lain.

Inilah tempat yang semua orangnya ingin mendapat tempat yang terdekat dengan Tuhan tanpa perlu melarang atau menyingkirkan atau membunuh orang lain yang juga menginginkan posisi yang terdekat dengan Tuhan. Inilah tempat sembahyang muslim yang bersujud di aspal sama nikmatnya dengan bersujud di permadani tebal.

Inilah tempat yang orangnya tidak mempermasalahkan apakah tempat sembahyang bagi wanita harus disembunyikan di balik dinding atau di balik tabir. Ada yang sembahyang berkelompok sesama wanita dengan pembatas kain rendah tanpa menyalahkan wanita yang sembahyangnya tercampur dengan pria. Ada tempat sembahyang khusus laki-laki tanpa menganggap tidak sah beberapa laki-laki yang sembahyang di tengah-tengah jamaah wanita, bahkan dengan posisi berdempetan dengan wanita di sebelahnya itu.

Inilah tempat yang membuat saya termenung lama mengapa jutaan manusia yang datang ke tempat ini tidak mempersoalkan aliran orang lain sebagaimana kalau mereka berada di tempat asal mereka. Mungkinkah karena begitu egoisnya mereka yang datang? Mungkinkah begitu individualistik nya mereka yang ke tanah haram? Mungkinkah muncul kesadaran bahwa pada akhirnya Tuhanlah yang memutuskan siapa yang berhak dekat dengan-Nya dari mana pun alirannya?

Inilah tempat yang membuat saya tertegun sejenak: mungkinkah karena di sini tidak ada yang merasa dominan sebagai mayoritas? Mungkinkah perasaan kehilangan dominasi mayoritas itu yang menyebabkan segala yang minoritas harus disingkirkan? Mungkinkah karena di sini tidak ada yang merasa menjadi tuan rumah sehingga semua orang adalah tamu?

Inilah tempat yang membuat saya berpikir: begitu indahnya kah keberagaman yang seimbang itu?

Inilah tempat yang membuat saya ingat begitu kerasnya persaingan dunia usaha: mungkinkah kedamaian di tempat ini karena masing-masing aliran tidak sedang me-marketing-kan aliran masing-masing? Mungkinkah marketing aliran itu yang membuat terjadinya perebutan pasar sehingga yang minoritas merasa harus meningkatkan market share-nya dan sang market leader mati-matian melawan setiap penggerogotan pasarnya?

Wallahualam. Tuhan bukan pasar dan tidak akan memedulikan posisi pasar.

Sebagai orang yang sejak kecil berada di lingkungan ahlussunah dan dilatih praktik ibadah ahlussunnah dengan gerakan sembahyang yang begitu tertib (sampai posisi jempol kaki saat duduk takhiyat akhir pun dibetulkan dengan keras) di tempat ini ternyata saya juga bukan lagi mayoritas.

Inilah tempat yang membuat saya paham bahwa mayoritas atau minoritas itu ternyata nisbi. Sepenuhnya bergantung pada tempat dan waktu. (c2/lk)

Melafalkan Niat

Di sekitar saya ada kalangan yang berbeda pendapat antara melafalkan niat dengan niat yang cukup dibatin (dalam hati saja). Perbedaan ini murni karena kurangnya pemahaman. Beberapa di bawah ini adalah hasil belajar saya. Wallaualam semoga Allah melindungi saya tetap di jalan yang lurus, jalan yang DIA ridloi dan diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang sesat. amin

#1 Belum pernah ditemukan riwayat mengenai kanjeng Nabi Saw melafalkan niat pada saat melaksanakan ibadah, KECUALI saat Kanjeng nabi melaksanakan ibadah haji.

MENDOBRAK BENTENG KOKOH BERNAMA SKRIPSI

JALAN kaki nya sudah cepat tapi garis finis skripsi tak kunjung sampai. Jalan cepat saja tidak cukup. Perlu kerja yang cepat. Kerja cepat saja kalau sebentar-sebentar berhenti juga sia-sia. Perlu disiplin agar kerja menjadi kontinu. Kerja dalam arti menyelesaikan skripsi. Nah, disiplin ini yang sampai sekarang belum bisa saya taklukan. Sulit sekali. Lagi-lagi terbentur malas. Malas seperti momok. Malas seperti sakit maag yang sering kumat pada saat-saat yang tidak diinginkan. Perlu ramuan-ramuan yang manjur. Perlu mantra-mantra yang mustajab. Butuh motivasi yang mengubah tujuan menjadi sebuah kebutuhan. Bukan saja tujuan yang menjadi kebutuhan. Kerja harus menjadi sebuah kebutuhan. Seperti manusia, kebutuhan untuk makan, kebutuhan untuk bernafas, kebutuhan menutup malu dan kebutuhan untuk shalat. Kebutuhan yang kontinu yang harus dipenuhi.

Jika kerja sudah menjadi kebutuhan. Sudah tidak ada lagi kata 'nanti'. Harus mulai mengerjakan skripsi. Harus kerja. Harus kerja. Seperti lapar yang harus makan. Lapar datang-langsung makan. Jika terlambat bisa semaput, mungkin mati. Seperti rasa dahaga yang sangat yang harus segera minum. Mulutnya sudah kekeringan. Untuk bicara pun sayang ludahnya. Maka tidak ada akal-akalan lagi untuk menunda. Segera!

Sungguh disiplin itu sangat susah. Musuhnya tidak tanggung-tanggung. Malas! 

Saya sering membuat agenda. Memberikan peluang kepada diri saya. Membagi waktu agar pada waktu itu saya segera menulis. Meluangkan diri agar berada dalam kondisi untuk mengerjakan skripsi. Sedikit dipaksakan. Memaksakan pikiran. Memaksakan mood. Setelah bangun tidur, mandi, dandan seperti dandannya mau kuliah lalu duduk depan laptop. Buka folder skripsi. Baca dibaca membaca. Mengetik dua kalimat. Buntu. Ide mati. Tutup. Buka internet. See u next time :)

Mungkin karena dipaksakan. Ndak natural. Tidak enjoy.

Dengan senyuman lho saya meninggalkan pekerjaan menyelesaikan skripsi itu. Tanpa merasa punya tanggungan. Lalu pada lain waktu sadar. Ini tidak bisa begini terus. Lalu saya mau apa. Saya membuat akal lain. Membuat agenda lain. Cara lain. Tapi ujung-ujungnya sama. Lagi-lagi terbentur rasa malas.

Kenapa?

Tema mengenai skripsi dalam ruang pikiran saya masih kalah interest dengan pikiran-pikiran lain. Membaca buku jauh lebih ringan. Lebih menyenangkan. Tidak butuh mempekerjakan otak untuk berpikir. Hanya perlu duduk pegang buku. Tau-tau sudah berbuku-buku terlahap habis. Tapi skripsi tak kunjung nambah.

Menulis blog begini juga mengalahkan interest mengerjakan skripsi. Selesai satu artikel muncul ide-ide lain yang membuat saya tak sabar menuliskannya. Saya usahakan mandeg. Dan benar saya mandeg. Benar-benar mandeg sampai waktu yang tidak ditentunkan. Sampai lupa cara mulai nulis lagi. Mulai dari mana ide-ide yang dulu silih berseliweran, hilang. Ngambek karena saya punya niatan mengerjakan skripsi. Agak disayangkan juga. Tapi tetap skripsi tak kunjung nambah. Pilih mana?

Ada satu lagi. Kebutuhan sosial ingin berkumpul dengan teman. Kalau sudah berkumpul dengan teman semuanya jadi lupa, saking enjoy nya. Hidup ini begitu menyenangkan dengan ngobrol. Apalagi ngobrol sambil nongkrong di tempat wedangan. Siapa yang tidak suka. Semua orang suka hanya beda-beda kelasnya. Ada yang wedangannya di nite club, ada yang di cafe, ada yang cukup di angkringan (hik). Saya? Cukup hik semata bagi orang seperti saya. Tempat wedangan paling nyaman bagi kelas seperti saya. Tidak perlu agak digengsi-gengsikan, pesen menu kayak ibu-ibu saingan perhiasan waktu arisan. Bisa ngomong apa saja, ngomongin siapa saja. Boleh duduk gaya apa saja. Tiduran berbantal tubuh teman atau duduk bersila. Tidak perlu pake wewangian dan berdandan. Tidak usah pakai baju mahal-mahal seperti rok mini, hot pant dan u can see. Gaya kasual atau sarungan tetap enjoy. Cukup apa adanya, nduwenya apa. Lagi-lagi saking enaknya. Skripsi tertunda.

Kini saya sadar. Semoga sadar yang final. Tidak ada sadar-sadar yang lagi. Karena saya tidak ingin pingsan lagi. Bukan pingsan dalam arti tidur secara tidak sadar. Tau lah. Pingsan dalam arti terlena karena waktu dan dibumbui dengan rasa malas. Maka saya putuskan untuk tobat. Tobatan nasuha.

Lalu sekarang saya harus memikirkan apa-apa yang harus saya lakukan. Harus ada perasaan butuh yang urgen. Harus ada motivasi yang kontinu. Harus ada sosok yang saya kejar. Harus bergaul dengan nikmat waktu. Harus ada kerja. Harus ada DISIPLIN. Salam (*)

YASINAN

SEKARANG ini banyak orang mulai tidak mau lagi mendirikan tradisi yasinan. Ada yang mengatakan agar tidak mengultuskan satu surah dari surah-surah yang lain di dalam alquran. Apakah maksud dengan mengultuskan itu saya sendiri tidak tahu. Yang saya tahu yasinan berbeda dengan membaca surah yasin. Kalau membaca surah yasin tok itu bukan yasinan. Kalau yasinan ada membaca surah yasinnya. Ibarat warung bakso yang juga jualan mie ayam. Di dalamnya tidak hanya membaca surah yasin tok, ada bacaan surah-surah yang lain. Ada tasbih dan tahmid yang dilantunkan. Ada doa-doa yang dipanjatkan. Ada moment silaturahmi yang dilestarikan. Ada ganjaran yang diterima bagi orang lain dan untuk diri sendiri. Ada nilai agar membiasakan diri saling memberi. Itulah yasinan sebuah tradisi yang sudah mengakar kemudian digugat dengan dalih pengultusan surah. Dengan  menggunakan senjata 'dalil' yang tidak pernah ditemukan sahihnya.

Kenapa Ingin Jadi Presiden?

Kalau bukan ingin jadi presiden lalu cita-cita apalagi yang lebih tinggi dari itu. Ingin jadi nabi? Mohon maaf kuota jabatan menjadi nabi sudah ditutup. Sudah tidak akan ada lagi nabi setelah Rasul Allah terakhir-Kanjeng Nabi Saw. Jadi saya putuskan ingin jadi presiden. Apakah salah? Apakah pantas? Apakah mampu? Emang enak jadi presiden? Saat nanti jadi presiden terus banyak yang protes, apa ndak stres? ya ya ya. Mana saya tahu. Orang saya belum nyoba. Makanya saya mau merasakannya dulu baru nanti kalau  ada yang tanya seperti itu saya bisa jawab. 

Pada mau milih kan ya?

MAHASISWA dan DEMO dan ANARKI

Penggunaan kata sambung 'dan' pada judul adalah bahwa saya berharap antara mahasiswa, demo dan anarki memiliki arti yang berdiri sendiri-sendiri. Bukan sebuah kesatuan makna. Bukan kata yang saling lengkap-melengkapi. Jangan sampai.

Mahasiswa melakukan aksi demo itu sah-sah saja. Yang tidak sah adalah mahasiswa yang demo dengan anarki. Itu namanya kebodohan yang dipamer-pamerkan. Saya setuju dengan gagasan dosen statistik saya yang terkenal killer, bahwa semakin tinggi tingkat intelegensi seseorang, maka tingkat kematangan emosi dan spiritual juga semakin tinggi. Kalau pemilik identitas kaum cendekia sendiri yang melakukan anarki. Apakah masih pantas menyandang citra orang berpendidikan?

Kata Pengantar Blog 'Anyar'


Karena blog wordpress saya sering bermasalah, maka dengan ini saya mulai dengan domain baru via blogger tertanggal 21 Juni 2013 pukul 22.45 Wib.

Bismillah. Semoga Tuhan meridhai. aamiin

Alhamdulillah, banyak jalan menuju Roma. Inilah jalan baru yang hendak saya tempuh. Menulis dengan sesuka hati. Menulis dengan sesuka ucapan. Memerdekakan pikiran. Menulis dengan cara orang mudah membaca. Tidak panjang-panjang, tidak sampai satu paragraf berbaris-berbaris. Tidak sampai satu kalimat bermaraton ria. Jangan sampai yang ingin baca jadi ngos-ngosan. Yang utama adalah isinya tersampaikan.

Sekian dulu. Mohon doanya.

Salam (JH)

24 PEDOMAN MENGHANGATKAN HUBUNGAN PASUTRI:


  1. Jangan sampai rutinitas pekerjaan membuat pasangan melupakan pentingnya meluangkan waktu bermesraan. Berkumpul itu penting. Buat jadwal harian, dan mingguan yang harus disepakati. Disiplin menjalankannya. Gunakan kesempatan itu untuk bercanda dan bercengkerama sehingga emosi positif masuk dalam memori setiap anggota keluarga.
  2. Berikan reward. Berupa pujian atau hadiah atau bentuk apresiasi lainnya kepada pasangan dalam menjalankan kewajiban. Beri pujian kepada suami atas jirih payahnya dalam bekerja untuk keluarga. Beri pujian kepada istri atas pengelolaan rumah tangga yang baik, mengurus dan membimbing anak. Beri acungan jempol, katakan masakan istri enak, beri kecupan hangat, peluk pasangan, atau katakan i love u. Itu sudah membuat pasangan merasa melayang tersayang-sayang.
  3. Jadi pendengar yang baik. Antusiaslah ketika pasangan sedang bercerita. Entah itu penting atau tidak. Apa efeknya? Pasangan akan saling terbuka, permasalahan dapat teratasi sedini mungkin.
  4. Berusahalah untuk membuat pasangan bahagia. Tujuan menikah adalah untuk menunjukkan betapa besar anda mencintai pasangan, bukan untuk melihat dan membuat pasangan sedih.
  5. Ungkapkan rasa sayang anda dengan berbagai cara sesuai dengan karakter dan kesukaan pasangan. Kata mesra melalui sms disiang bolong, saat istirahat di kantor dapat membuat hati pasangan anda berbunga-bunga, dan tentu semangat menjalani pekerjaan untuk menafkahi pasangan.
  6. Berikanlah selalu hanya yang terbaik kepada pasangan. Berdandanlah di rumah, berpenampilan baik sangat dianjurkan. Hindari diri anda dari baju kumal, kaos oblong lawas, badan bau karena belum mandi dll. Jauhilah hal-hal seperti ini, maka kehidupan ranjang anda akan memukau.
  7. Berhentilah melihat dan mengagumi rumput di pekarangan orang lain. Rumput di pekarangan rumah kita tidak akan kalah hijau dan mempesona jika anda dan pasangan senantiasa menyirami dengan penuh kasih sayang dan merawatnya dengan kelembutan cinta.
  8. Penuhi keinginan pasangan dengan keiklasan. Jangan kotori segala pengorbanan anda dengan niat agar pasangan juga mau berkorban untuk anda.
  9. Berhenti berkeluh kesah dan menyesali keadaan adalah langkah yang harus anda lakukan saat ini juga. Jangan sampai menjadi karakter anda yang sangat sulit dihilangkan. Sabda nabi, lihatlah orang yang berada di bawahmu, jangan melihat keadaan orang yang ada dia atasmu.
  10. Jadikan pasangan sebagai bintang dalam setiap keberhasilan yang dicapai. Berhentilah pujian pada diri sendiri, gantilah dengan mengapresiasi pasangan.
  11. Jadikan pasangan sebagai tokoh utama dalam setiap perbincangan anda dengan pasangan. Hal ini menujukkan betapa anda sangat perhatian kepada pasangan.
  12. Buanglah jauh-jauh istilah ‘keluarga istri’ atau ‘keluarga suami’.
  13. Memahami bahwa pasangan anda mempunyai tugas yang sulit. Suami dalam perkerjaannya dan istri dalam mengelola rumah tangga.
  14. Berhati-hatilah dalam bersikap menyalahkan pasangan ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
  15. Jangan terlalu posesif kepada pasangan. Sifat posesif menyebabkan cemburu berlebihan.
  16. Perhatikan baik-baik. Berpikirlah dahulu sebelum berbicara. Sehingga anda tidak perlu menyesali atas perkataan yang membuat situasi tidak nyaman setelah anda berbicara.
  17. Redam amarah dengan berwudlu. Perbanyak istighfar dan mengingat Allah.
  18. Beri kesempatan pasangan mengutarakan komentarnya. Anda akan mengetahui permasalahan secara detail.
  19. Jangan membesar-besarkan masalah.
  20. Berempatilah. Tinggalkan sikap egois. Ketika istri sedang PMS, pahami dia. Atau anda yang mengalami PMS, jangan libatkan suami untuk ikut merasakan keadaan yang sedang anda alami. Jangan pula jadikan masa PMS sebagai pembenaran terhadap sikap anda yang tidak dapat dimengerti.
  21. Berkomunikasilah dengan pasangan sesuai dengan memahami karakter dia. Pasangan anda lebih lama hidup dengan budaya dan lingkungan sebelum anda menjadi pasangan suami istri.
  22. Jangan mengultimatum pasangan agar berbuat sesuai dengan apa yang anda kehendaki.
  23. Biasakan memberikan teladan bukan perintah. Berikan contoh langsung.
  24. Hindari sikap defensif atau membela diri. Menerima kesalahan dengan lapang dada akan menjadikan hati lebih tenang, membuat ruang gerak tidak kaku, dan perasaan lebih nyaman.
Disadur dari buku “Dialog Keluarga menuju Surga”

INDONESIA (MASIH) BUTUH ANAK PUNK

Cerita Dua anak PUNK di Gramedia

Ketika saya baru sampai di gramedia, solo, kemarin tanggal 29 Januari 2013, saya melihat dua anak berpakaian urakan keluar menuju parkir basement. Memperhatikan pakaian mereka: jaket kumal, celana jeans terpotong tidak rapi, sandal jepit dan  rambut urakan dicat kuning. Perhatian saya kemudian menuju pada plastik kresek yang dibawa salah satu anak. Saya perkirakan di dalamnya adalah buku, mereka habis membeli buku. Saya berpikir, buku seperti apa yang dibeli anak-anak itu.

Bukan ingin merendahkan anak PUNK. Karena saya punya teman anak punk yan juga mengoleksi buku-buku tentang sejarah punk dan macam-macam punk. Tapi, tidak biasa saja melihat orang berpakaian urakan masuk toko buku. Biasanya adalah orang-orang dengan pakaian rapi, berkaca mata, atau gerombolan anak-anak sekolah yang masih berseragam.

Apa ini ada kaitannya dengan Novel “endank soekamti”. Group Band asal Jogja ini pada tanggal 12-12-2012 mengeluarkan album berjudul “angka 8”. Album ini berbeda dari sebelumnya, harus membeli satu paket dengan Novel dengan judul sama dengan album.

Sebagai loyalitas fans pada band kesayangan. Harga Rp 50.000,00 bukanlah suatu hal yang mahal. Kamties Family, sebutan fans mereka, memang terkenal sangat banyak dan  loyal. Di mana pun Endank Soekamti manggung, mereka selalu ada. Tidak hanya fans dari daerah tempat manggung, tapi hampir semua fans dari setiap daerah pun akan datang.

Saya yang juga suka dengan band ini, namun tidak member Kamties Family. Beberapa kali saya datang melihat mereka manggung di Sragen dan Solo. Saya membuktikan langsung loyalitas fans mereka yang berbondong-bondong dari daerah lain. seperti melihat supporter sepakbola, mereka datang ada yang menggunakan kendaraan pribadi, ada yang naik kendaraan umum, ada juga yang nggembel.

Dari fakta ini, saya mengkaitkan antara dua anak punk tadi dengan novel Endank Sukamti. Saya tidak yakin apakah mereka adalah anak-anak punk yang ada di jalanan, atau murni Kamties Family. Endank Sukamti memang band dengan aliran Melodic Punk. Tetapi fans mereka bukanlah dari anak-anak street punk semua. Memang tampilan mereka banyak yang meniru anak punk jalanan atau meniru personil Endank Sukamti (Eric, Dori, Ari) tetapi banyak juga yang tampil rapi dan hanya menjadi penikmat musik mereka.

Dan jika analisa saya salah, mudah-mudahan membeli buku bukan karena nge-fans dengan idola saja. Tetapi merupakan kesadaran SDM Indonesia terus belajar melalui membaca buku. terlepas dari itu semua terimakasih kepada Endank Sukamti yang secara tidak langsung mengajarkan generasi muda suka membaca.

Kiat Menulis Enak ala Dahlan Iskan

Oleh LAMBERTUS HUREK

Di GRAHA PENA Surabaya, markas Grup JAWA POS, DAHLAN ISKAN lebih akrab disapa Pak Bos. Pria kelahiran Magetan 17 Agustus 1951 ini memang bos Grup JAWA POS. Di masthead koran-koran di lingkungan Grup JAWA POS, jabatan resmi Dahlan Iskan adalah chairman. Memang, selain membesarkan JAWA POS (dan grupnya) dialah ‘roh’ Grup JAWA POS.

Yang menarik, berbeda dengan bos-bos media lainnya, Dahlan Iskan ini tetap menulis. Bikin reportase, kolom, analisis berita... pokoknya menulis. Menulis kapan saja dia suka. Menulis dan membaca sudah menjadi darah daging tokoh pers nasional itu. Kalau sudah ada ide, di mana pun, kapan pun... Dahlan Iskan menulis.

Belum lama ini, Pak Bos jalan-jalan di Singapura. Jalan kaki di Orchard Road dengan trotoar yang rindang. Nah, di trotoar itu muncul ide untuk menulis masalah kota, sekadar masukan untuk Kota Surabaya. Maka, ayah dua anak ini menulis di trotoar itu. Besoknya, tulisan itu dimuat di JAWA POS, dan beberapa koran anak perusahaan JAWA POS.

“Dahlan Iskan itu penulis dan wartawan yang belum ada duanya di Jawa Timur, bahkan Indonesia,” k`ta BAMBANG SUJIYONO, seniman teater, pentolan BENGKEL MUDA SURABAYA, kepada saya.

“Harusnya kita punya banyak wartawan kayak dia. Sekarang ini wartawan buanyaaaaak sekali, media berlimpah, tapi hampir nggak ada wartawan yang punya tulisan bagus. Kayaknya wartawan-wartawan sekarang ini nggak bakat menulis deh. Makanya, tulisannya nggak karuan,” kata Bambang, bekas anggota DPRD Jawa Timur, juga bekas pemimpin redaksi beberapa media cetak di Surabaya.

Bambang Sujiyono, juga sejumlah seniman, mahasiswa, pengamat, serta kalangan terdidik di Jawa Timur, memang sejak lama ‘kecanduan’ tulisan Dahlan Iskan. Kalau Pak Bos lama tak menulis karena sibuk (maklum, urusan dan jabatannya banyak), orang-orang macam Bambang ini telepon atau titip pesan lewat redaksi agar Pak Bos segera menulis lagi.

"Ada teman saya yang hanya mau baca tulisan Dahlan Iskan. Tulisan-tulisan lain dianggap nggak ada. Hehehe...,” kata Bambang Sujiyono lalu tertawa khas. Saya hanya mengangguk mendengar komentar Bambang. Lalu tertawa.

Bu Yuli, pemimpin sebuah kelenteng besar di Surabaya, juga berkali-kali 'titip pesan' lewat saya agar Pak Dahlan Iskan sering-sering menulis. Katanya, tulisan-tulisan Dahlan Iskan sangat kinclong, hidup, menarik, dan bikin pembaca ketagihan. Dia baca berkali-kali tulisan Pak Dahlan, tapi tidak pernah bosan.

"Hurek, kalau bisa kalian wartawan yang masih muda-muda ini belajar dari Pak Dahlan Iskan. Orang itu memang luar biasa. Ciamik soro, kata orang Tionghoa," kata Bu Yuli yang kebetulan sangat dekat dengan saya. Tiap kali ada hajatan besar di kelentengnya, entah itu Sincia, Cap Go Meh, sejit, hari jadi Kongco... saya pasti diundang.

Pendapat sama sebetulnya juga disampaikan pembaca JAWA POS dan RADAR SURABAYA, khususnya mereka yang punya ‘rasa bahasa’. Mereka menilai karya Dahlan Iskan itu unik, sulit ditiru, mengandung kejutan, jenaka, jelas, menghibur.

“Wislah, bilang bosmu itu (maksudnya Dahlan Iskan) supaya menulis terus. Sibuk ya sibuk, tapi ojo lali menulis. Penggemare akeh,” papar Bambang Sujiyono (sekarang sudah almarhum).

Saya pun sepakat dengan penilaian pembaca-pembaca kritis ala Bambang Sujiyono. Selain enak dan menghibur, Dahlan Iskan mampu mendudukkan persoalan secara terang dan jernih. Apa-apa yang tadinya gelap, remang-remang, jadi jernih setelah saya membaca tulisan Pak Bos.

Ambil contoh kasus haji (2007). Soal muasasih di Makkah yang menyediakan katering jemaah haji. Saya sering baca tulisan teman-teman wartawan, baca artikel di banyak media, dengar penjelasan dari wartawan senior yang sudah naik haji. Tapi penjelasan tentang seluk-beluk katering dan pengaturan makan jemaah haji tak pernah jelas. Tulisan wartawan-wartawan muda di koran malah bikin bingung. “Mbulet,” kata orang Jawa Timur.

Sabtu, 20 Januari 2007, Dahlan Iskan menulis di halaman satu JAWA POS. Dia bahas masalah katering, muasasah, kebijakan Menteri Agama MUHAMMAD MAFTUH BASYUNI. Begitu membaca tulisan Pak Bos, saya langsung paham apa yang menimpa sekitar 200 ribu jemaah haji kita di Arab Saudi akhir Desember 2006.

Pak Bos menulis pendek, sederhana, logis, cespleng. Cukup satu artikel pendek, Dahlan Iskan berhasil memberi gambaran seputar persoalan haji. “Kalau bisa disederhanakan, kenapa harus rumit-rumit?” begitu kira-kira salah satu jurus menulis Pak Bos.

Senada dengan Bambang Sujiyono, saya sepakat bahwa Pak Bos ini punya talenta lebih. Dus, sulit ditiru wartawan lain, termasuk saya, meskipun dulu beliau sering memberikan bengkel atau latihan menulis kepada wartawan JAWA POS dan beberapa koran anak perusahaan. Karena tulisannya enak, selalu ditunggu, redaktur selalu menempatkannya di halaman muka.

“Daya tarik tulisan Dahlan Iskan memang luar biasa,” kata LUTFI SUBAGYO, bekas pemimpin redaksi SUARA INDONESIA (Grup JAWA POS). Karena itu, dulu, saban Sabtu Lutfi menempatkan ‘catatan ringan’ Dahlan Iskan di halaman satu. Oplah hari itu pun naik, karena banyak warga Surabaya yang beli koran hanya untuk menikmati tulisan Pak Bos.

Nah, sebagai wartawan di Graha Pena, saya beruntung pernah mendapat gemblengan langsung dari Pak Bos meski tidak secara khusus. Learning by doing, itulah yang dilakoni Pak Bos. Saya pernah mencoba meniru gayanya, tapi gagal.

Berikut sedikit KIAT MENULIS ALA DAHLAN ISKAN hasil interpretasi saya sendiri:

LEAD HARUS SANGAT MENARIK

Ketika Dahlan Iskan belum sesibuk sekarang, dia selalu berjalan keliling ke meja wartawan. Membaca sekilas berita wartawan di laya komputer. Sasaran pertama adalah LEAD alias TERAS alias INTRO alias PEMBUKA alias ALINEA PERTAMA tulisan.

“Lead-mu 6. Cepat diperbaiki sampai 8. Kalau belum 8, nggak bisa dimuat. Lead harus sembilan,” kata Dahlan Iskan usai membaca beberapa baris berita salah satu reporter. Teman saya itu cepat-cepat memperbaiki lead-nya. “Coba saya lihat. Hmm.. lumayan, sudah 7, belum 8. Coba lagi,” kata Dahlan, bekas wartawan majalah TEMPO, itu.

“Bagaimana kalau kalimat di bawah ini Anda angkat ke atas. Dibuat lebih bagus agar enak dibaca?” usulnya.

Kursus menulis berita macam ini dilakukan Dahlan Iskan, dulu, terus-menerus di newsroom kami. Sambil kasih kursus, tak lupa Dahlan Iskan membagi-bagi permen atau kacang goreng: tiap-tiap wartawan satu atau dua biji. Sedikit tapi merata.
Dahlan suka lead yang spontan, unik, tidak klise. Pembaca sejak awal harus dibuat tertarik membaca sampai selesai. Dan itu ada teknik tersendiri.

HUMOR CERDAS

Sebagai orang Jawa Timur, Pak Bos punya koleksi humor berlimpah. Kebanyakan didengar dari teman-teman, wong cilik, obrolan di warung kopi. Humor cerdas kerap jadi pembuka (lead) tulisannya.

Contoh: “Di dunia ini ternyata ada empat hal yang tidak bisa diduga: lahir, kawin, meninggal, dan ... Gus Dur!”

Selain di lead, humor kerap dipasang Pak Bos di akhir tulisannya. Bacalah terus karya dahlan, niscaya di akhir atau menjelang akhir ada kejutan. “Benar-benar mengagetkan,” kata ROHMAN BUDIANTO, redaktur senior JAWA POS, kini pemimpin redaksi RADAR MALANG.

KALIMAT-KALIMAT PENDEK

Dahlan Iskan suka kalimat-kalimat pendek. Antikalimat panjang, apalagi yang beranak-pinak alias kalimat majemuk bertingkat.

“Bagaimana kalau kalimatmu dipotong? Dibagi dua atau tiga,” ujar Pak Bos kepada seorang pemimpin redaksi (kini bekas).

“Enak mana: kalimat panjang atau pendek?” tanya Pak Bos. “Enak pendek, Pak Bos,” jawab si pemred yang sebelumnya suka pakai kalimat majemuk.

Kalimat-kalimat pendek kerap ‘melawan’ aturan tata bahasa Indonesia. Sebab, kalimat dipotong sebelum waktunya. “Anak kalimat kan tidak bisa berdiri sendiri?” protes editor bahasa.

Tidak apa-apa, kata Pak Bos. Alasannya, tulisan di koran harus mudah ditangkap pembaca. Kalau kalimat-kalimat si wartawan terlalu panjang, pembaca akan capek. Dan dia tidak mau baca koran lagi. Toh, koran bukan kitab tata bahasa.

Petikan tulisan Dahlan Iskan di JAWA POS, 21 September 2007:

"Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele, tapi sebenarnya penting.

Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat, begitu saya mengajarkan, bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto.

Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual.

Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. Kalimat pendek, begitu saya mengajar, akan membuat tulisan menjadi lincah.

Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. Semakin pendek sebuah kalimat, semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Kutipan itu -- direct quotation -- juga harus pendek-pendek.

Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Tapi, dengan selingan kutipan-kutipan pendek, tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita."

MENULIS SEPERTI BERBICARA

Gaya bicara Pak Bos hampir sama dengan gayanya menulis. Ini membuat beliau tidak susah mengalihkan wacana di kepala ke dalam tulisan.

Spontanitas, humor cerdas, cerita-cerita menarik, keluar begitu saja.

KALIMAT SEDERHANA, NARATIF

Kalimat-kalimat sederhana memang jadi ciri khas Dahlan Iskan. Tulisannya selalu bertutur alias naratif.

Sebelum ada gembar-gembor jurnalisme naratif, jurnalisme baru, jurnalisme sastrawi, Dahlan Iskan sudah melakukannya sejak 1980-an. Berbeda dengan GOENAWAN MOHAMAD yang puitis, berusaha menemukan kata yang benar-benar pas, kalimat-kalimat Dahlan Iskan mengalir begitu saja.

“Tulisannya gampang diikuti, enak pokoknya,” ujar AAN ANDRIYANI, staf sebuah dealer sepeda motor di Surabaya, kepada saya.

Bahasa Pak Bos tidak ‘ndakik-ndakik’, penuh kata asing, sok ilmiah, mbulet... karena dia ingin pembaca koran, ya, semua warga, menangkap apa yang ditulisnya. Buat apa menulis kalau tidak dibaca karena kalimat-kalimatnya mbulet gak karuan?

MEMORI YANG SANGAT KUAT

Kalau wartawan-wartawan lain sibuk mencatat, merekam, jemprat-jepret... Dahlan Iskan tenang-tenang saja saat wawancara. Dahlan Iskan tidak pernah mencatat kata-kata sumber atau data-data.

Dia menyimak penjelasan sumber dengan serius. Sekali-sekali ia menukas atau ‘memancing’ agar si sumber mengeluarkan pernyataan atau kata-kata yang ‘hidup’. Inilah bedanya dengan wartawan biasa!

Saya sendiri terkejut melihat Dahlan Iskan tidak mencatat atau merekam wawancaranya dengan pejabat atau sumber mana pun. Mencatatnya, ya, di otak saja. Tapi besok, silakan baca koran-koran. Dijamin tulisan Dahlan Iskan jauh lebih bagus, hidup, enak, lengkap, dibandingkan wartawan-wartawan lain yang supersibuk. Tulisannya bisa tiga bagian panjang, sementara reporter lain hanya mampu membuat tulisan pendek.

Data-data Dahlan lengkap. Interpretasi dan ramuannya yang khas membuat tulisannya lebih bernas. “Itu bakat Pak Bos, nggak ada sekolahnya,” kata SLAMET URIP, bekas wartawan senior JAWA POS, yang juga ‘suhu’ para wartawan muda di Grup Jawa Pos.

BANYAK MEMBACA

Dahlan Iskan pembaca yang rakus. Buku tebal ia habiskan hanya dalam beberapa jam saja. Kalau perlu, dia melekan (bergadang) demi menamatkan bacaannya.

Novel AROK DEDES (Pramoedya Ananta Tour), misalnya, diselesaikan Dahlan Iskan hanya dalam tempo beberapa jam saja. Lalu, dia buat catatan tentang novel itu. Dahlan juga bikin catatan tentang novel SUPERNOVA (Dee) setelah melahap novel itu dalam hitungan beberapa jam saja.

Mengapa Dahlan suka baca buku-buku tebal di ruang redaksi, disaksikan wartawan? Saya pikir, secara tidak langsung Pak Bos mau mengajarkan bahwa wartawan/redaktur harus banyak baca. Tulisan yang bagus hanya lahir dari tangan mereka-mereka yang rakus baca. Kenapa tulisan wartawan sekarang umumnya jelek, kering, datar-datar? Salah satunya, ya, karena kurang baca.

TURUN KE LAPANGAN, KERJA KERAS

Tulisan Dahlan Iskan hidup karena berangkat dari pengalaman sendiri. Based on his own experiences! Apa yang dilihat, didengar, dihidu, diraba, dikecap... itulah yang ditulis.

Dahlan sangat mobil. Pagi di Surabaya, siang Jakarta, sore, makassar, malam mungkin di Singapura. Besoknya Tiongkok, luas Amerika... dan seterusnya. Ini membuat Pak Bos sangat kaya pengalaman, kaya penglihatan, kaya wawasan. Dia tinggal ‘memanggil’ memorinya dan jadilah tulisan yang hidup.

Dahlan Iskan pernah membuat tulisan menarik tentang pengalaman naik pesawat supersonik CONCORDE yang kini sudah almarhum itu. Dia bikin pembaca seakan-akan ikut menikmati pesawat supercepat, supercanggih, supermewah, buatan Prancis itu.

KUASAILAH BANYAK BAHASA

Di balik penampilan yang sederhana--sepatu kets, kemeja tidak dimasukkan, tak pakai ponsel--Dahlan Iskan pribadi yang dahsyat. Sangat cepat belajar! Bahasa Tionghoa yang sulit, aksara hanzhi yang aneh dan ribuan jumlahnya, ditaklukkan Dahlan dengan modal tekad baja. "Saya harus bisa,” katanya.

Maka, dia panggil guru privat, les di Graha Pena. Tak puas di Surabaya, Dahlan pindah domisili di Tiongkok selama beberapa bulan agar bisa berbahasa Tiongkok. Beberapa saat kemudian, Dahlan Iskan sudah kirim CATATAN DARI TIONGKOK secara bersambung. Sangat menarik. Respons pembaca luar biasa.

CINTAILAH SASTRA

Ingat, Dahlan Iskan ini bekas wartawan TEMPO. Majalah yang dibuat oleh tangan-tangan trampil berlatar sastrawan. Goenawan Mohamad, Bur Rasianto, Syubah Asa, Putu Wijaya, Isma Sawitri, dan nama-nama besar lainnya.

Mereka-mereka ini praktisi sastra Indonesia. Mereka peminat kata. Terbiasa membuat kalimat yang indah, yang tidak klise. Dahlan Iskan, meski jarang menulis puisi atau novel, jelas seorang sastrawan. Dia bersastra lewat reportase atau kolom-kolomnya di koran.

Pak Bos pun budayawan. Tak heran, di Surabaya dia giat sekali dalam komunitas dan kebudayaan Tionghoa. Dia pun ketua umum persatuan olahraga barongsai yang akhir 2006 silam sukses menggelar kejuaraan dunia di Surabaya. Kiprah semacam ini menambah ‘basah’ tulisan-tulisannya.

MENULIS LANGSUNG JADI (PRESSKLAAR)

Dahlan Iskan tidak butuh waktu lama untuk menulis. Tak sampai satu jam Pak Bos sudah menyelesaikan tulisan panjang untuk halaman satu JAWA POS.

“Sudah, silakan dilihat, silakan diedit. Jangan lupa kasih judul,” begitu kata-kata khas Dahlan Iskan usai membuat tulisan.

Dahlan tidak pernah membaca ulang, apalagi mengubah kalimat-kalimatnya. Sekali menulis, selesai, dan selanjutnya urusan redaktur untuk mengecek salah ketik dan sebagainya. Dimuat atau tidak, urusan redaksi.

Manufacturing Hope 60 - Dahlan Iskan


Mulai pencurian teknologi sampai cara mengemudi
Ini mirip istilah “sengsara membawa nikmat”. Kecelakaan ini, meski menimbulkan kebisingan, benar-benar memberi pelajaran berharga.
Selama ini, secara ilmiah, memang terjadi perbedaan pandangan antara lima putra petir yang menciptakan kendaraan/mobil listrik yang saya koordinasikan. Perbedaan pandangan seperti itu juga terjadi di luar negeri.
Ada yang berpandangan, mobil listrik tidak perlu menggunakan gear box. Untuk itu, power dari motor listrik langsung menggerakkan gardan/roda.
Tapi ahli kita seperti Ir Dasep Ahmadi MSc (alumni ITB), berpendapat mobil listrik harus menggunakan gear box. Ricky Elson, putra Padang yang melahirkan 14 paten motor listrik di Jepang, termasuk golongan ini. Demikian juga Ravi Desai (alumni Gujarat). Mereka setuju tidak harus memakai gear box, tapi harus hanya untuk mobil dalam kota (city car).
Kecelakaan mobil Tucuxi (baca: tukusi, nama sejenis lumba-lumba) yang saya kemudikan di dataran tinggi Tawangmangu-Sarangan Sabtu pekan lalu, memberi pelajaran sangat penting mengenai pilihan-pilihan tersebut.
Saya memang tidak ingin menyatukan pendapat mereka. Ilmuwan perlu diberi kebebasan mewujudkan ambisi keilmuannya, apalagi saya menangkap sinyal para ahli kita memang ingin membuktikan kehebatannya. Saya sangat menghargai itu. Saya memilih memberi otonomi luas kepada mereka.
Karena itu ketika Kang Dasep menciptakan mobil AhmaDI dengan gear box, saya dukung penuh. Dana talangan langsung saya kirim. Ketika mobil hijau itu jadi kenyataan, saya langsung mencobanya.
Sebenarnya, awalnya, saya dan Kang Dasep menanggung malu: begitu tiba di Jalan Thamrin Jakarta (dari Depok), mobil AhmaDI “mogok”. Media meliputnya secara besar-besaran.
Saya malu sekali, tapi saya meminta Kang Dasep tak menyerah. Setelah dianalisis, ternyata mobil itu tidak rusak, melainkan low batt. Indikator baterainya kurang sempurna sehingga “menipu”.
Minggu berikutnya kami berdua masih menanggung malu: mobil listrik itu tidak kuat menaiki tanjakan yang tidak terjal. Padahal ini diliput langsung media secara luas.
Sekali lagi saya minta Kang Dasep untuk tidak patah semangat.
Sebetulnya masih banyak “malu” yang lain. Tapi biarlah itu hanya kami berdua yang merasakan.
Tiga bulan kemudian, ketika mobil AhmaDI kian sempurna, rasa malu itu berubah menjadi bangga. Putra bangsa kita bisa menciptakan mobil listrik. Saya pun mencobanya secara sungguh-sungguh.
Saya mengemudikan mobil tersebut hampir setiap hari hingga mencapai 1.000 km. Kang Dasep sendiri, di luar 1.000 km yang saya lakukan, mencobanya dari Bandung ke Jakarta melalui Puncak. Tidak ada masalah sama sekali.
Tanjakan yang terjal dan turunan yang curam dilewati dengan mudah. Kang Dasep dengan ketekunan dan kecerdasannya boleh dikata berhasil gemilang.
Setelah itu saya meminta Kang Dasep membuat mobil listrik jenis yang lebih besar. Sebesar Alphard. Tiga bulan lagi, insya Allah, sudah bisa dilihat. Saya sudah setuju membiayainya. Bahkan sudah meminta Kang Dasep membuatkan bus listrik.
Seminggu setelah mobil AhmaDI selesai dicoba sampai 1.000 km, mobil Tucuxi bikinan Mas Danet Suryatama (alumni AS) selesai dibuat. Saya pun bertekad mencobanya dengan sungguh-sungguh sampai 1.000 km.
Begitu tiba di Jakarta 19 Desember lalu, mobil Tucuxi (semula saya usul namanya Gundala, tapi mas Danet memutuskan nama ini) saya coba dari Pancoran ke Bandara Soekarno-Hatta.
Mas Danet mendampingi saya. Sepanjang perjalanan sekitar 30 km itu saya merasakan apa saja yang menjadi kelebihannya dan apa saja kekurangannya.
Mobil tiba di Cengkareng dengan kebanggaan penuh: Mas Danet hebat! Hari pertama ini tidak membawa malu.
Kalau toh ada kekurangannya hanya kami berdua yang tahu. Saya langsung menyampaikan kekurangan-kekurangan itu ke Mas Danet. Saya minta diperbaiki.
Dua hari kemudian Tucuxi saya coba lagi di sekitar Stadion Utama Senayan. Dua jam lamanya. Tucuxi mengelilingi stadion berkali-kali. Beberapa wartawan bergantian mencoba duduk di sebelah saya.
Semua yang menyaksikan terlihat bangga. Putra Indonesia ternyata hebat-hebat.
Beberapa kekurangan memang masih terasa. Tapi tidak mungkin diperbaiki di Jakarta. Maka saya meminta Tucuxi dibawa kembali ke Jogja. Mas Danet lantas menuduh saya melakukan pencurian teknologi. Saya tidak begitu jelas teknologi apa yang saya curi dan untuk apa.
Syukurlah, dalam keterangan pers terbarunya akhir pekan kemarin, Mas Danet tidak lagi menyebut-nyebut soal pencurian teknologi. Yang dipersoalkan tinggal kesalahan cara saya mengemudi dan (menurutnya) saya akan menyingkirkannya.
Setelah diperbaiki, mobil dicoba di sekitar Jogja. Tidak ada masalah. Termasuk sampai Kaliurang. Tapi suasana sudah kurang nyaman akibat isu pencurian teknologi yang sudah meluas.
Saya sendiri saat itu lagi keliling hutan jati milik BUMN di Randublatung, Blora, dan Purwodadi. Saya sedang mendesain pola kemitraan antara Perum Perhutani dan masyarakat miskin sekitar hutan.
Saya bermalam di Semarang. Karena mau pulang ke Magetan, saya harus lewat Solo. Karena itu saya minta Tucuxi disiapkan di Solo. Untuk saya coba lewat medan yang berat.
Ini penting karena uji coba selama ini baru dilakukan di jalan yang datar. Sebagai mobil yang dibuat dengan biaya hampir Rp 3 miliar mobil ini harus dicoba di daerah yang sulit. Terutama melewati jalan yang menanjak. Pikiran saya selalu: bisakah mengatasi tanjakan. Apalagi sampai 1.300 meter seperti di Sarangan. Ricky Elson menemani saya.
Ternyata hebat sekali. Sepanjang jalan saya terus memuji Mas Danet. Luar biasa. Tarikannya, power-ya dan kemampuan menanjaknya hebat sekali. Demikian juga kemampuan baterainya.
Baru ketika jalan mulai menurun dengan sangat tajamnya, dengan belokan-belokan yang berliku, saya mulai was-was. Saya harus menginjak rem sekuat tenaga.
Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi berbeda dari AhmaDI.
Saya tidak segera menyadari kalau Tucuxi ciptaan Mas Danet ini tidak menggunakan gear box. Untuk menahan laju Tucuxi, sepenuhnya hanya menggantungkan pada kekuatan rem. Tidak ada bantuan pengendalian dari gear box!
Tentu saya mencoba untuk sesekali mengendorkan rem agar tidak over heated. Ini juga disinggung dalam keterangan pers terbaru Mas Danet.
Tapi setiap kali rem saya longgarkan mobil langsung melaju, padahal jalan berkelok-kelok dengan jurang dalam di sisinya. Tentu saya tidak berani tidak menginjak rem kuat-kuat. Mungkin, seperti disebut Mas Danet, saya memang salah dalam cara mengemudi seperti itu.
Tapi, mengingat jurang-jurang yang dalam di kawasan itu, saya terus menginjak rem dengan kekuatan kaki sekuat-kuatnya. Untung otot kaki saya lumayan kuat karena setiap hari senam satu jam di Monas.
Tapi bau menyengat akibat rem yang bekerja keras tak tertahankan. Saya memutuskan berhenti. Sekalian mendinginkan rem. Penurunan tajam masih akan panjang dan berliku. Totalnya 15 km. Masih akan sampai di Ngerong.
Waktu berhenti ini, semua orang yang mengerumuni Tucuxi membicarakan soal bau yang menyengat itu. Lantas berfoto-foto di ketinggian lereng gunung Lawu yang indah. Kabut tebal yang menyelimuti jalan dan dataran tinggi itu menambah keindahan pemandangan.
Seandainya waktu istirahat ini dibuat lama, sampai rem dingin, mungkin kecelakaan itu tidak terjadi. Tapi saya terikat janji dengan Dr Fachri Aly yang akan ke kampung saya sore itu. Dan malamnya kami masih akan sholawatan Maulid Nabi dengan Habib Syekh dari Solo di kampung saya itu.
Kami pun segera berangkat lagi. Tucuxi kembali harus menuruni jalan yang curam dan berliku. Kami masih belum menyadari bahwa tanpa bantuan gear box rem akan bekerja sendirian terlalu keras.
Kekuatan kaki saya sepenuhnya untuk menginjak rem sedalam-dalamnya. Bau menyengat kembali menusuk-nusuk hidung.
Ketika akhirnya berhasil mencapai Ngerong saya pun lega. Tidak ada lagi penurunan yang curam dan berkelok. Jalan memang masih akan terus menurun tapi sudah tidak ekstrem.
Justru di saat hati sudah lega itulah saya merasakan rem Tucuxi tidak lengket lagi. Mobil melaju di jalan yang menurun tanpa bisa dihambat oleh rem. Saya coba angkat rem tangan.
Sama saja. Mobil kian kencang. Tidak terkendali. Saya sadar sepenuhnya. Maka saya harus ambil keputusan cepat. Terlambat sedikit akan banyak memakan korban.
Saya segera memutuskan ini: lebih baik saya sendiri yang menjadi korban. Saya lihat ada tebing terjal di kanan jalan. Mumpung tidak ada mobil dari arah berlawanan, saya banting setir mobil itu untuk menabrak tebing itu. Braaak! Mobil hancur.
Tidak ada lagi atap di atas kepala saya. Tapi saya tidak terpelanting. Saya tetap terduduk di belakang setir. Saya raba kepala saya: tidak ada darah. Saya raba muka saya: tidak ada luka. Saya gerakkan kaki-kaki saya: normal. Tidak ada yang terjepit.
Setelah mengucap syukur kepada Allah, saya kembali memuji Mas Danet. Konstruksi mobil ini tidak membuat saya mati terjepit atau menderita luka. Bahkan tergores sedikit pun tidak.
Padahal, seperti kata polisi, kaca-kaca mobil ini bukan kaca fiber yang kalau pecah berubah menjadi kristal. Kaca-kaca ini jenis kaca yang pecahnya membentuk segitiga-segitiga kecil. Allahu Akbar!
Saya pun memperoleh pelajaran luar biasa hebat: pentingnya fungsi gear box. Karena itu, ke depan, masyarakat harus bisa memilih: beli mobil listrik yang pakai gear box atau yang tidak pakai gear box.
Mungkin saya akan menghadapi masalah hukum akibat pelanggaran saya ini. Itu akan saya jalani dengan seikhlas-ikhlasnya.
Tapi pelajaran teknologi tadi akan menyelamatkan banyak orang di masa depan. Saya akan jalani konsekwensi itu, tapi ilmu pengetahuan harus tetap berkembang. Tidak boleh terhenti karena kecelakaan ini.
Mobil listrik harus jaya!
Baik Kang Dasep yang menggunakan gear box maupun Mas Danet yang tidak menggunakan gear box sama-sama hebatnya.
Sama-sama sudah membuktikan dirinya menjadi putra bangsa yang membanggakan. Tucuxi akan dikenang sepanjang sejarah mobil listrik di Indonesia.
Mas Danet akan terus saya dorong untuk proyek berikutnya. Tentu kalau dia terbuka untuk mendiskusikan teknologinya.
Yang penting putra-putra bangsa harus menguasai teknologi mobil listrik. Saya terbuka untuk putra-putra petir yang lain. Mari berlomba untuk kebaikan negeri.
Mumpung negara-negara maju juga baru mulai melakukannya. Kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang kita akan menyesal untuk kedua kalinya.
Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini!
Mobil listrik made in Indonesia harus berjaya! Sekaranglah saatnya Indonesia punya kesempatan bisa bersaing dengan negara maju!
Dahlan Iskan
Menteri BUMN
Sumber: https://www.facebook.com/Catatan.Dahlan.Iskan/posts/10151254014799403, Koran Jawa POS edisi Senin
Follow twitter saya di www.twitter.com/johanhariyanto

One Think One Action

Perjalanan 3 Misi : Album Kenangan, Kerjaan, dan Bacaan

Masih suasana awal tahun. Suasana liburan kuliah khsusunya mahasiswa Psikologi UNS. Juga suasana musim hujan. Senin, 14 Januari 2013 pagi-pagi saya berencana ke Solo. Ada tiga agenda besar saya di solo, pertama, rapat pembuatan album kenangan angkatan. Kedua, survey tempat membeli perkakas untuk jualan. Ketiga, saya ingin membeli buku “Habibie dan Ainun”.

Rencana awal berangkat pukul 8 WIB, tetapi karena dapat sms dari ibu untuk menjemput Chandra, adik kedua saya di playgroup Kartini, Sragen, karena Bapak ada acara mendadak sebelum jam 9 sudah berangkat ke Pati, Jawa Tengah. Saya menunda keberangkatan jadi pukul 10 langsung setelah menjemput Chandra (3 tahun).

Waktu yang seharusnya saya gunakan bersiap-siap untuk segera berangkat, saya pergunakan untuk membersihkan rumah. Saya menyapu setiap bagian rumah. Tidak berat, sama sekali berat. Rumah yang sudah hampir dua tahun kami tempati cukup kecil, bisa dibilang sangat kecil. Ukuran awal 36, kemudian dilebarkan menghabiskan sisa tanah. Bisa dibayangkan betapa sempitnya. Ya. Karena kami tinggal di perumahan yang sederhana. Kompleks perumahan baru di Sragen. Puro Asri II, yang rencananya akan membangun 1000 rumah. Sampai saat ini masih proses pembangunan bersamaan dengan penduduk baru yang sedikit-demi sedikit mengisi rumah di kompleks ini. Tentu rumah milik sendiri, dan ada yang ngontrak.

Kami termasuk penghuni paling lama di kompleks ini. Sehingga ketika ada inisiatif untuk pembentukan RT, bapak terpilih sebagai ketuanya. Padahal keluarga kami sama sekali tidak punya pengalaman di bidang ini. Tetapi dengan terbentuknya pengurus RT, urusan kependudukan sangat terbantu. Pengurusan perpindahan KK hingga mencari bantuan pemerintah untuk pengajuan pemasangan saluran PAM jadi lebih mudah.

Setengah sepuluh saya langsung mandi dan berkemas. Saya cepat-cepat, takut keduluan sekolah selesai sehingga adik ketakutan tidak ada orang yang menjemput.

Ketika saya sampai di sekolah Chandra. Pas sekali saat siswa dipulangkan, atau mungkin tepat ketika siswa boleh keluar dari ruang kelas. Ketika saya turun dari motor, kemudian saya melihat adik baru keluar dari ruang kelas. Dari mimik mukanya dia terlihat bingung melihat saya. Juga sedikit ingin menangis. Mungkin bingung karena yang datang menjemput bukan Bapak, tapi saya kakaknya. Tapi saya langsung mengajak Chandra naik motor terus langsung saya antarkan ke kantor, ibu sudah menunggu di sana.

Sekarang saya jarang mengunjungi kos-an. Terlebih setelah kuliah semester ganjil berakhir. Saya selesai semester 7. Hampir satu minggu saya tidak ke kos. Walaupun musim libur tetapi kos-kosan tetap ramai. Maklum, kosan ini besar. Tidak hanya ditinggali oleh mahasiswa saja. Tetapi ada juga dari siswa dan pekerja. Juga dari berbagai daerah asal tempat tinggalnya. Sampai di kos saya ketemu dengan Python yang kebetulan juga baru sampai. Teman satu kampus satu angkatan satu kelas satu kos satu lantai ini memang sangat rajin ke Solo. Tidak libur tidak kuliah dia selalu ada di Kos.

Baru sebentar duduk, belum sempat membereskan kamar yang view-nya kurang bagus, berantakan. Perut saya sudah mulai berdemo, padahal baru jam 7 pagi tadi sarapan.
Saya merasa beberapa hari ini perut mudah lapar. Tepatnya setelah berobat ke RS Sarila karena maag saya kambuh. Mungkin efek dari obat agar maag saya cepat pulih jadi obat memaks untuk sering-sering makan. Tapi saya merasa ini terlalu keseringan, jeda waktunya sangat singkat. Baru sebentar makan sudah lapar lagi.

Kebetulan teman saya Riki sedang makan di Hik-hikan tempat biasa kami makan, dekat stasiun Jebres, Surakarta. Saya langsung tancap gas ke sana. Sebelum pulang saya membungkus beberapa gorengan kesukaan. Ada ubi goreng, pisang goreng, dan juga tahu goreng yang juga gorengan kesukaan presiden kita SBY. Saya minta plastik sama pakdhe Karyo, bapak penjual hik itu. Saya bungkus dengan plastik bening untuk pembungkus es teh, kemudian saya rangkap dengan plastik kresek hitam. Ini dilakukan agar plastik hitam tidak terkena gorengan langsung. Bahaya zat kimia yang terkandung pada plastik hitam dapat melunturi gorengan. Sesuai anjuran dari ketua BPOM, Husniah Rubiana Thamrin Akib agar tidak menggunakan plastik kresek hitam sebagai wadah makanan. Akan berpengaruh pada kesehatan jangka panjang. Bahkan bisa beresiko menimbulkan kanker dan kerusakan ginjal.

Sesuai janji, setelah salat duhur, saya berangkat ke kampus. Saya hampiri Riki, karena sekalian setelah rapat kami langsung survey tempat toko perkakas untuk jualan makanan.
Saya tidak suka terlambat. Kalau pukul 1 janjiannya, maka pukul 1 sebisa mungkin saya sudah ada di tempat. Di kampus saya melihat teman-teman mahasiwa, kebanyakan angkatan akhir, kami sebut dengan angkatan tua, terutama angkatan 2009. Saya kagum teman-teman sangat rajin datang ke kampus walaupun waktu libur, punya semangat tinggi untuk cepat menyelesaikan skripsi . Di perpustakaan mencari referensi judul dan buku. Saling berdiskusi dari judul, pembimbing, sampai landasan teori. Di depan ruang dosen, antri menghadap bu Rin untuk konsultasi judul yang akan diajukan. Di parkiran dan di dalam ruang himapsi teman-teman dengan laptop sendiri-sendiri di hadapannya sedang berkoneksi dengan internet mencari referensi jurnal-jurnal ilmiah yang sesuai dengan tema/judul skripsi yang di minati.

Di kursi duduk depan TU saya dan Riki menunggu Inug dan Ratna, teman janjian rapat album angkatan. Inug sedang makan di warung “Sederhana” sebrang kampus. Warung makan biasanya saya dan teman-teman cowok angkatan 2009 makan saat kuliah. Warung yang cukup nyaman untuk mengobrol, jajanan warung yang enak, terutama mendoannya, dan kepala ayam gorengnya yang jadi rebutan, tempat bergosip juga. Sementara Ratna juga masih perjalanan ke kampus.

Setelah kami berempat berkumpul, kami membahas apa saja yang dibutuhkan dalam membuat album kenangan angkatan. Kami sepakat untuk menggunakan jasa photografer profesional untuk pengambilan gambar sampai album dicetak. Dari informasi yang Ratna dapat, perkiraan untuk membuat album kenangan harga bisa sampai130 ribuan. Jika bisa kami minta agar harga hanya 100 ribu saja.

Dari situ kami melanjutkan untuk membahas konsep. Kebetulan Inug membawa album kenangan waktu dia SMA. Abum itu bisa menjadi gambaran, bisa diambil konsep yang menarik. Kami memutuskan menggunakan konsep “picnic and fun”. Untuk foto utama kami membagi menjadi 15 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5 orang. Kelompok ini panitia yang membagi. Jadi semua mahasiswa dari angkatan 2009 bisa masuk semua. Dan tidak ada yang merasa diasingkan. 15 kelompok berarti juga 15 lembar halaman untuk bagian foto utama. Rencananya foto utama akan diambil di daerah Kemuning, Ngargoyoso dan sekitarnya. Seperti kebun teh Kemuning, Cafe Dorodonker, Hutan Raya Sukuh, Setiawan Jodi, dan lainnya. Sesuai dengan tema “Picnic and Fun”.

Pembahasan dilanjutkan dari prolog yang diisi dengan sejarah perjalanan angkatan 2009 dari kampus Tirtomoyo, RK 3 FK kampus pusat, Kentingan, sampai ke kampus Mesen yang kami tempati sekarang, mungkin sampai lulus nanti. Kemudian bagian testimoni yang akan mengisi siapa saja agar semua bagian dari warga kampus dapat terwakili memberikan pesan kepada kami angkatan 2009 yang akan segera lulus. Ada juga bagian award angkatan, kami menyebutnya bagian “ter-ter-an”, bagian ini sebenarnya untuk seru-seruan saja. Kami akan membuat nominasi dan memvote-nya lewat facebook. Kami juga tak lupa memberikan apresiasi bagi teman-teman angktan 2009 yang pindah kuliah. Bagian ini kami beri nama “Dear Gone”. Selesai juga akhirnya, kami pada epilog. Kebetulan selesai, cuaca mendung, tanda segera hujan. Kami sepakat seminggu lagi bertemu lagi untuk mengunpulkan materi dan membahas langkah selanjutnya. Kami berpisah, saya melanjutkan misi.

Sebelumnya ketika menunggu Inug dan Ratna saya bertanya-tanya sama Riki dan Anjar, putra dari Bu Warno, Ibu penjaga kantin kampus. Saya bertanya tempat biasa ibunya membeli kebutuhan untuk jualan. Dari informasi itu saya langsung mencarinya berboncengan dengan Riki menggunakan motor yang saya pinjam dari Bapak. Daerahnya berada di sekitar pasar Gedhe. Setelah tahu tempatnya yang terlihat sangat ramai. Kami langsung pulang. Saya tidak mengantarkan Riki langsung ke kosnya. Tapi kami ke kos Python.

Ternyata setelah Python pergi badminton, hujan justru turun deras. Kami tetap di kamar kos-an saya karena belum juga berhenti sampai waktu isya. Baru setelah jamaah isya di masjid Al Hakim di dekat kos, kami pergi belanja ke As-Gross di belakang kampus walaupun sebenarnya hujan juga belum berhenti.

Dari As-Gross saya mengantarkan Riki pulang ke kosnya. Hujan masih turun walaupun sudah tidak deras lagi. Sudah hampir pukul 8 malam, tapi hati masih mengganjal. Segera saya mengambil keputusan, setelah mengantar Riki, sesuai rencana, saya pergi ke togamas. Perjalanan cukup jauh, ditambah dengan hujan yang mengguyur cukup mampu membasahi jaket dan celana yang tidak menggunakan mantel hujan.

Kenapa saya tetap hujan-hujanan demi ke togamas? Karena ini sudah menjadi prinsip, bahwa setiap niat harus saya kerjakan. One think one action. Itu prinsip yang saya pegang sungguh-sungguh.

Alhamdulillah togamas masih buka. Terlihat parkiran sepi. Bukan karena sudah mau tutup, atau saya kemalaman, tapi karena hujan. Benar dalam hati, jaket saya basah. Saya titipkan tas dan jaket. Saya masuk togamas, cukup sepi, apalagi lantai 2. Hanya dua-tiga orang yang saya lihat di sana. Saya pilih-pilih buku sambil berpikir keras jadi membeli buku Habibie dan Ainun atau tidak. Hati kuat untuk membeli, tapi logika menghambat karena harga 72 ribu mahal bagi saya. Berdasarkan prinsip saya harus membeli. Maka tidak berpikir lama lagi, saya mengambil buku dan mengabaikan buku lain yang tak jauh menarik perhatian dan keinginan untuk membelinya. Saya buat prioritas. Semoga pilihan saya tepat. Saya ke bawah bayar ke kasir dan langsung balik ke kos.

Cukup sudah rencana saya hari itu. Terpenuhi semua. Alhamdulillah. Hampir batal membeli buku di togamas karena hujan dan sudah kemalaman. Tapi niat kuat saya tetap melangkahkan kaki menerjang halangan itu. Hawa dingin begitu saya rasakan ketika sampai kos-an. Jaket dan celana jeans saya lepas. Bad cover langsung saya selimutkan menutupi seluruh badan. Saya menyalakan laptop agar tidak mengantuk. Tapi kenyataan sering berbeda dengan niatan. Saya tertidur ditemani tayangan mario teguh hasil download dari youtube. Padahal pukul 9 saya punya rencana kumpul dengan teman-teman. Saya pikir diakhir-akhir masa kuliah, kami butuh sering berkumpul. Tapi apa boleh buat saya justru terlelap. Pukul 2 malam baru terbangun. Saya gosok gigi, shalat malam dan lanjut tidur lagi.

Pagi 6.30 pagi saya bangun dan langsung bersiap diri pulang ke Sragen. Memang niat sebelum berangkat hanya bermalam satu malam di Solo. Kemudian paginya langsung pulang.

Saya berencana seminggu sekali mengunjungi Solo. Mengunjungi kos, pacar dan kampus. Perjalanan saya kali ini alhamdulillah menyenangkan. Motif dan misi saya terlampaui semua. See u next notes :)

Keep Fighting!!! Learn, Action, and Share

Follow twitter saya di www.twitter.com/johanhariyanto

Pelajaran berharga dari QS 5 ayat 27-32 malam ini :)

Hasil dari ngaji ba'da maghrib. Baca surat Al Maidah ayat 27-32. Check this:

#1 Janganlah iri terhadap apa yg tidak mampu diupayakan. *lihat Habil-Qabil
#2 Meningkatkan Iman dan Taqwa. Karena hanya yg bertaqwa yg diterima di sisi Nya
#3 Takut hanya kepada Nya. *Lihat Habil tdk melawan Qabil ketika hendak dibunuh
#4 Rendah hati. Mau belajar dari yg lebih rendah pengetahuannya. Dan mengambil pelajaran dari keadaan sekitar. *Qabil belajar dr gagak
#5 Segera menyesali (tobat) kesalahan yg diperbuat.
#6 Tidak menyakiti orang lain. Karena menyakiti seseorang berarti jg menyakiti seluruh manusia dan keturunannya.
#7 Suka berbuat kebaikan. Karena memelihara seorang manusia berarti memelihara seluruh manusia.

semoga bermanfaat :)
Keep fighting!!! Learn, Action, and Share

https://twitter.com/johanhariyanto

Up